RSAB Harapan Kita Gelar Proctorship Bedah Kolostomi Neonatus di RSUD dr Slamet Garut Bantu Tekan Angka Kematian Bayi
Garut – Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita mengadakan kegiatan pendampingan klinis (proctorship) bedah anak di RSUD dr. Slamet, Kabupaten Garut. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kompetensi layanan tindakan bedah kolostomi untuk neonatus yang mengidap malformasi anorektal, khususnya atresia ani.
Direktur Utama RSUD dr. Slamet Garut, dr. Inge Andriani Heriawan, M.Si., MKM, menyampaikan apresiasi atas program pendampingan ini. Bantuan ini dinilai sangat krusial mengingat tingginya angka temuan kasus kelainan kongenital di Kabupaten Garut. Berdasarkan data RSUD dr. Slamet, terdapat 18 kasus kelainan kongenital pada tahun 2025 dan 11 kasus hingga Agustus 2026, dengan sekitar 10 pasien di antaranya harus dirujuk.
"Untuk penanganan emergency-nya kami sudah lakukan di sini, namun untuk layanan selanjutnya mungkin belum dapat kami lakukan. Mudah-mudahan dengan diawali dengan proctoring ini selanjutnya kami bisa melakukan hal yang lebih lagi, khususnya untuk masyarakat Garut," ungkap dr. Inge.
Lebih lanjut, dr. Inge menyoroti bahwa Kabupaten Garut masih menjadi salah satu wilayah dengan fokus perhatian tinggi karena menduduki peringkat ketiga di Jawa Barat dalam penyumbang Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Saat ini, tercatat jumlah kematian bayi di wilayah tersebut mencapai 113 kasus, di mana kelainan bawaan atau kongenital menyumbang sekitar 10 persen dari angka kematian tersebut.
Perwakilan tim bedah RSAB Harapan Kita, dr. Alexandra, Sp.B.A., Subsp.B.D.A. (K), menjelaskan bahwa edukasi tindakan kolostomi untuk kasus bayi tanpa lubang anus (atresia ani) dipilih karena kelainannya lebih mudah dideteksi secara fisik dari luar. Penanganan bedah awal untuk kasus ini juga dinilai paling memungkinkan untuk dieksekusi di fasilitas RSUD sebelum pasien dirujuk ke pusat layanan tersier.
Guna memastikan transfer keilmuan berjalan komprehensif, RSAB Harapan Kita membawa tim medis yang lengkap. Tim tersebut terdiri dari spesialis anestesi, perawat ruang operasi (OK), perawat penata anestesi, hingga kehadiran dr. Daulika yang berfokus memberikan bimbingan mengenai manajemen perawatan pasien.
Melalui kegiatan ini, tim bedah RSAB Harapan Kita juga membuka ruang komunikasi lintas rumah sakit yang lebih intensif. "Ke depannya diharapkan kasus-kasus yang simpel atresia ani bisa dikerjakan di sini. Kalaupun misalnya sulit nanti bisa kontak ke tim kami di Harapan Kita, apakah bisa via Zoom," jelas dr. Alexandra. RSAB Harapan Kita berkomitmen untuk memfasilitasi konsultasi jarak jauh guna mendiskusikan stabilisasi pasien di daerah sebelum proses rujukan dilakukan.
Kegiatan proctorship dari RSAB Harapan Kita ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan tenaga medis di Garut. Upaya ini sejalan dengan rencana jangka panjang Pemerintah Kabupaten Garut yang saat ini tengah memperbaiki Instalasi Bedah Sentral (IBS) secara bertahap dan menargetkan pengajuan pembangunan "Tower KIA" pada tahun 2027–2028 demi menunjang fasilitas kesehatan untuk 2,8 juta warganya. ***