Optimalisasi ICU Baru RS M Djamil Evaluasi sebagai Fondasi Kualitas Pelayanan
Padang - Kehadiran ICU baru di lantai 2 Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS M. Djamil bukan sekadar penambahan fasilitas. Lebih dari itu, ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit memperkuat kapasitas pelayanan bagi pasien kritis. Namun, sekitar satu bulan setelah beroperasional, pertanyaan besarnya bukan hanya “apakah tempat tidur sudah terisi?”, melainkan “apakah seluruh sistem pelayanan benar-benar berjalan optimal?”
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, menegaskan bahwa evaluasi awal operasional menjadi langkah penting. Dari situ, rumah sakit dapat melihat kebutuhan, kendala, serta celah perbaikan—baik dari sisi sarana, alur pelayanan, maupun koordinasi antarunit.
ICU dengan kapasitas 12 tempat tidur ini memang dirancang untuk memberikan ruang perawatan yang lebih terpisah melalui sistem kubikel pada enam tempat tidurnya. Fasilitas ini diharapkan tidak hanya mendukung penanganan pasien kritis, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan keamanan selama perawatan.
Namun, bagi Dovy, pelayanan intensif tidak bisa direduksi menjadi persoalan penyediaan tempat tidur. Ada dimensi yang lebih mendasar: kesiapan tenaga kesehatan, peralatan, monitoring pasien, hingga koordinasi lintas unit. Semua elemen itu harus saling mendukung.
“Kita tidak hanya melihat apakah tempat tidur sudah terisi atau belum, tetapi juga bagaimana alur pasiennya, bagaimana fasilitasnya digunakan, bagaimana koordinasi antarpetugas dan apa saja yang masih perlu diperbaiki,” ujarnya.
Pandangan ini menempatkan evaluasi bukan sebagai seremoni kunjungan semata, melainkan sebagai bagian dari budaya perbaikan berkelanjutan. Setiap fasilitas yang telah dibangun dan dioperasionalkan perlu terus dipantau, didengar masukannya, dan disempurnakan bila perlu.
Yang dikejar pun bukan sekadar penambahan kapasitas. Harapan besarnya adalah peningkatan kualitas pelayanan secara menyeluruh. Fasilitas boleh baru, tetapi tanpa sistem yang terintegrasi dan SDM yang siap, manfaatnya tidak akan maksimal.
Dengan demikian, ICU baru di RS M. Djamil dapat dibaca sebagai cermin bagaimana sebuah rumah sakit menempatkan evaluasi, kolaborasi, dan kualitas sebagai prioritas—bukan hanya saat diresmikan, tetapi sepanjang fasilitas itu digunakan untuk melayani pasien kritis. ***