Rabu, 07 Oktober 2026 18:24 WIB

RS M Djamil dan PDSKJ Sumbar Edukasi Kesehatan Jiwa di Puskesmas Lubukbuaya

RS M Djamil dan PDSKJ Sumbar Edukasi Kesehatan Jiwa di Puskesmas Lubukbuaya
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 23 kali dilihat

Padang - Ketika masalah kesehatan jiwa masih kerap disembunyikan karena stigma, RS M. Djamil bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) Cabang Sumatera Barat memilih membuka ruang untuk mendengar. Melalui pengabdian masyarakat di Puskesmas Lubukbuaya, Rabu, 7 Oktober 2026, masyarakat diajak mengenali tanda awal masalah kesehatan jiwa, berani mencari pertolongan, dan memahami bahwa kesehatan jiwa adalah bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tersebut mengusung tema “Dari Suara Menjadi Kepedulian: Meningkatkan Literasi dan Akses Layanan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas di Kota Padang”. Kegiatan diikuti peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Puskesmas Lubukbuaya.

Edukasi kesehatan jiwa disampaikan oleh dr. Eldi Sauma, Sp.KJ melalui materi bertajuk “Didengar, Dipahami, dan Dibantu: Mengenali Masalah Kesehatan Jiwa dan Mencari Pertolongan”. Materi tersebut menekankan pentingnya kemampuan mengenali perubahan kondisi psikologis, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun orang-orang di lingkungan sekitar.

Persoalan kesehatan jiwa tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Gangguan tidur, perubahan suasana hati, kecemasan yang berlebihan, kehilangan minat terhadap aktivitas, sulit berkonsentrasi, hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Karena itu, pemahaman masyarakat menjadi penting agar seseorang tidak terlambat mendapatkan dukungan maupun pertolongan profesional.

Di sisi lain, stigma masih menjadi salah satu tantangan dalam upaya penanganan masalah kesehatan jiwa. Kekhawatiran akan dianggap lemah, takut mendapatkan penilaian negatif, atau merasa malu untuk bercerita sering kali membuat seseorang memilih memendam persoalan yang dihadapi.

Melalui edukasi tersebut, peserta diajak membangun pemahaman bahwa mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, keberanian untuk berbicara mengenai kondisi yang dirasakan merupakan langkah penting untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.

Psikiatri RS M. Djamil, Dr. dr. Rini Gusya Liza, M.Ked., Sp.KJ mengatakan kegiatan pengabdian masyarakat tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa.

“Kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema ‘Dari Suara Menjadi Kepedulian: Meningkatkan Literasi dan Akses Layanan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas di Kota Padang’ ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa,” ujar Dr. dr. Rini.

Ia menjelaskan, peningkatan literasi kesehatan jiwa di masyarakat diperlukan agar masyarakat mampu mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan jiwa, memahami pentingnya mencari bantuan, serta mengetahui akses layanan yang dapat dimanfaatkan.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi, membantu masyarakat mengenali tanda awal masalah kesehatan jiwa, mengurangi stigma, serta meningkatkan pengetahuan mengenai akses dan pemanfaatan layanan kesehatan jiwa melalui penguatan jejaring lintas profesi dan masyarakat,” katanya.

Menurut Dr. dr. Rini, kesehatan jiwa membutuhkan pendekatan yang dilakukan secara bersama-sama. Rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan, organisasi profesi, pemerintah, akademisi, keluarga, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Pendekatan berbasis komunitas menjadi penting karena masyarakat merupakan lingkungan terdekat tempat seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika lingkungan mampu mengenali tanda-tanda masalah kesehatan jiwa dan memberikan dukungan yang tepat, seseorang akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pertolongan sedini mungkin.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat upaya promotif dan preventif kesehatan mental, meningkatkan literasi masyarakat, serta mendorong terciptanya lingkungan kerja yang sehat secara mental melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan organisasi profesi,” tutur Dr. dr. Rini.

Ia menambahkan, penguatan jejaring juga diperlukan agar layanan kesehatan jiwa tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika masalah sudah berkembang. “Tetapi juga mampu mendorong upaya pencegahan dan deteksi dini di tengah masyarakat,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta Prolanis Puskesmas Lubukbuaya juga mendapatkan kesempatan mengikuti konseling dan skrining kesehatan jiwa. Layanan ini menjadi bagian penting dari kegiatan karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenali kondisi kesehatan jiwanya sekaligus memperoleh informasi tentang langkah yang dapat dilakukan apabila membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Kepala Puskesmas Lubukbuaya, dr. Muhammad Fardhan, M.K.M., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat tersebut. Kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi dan puskesmas ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman tentang kesehatan jiwa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada RS M. Djamil dan PDSKJ Cabang Sumatera Barat yang telah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Puskesmas Lubukbuaya. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap kesehatan jiwa,” ujar dr. Muhammad Fardhan.

Ia menilai, keberadaan layanan kesehatan jiwa di tingkat fasilitas kesehatan primer memiliki peran strategis karena puskesmas merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. “Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan kolaborasi antara Puskesmas Lubukbuaya dengan RS M. Djamil serta PDSKJ Sumatera Barat dapat terus berlanjut. Dengan begitu, edukasi dan pelayanan kesehatan jiwa dapat semakin dekat dengan masyarakat,” katanya.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta tidak hanya mengikuti edukasi yang diberikan, tetapi juga berkesempatan menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi tentang berbagai persoalan kesehatan jiwa yang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap kesehatan jiwa dapat dimulai dari hal sederhana, yakni mau mendengar. Ketika seseorang berani menyampaikan apa yang dirasakan, lingkungan memiliki kesempatan untuk memahami dan memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Pesan tersebut sejalan dengan tema yang diusung dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Dari suara yang disampaikan, diharapkan tumbuh kepedulian. Dari kepedulian, muncul keberanian untuk mencari pertolongan. Dan dari akses layanan yang semakin dekat, masyarakat diharapkan mampu mendapatkan penanganan secara lebih cepat dan tepat. ***