Selasa, 25 Maret 2025 13:40 WIB

Edukasi Pasien dan Keluarga, Nyeri Kepala Klaster

Responsive image
Mega Fitri Yuniarsih - RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr.dr.Mahar Mardjono Jakarta
28

Jakarta (25/03) – Dalam rangka penyuluhan edukasi kesehatan rutin dari Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan Edukasi Pasien dan Keluarga, Nyeri Kepala Klaster yang dilaksanakan secara hybrid dari Poli Reguler lantai 2 serta Live melalui Instagram dan Youtube.

Acara ini dipandu oleh dr. Gebi Ruth Santa Tobing dengan menghadirkan narasumber dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yaitu dr. Andre Dharmawan Wijono, Sp.N. Dalam penyampaian materinya, dr. Andre menjelaskan tentang Klasifikasi Nyeri Kepala dimana Nyeri Kepala Klaster termasuk dalam jenis nyeri kepala Primer (Trigeminal Autonomic Cephalgias) dimana definisi dari nyeri kepala ini adalah nyeri kepala di satu sisi di area orbita, supraorbital, temporal dengan durasi 15-180 menit, biasanya nyeri ini terasa sakit tak tertandingi dan belum pernah dialami sebelumnya oleh pasien. Nyeri Kepala Klaster ini seringkali ditemukan lebih banyak pada laki-laki, namun beberapa penelitian menemukan perempuan juga sering mengalami nyeri kepala pada bagian orbita. Penyebab atau faktor resiko secara spesifik belum ditemukan, tetapi yang bisa ditelusuri dari Nyeri Kepala Klaster ini bisa berasal dari riwayat keluarga (kecenderungan genetik), usia (kisaran 21-30 tahun) dan riwayat operasi. Gejala dari rasa nyeri yang muncul di satu sisi ini adalah: Mata merah dan berair, Hidung tersumbat dan pilek, Bengkak pada kelopak mata, Wajah dan dahi berkeringat, Pupil mata melebar atau mengecil, dan Perasaan gelisah karena nyeri.

Jika sudah merasakan gejala-gejala tersebut, dr. Andre menyarankan agar pasien segera ke rumah sakit untuk segera ditangani sebelum rasa nyeri semakin parah. Untuk tatalaksana pencegahan dari Nyeri Kepala Klaster, pasien disarankan untuk istirahat secara teratur, menghindari tidur di sore hari, menghindari alkohol, membatasi keterpaparan terhadap zat volatile: gasoline, berhati-hati bila berada di tempat ketinggian, menghindari produk tembakau, menghindari sinar terang dan suara gaduh. Diharapkan dari adanya acara edukasi ini, dapat meningkatkan pemahaman pasien dan masyarakat tentang Nyeri Kepala Klaster.