Selasa, 18 Maret 2025 09:12 WIB

Penting Tidur Berkualitas, Jaga Kesehatan Fisik dan Mental

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
46

Padang (17/03) - Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil bersama Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil mengadakan penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan kali ini membahas tentang Kesehatan Tidur yang disampaikan dr. Putri Sari Ivanny, Sp.THT-BKL.

"Ketika sibuk dengan tugas sehari-hari dan rutinitas yang padat, tidur sering kali menjadi yang pertama dikorbankan. Banyak dari kita menganggapnya sebagai waktu yang dapat dipotong untuk memberikan lebih banyak waktu bagi pekerjaan atau hiburan. Namun, apa yang sering diabaikan adalah bahwa tidur yang cukup adalah bagian integral dari kesehatan dan kesejahteraan kita," kata dr. Putri Sari Ivanny, Sp.THT-BKL saat penyuluhan di Klinik THT-KL Lantai 3 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Ia mengatakan tidur berkualitas itu sangat penting. "Tidur berkualitas dapat memperkuat sistem imun, meningkatkan fungsi kognitif dan emosional, memperbaiki kondisi fisik dan menjaga kesehatan jantung dan metabolisme," tuturnya.

Istri Sekko Padang ini menjelaskan tidur yang cukup memiliki dampak langsung pada kesehatan fisik. Pertama meningkatkan sistem kekebalan tubuh: tidur yang cukup membantu tubuh melawan infeksi. Kedua, pemulihan otot dan jaringan: tidur mendukung perbaikan sel dan pemulihan setelah aktivitas fisik. "Ketiga, pengaturan berat badan: tidur membantu mengatur hormon lapar," sebutnya.

Tidur yang cukup, tuturnya, membantu kesehatan mental. Pertama, mengurangi stres dan depresi: tidur yang cukup membantu menstabilkan emosi dan suasana hati. Kedua keseimbangan emosional: kurang tidur dapat menyebabkan suasana hati yang tidak stabil.

"Tidur yang cukup juga berdampak pada fungsi otak. Pertama, meningkatkan konsentrasi: tidur yang cukup membantu meningkatkan fokus dan produktivitas, kedua memori lebih baik: tidur mendukung konsolidasi memori dan pembelajara. Terakhir menurunkan risiko demensia: tidur yang baik dapat melindungi otak dari degenerasi," paparnya.

Vanny menjelaskan durasi tidur yang ideal  berbeda-beda tergantung pada usia. Bagi dewasa 7-9 jam, remaja 8-10 jam serta anak-anak 9-12 jam. "Strategi untuk meningkatkan kesehatan tidur adalah menjaga pola tidur yang teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, menghindari stimulan sebelum tidur. Melakukan relaksasi sebelum tidur dan mengelola stres dengan baik," ucap Vanny.

Ia mengatakan faktor yang mempengaruhi kesehatan tidur. Yakni faktor lingkungan berupa kebisingan, suhu, pencahayaan dan kenyamanan tempat tidur.

Kemudian, faktor gaya hidup berupa pola makan, konsumsi kafein atau alkohol dan aktivitas fisik. Faktor psikologis berupa stres kecemasan, dan gangguan suasana hati. "Dan faktor medis berupa penyakit kronis, nyeri, dan gangguan tidur seperti insomnia atau sleep apnea," ucapnya.

Ia mengatakan dampak gangguan tidur terhadap kesehatan yakni peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik, penruunan fungsi kognitif dan daya ingat. "Kemudian gangguan kesehatan mental (depresi dan kecemasan) serta gangguan imunologi," sebutnya.

Gangguan tidur yang umum, sebut Vanny, yakni insomnia adalah kondisi ketika seseorang kesulitan untuk tidur atau sering terbangun pada malam hari dan tidak bisa tidur kembali. Disebabkan oleh stres, kecemasan, depresi, gangguan fisik seperti nyeri tubuh atau masalah pencernaan, kebiasaan tidur yang buruk seperti terlalu banyak konsumsi kafein atau terlalu banyak menggunakan gadget sebelum tidur.

"Gejala insomnia ini adalah kesulitan untuk tidur meskipun lelah, terbangun terlalu pagi atau sering terbangun saat tidur dan merasa lelah atau kurang energi sepanjang hari," sebutnya.

Untuk mengatasi insomnia ini, tuturnya, tetapkan rutinitas tidur, ciptakan lingkungan yang tidur yang nyaman. "Kemudian kurangi stres," ucapnya.

Selain insomnia, ungkap Vanny, gangguan tidur lainnya sleep apne. Adalah kondisi dimana pernapasan seseorang berhenti sementara saat tidur. Penyebabnya obesitas, kelainan fisik di saluran pernapasan (pembesaran amandel atau adenoid) serta faktor genetik atau masalah fisik lainnya yang menghalangi saluran pernapasan.

"Gejala sleep apnea ini yakni mendengkur keras bahkan terhenti sejenak. Terbangun dengan perasaan lelah meskipun sudah tidur cukup lama serta sering mengantuk di siang hari atau kelelahan yang berlebihan," ujarnya seraya mengatakan mengatasinya dengan penurunan berat badan, penggunaan CPAP dan perubahan gaya hidup.(*)