Senin, 07 September 2026 14:21 WIB

Waspadai Serangan Glaukoma Akut

Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Waspadai Serangan Glaukoma Akut
17 kali dilihat

Glaukoma merupakan kelompok penyakit mata yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saraf optik dan berujung pada kehilangan penglihatan. Saraf optik memiliki peran penting dalam penglihatan karena bertugas meneruskan informasi visual dari mata ke otak. Ketika saraf ini mengalami kerusakan, kemampuan melihat dapat menurun secara bertahap dan kerusakan yang telah terjadi tidak dapat dikembalikan seperti semula.

Salah satu faktor yang berkaitan erat dengan glaukoma adalah tekanan intraokular (TIO), yaitu tekanan cairan di dalam bola mata. Tekanan mata yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko kerusakan saraf optik. Namun, glaukoma tidak selalu disertai tekanan mata yang tinggi. Kerusakan saraf optik juga dapat terjadi pada seseorang dengan tekanan intraokular yang berada dalam kisaran normal. Karena itu, pemeriksaan glaukoma tidak cukup hanya dengan mengukur tekanan bola mata. Kondisi saraf optik, lapangan pandang, dan struktur bagian depan mata juga perlu dinilai oleh dokter.

Glaukoma sering berkembang tanpa keluhan yang jelas pada tahap awal. Penderita dapat tetap merasa penglihatannya normal meskipun kerusakan saraf optik sudah mulai terjadi. Kondisi inilah yang membuat glaukoma dikenal sebagai “pencuri penglihatan”.

Semakin dini glaukoma ditemukan, semakin besar peluang untuk mempertahankan fungsi penglihatan yang masih ada. Oleh sebab itu, pemeriksaan mata secara berkala sangat penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.

Mengenal Jenis-jenis Glaukoma

Glaukoma dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa karakteristik.

Berdasarkan kondisi sudut bilik mata, glaukoma secara umum dibedakan menjadi :

  • Glaukoma sudut terbuka, yaitu kondisi ketika sudut drainase cairan mata tetap terbuka, tetapi aliran keluar cairan tidak berlangsung secara optimal. Jenis ini umumnya berkembang perlahan dan pada awalnya sering tidak menimbulkan gejala.
  • Glaukoma sudut tertutup, yaitu kondisi ketika sudut drainase menyempit atau tertutup sehingga aliran cairan mata dapat terganggu. Kondisi ini dapat berlangsung perlahan maupun terjadi secara tiba-tiba sebagai serangan akut.

Berdasarkan penyebabnya, glaukoma dapat berupa :

  • Glaukoma primer, yaitu glaukoma yang tidak disebabkan oleh penyakit atau kondisi mata lain yang mendasari.
  • Glaukoma sekunder, yaitu glaukoma yang berkaitan dengan kondisi lain, seperti peradangan mata, cedera, penggunaan obat tertentu, atau gangguan mata lainnya.

Glaukoma juga dapat berlangsung secara kronis dengan perkembangan bertahap atau muncul secara akut dengan peningkatan tekanan mata yang terjadi secara cepat.

Apa yang Menyebabkan Glaukoma?

Di dalam mata terdapat cairan yang disebut aqueous humor. Cairan ini terus diproduksi dan dialirkan keluar melalui sistem drainase mata. Apabila aliran keluarnya terganggu, cairan dapat menumpuk sehingga tekanan intraokular meningkat.

Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan terjadinya glaukoma antara lain :

  • Gangguan pada sistem drainase cairan mata.
  • Penyempitan atau penutupan sudut bilik mata.
  • Cedera atau trauma pada mata.
  • Peradangan di dalam mata, seperti uveitis.
  • Gangguan pembuluh darah pada mata.
  • Kelainan atau kondisi yang menyebabkan tekanan pada struktur mata.
  • Penggunaan obat kortikosteroid pada kondisi tertentu.
  • Penyakit atau kelainan mata lain yang dapat menyebabkan glaukoma sekunder.

Meski tekanan intraokular merupakan salah satu faktor risiko penting, perlu dipahami bahwa tekanan mata yang tinggi bukan satu-satunya penyebab glaukoma.

Siapa yang Berisiko Mengalami Glaukoma?

Glaukoma dapat dialami oleh siapa saja, tetapi beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Bertambahnya usia, terutama pada kelompok usia lanjut.
  • Memiliki orang tua, saudara kandung, atau anggota keluarga dengan glaukoma.
  • Memiliki tekanan intraokular yang tinggi.
  • Pernah mengalami cedera pada mata.
  • Memiliki kondisi atau penyakit mata tertentu.
  • Menggunakan kortikosteroid dalam jangka waktu atau cara tertentu.
  • Memiliki penyakit tertentu yang dapat meningkatkan risiko glaukoma.

Riwayat keluarga menjadi hal yang penting untuk diketahui. Seseorang yang memiliki keluarga dengan glaukoma sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan mata dan berkonsultasi mengenai jadwal pemeriksaan yang sesuai.

Gejala Glaukoma yang Perlu Diperhatikan

Glaukoma kronis, khususnya glaukoma sudut terbuka, sering kali tidak memberikan tanda yang jelas pada tahap awal. Gangguan penglihatan biasanya berkembang perlahan sehingga penderita dapat tidak menyadarinya.

Ketika penyakit mulai berkembang, keluhan yang mungkin muncul meliputi :

  • Penglihatan menjadi semakin buram.
  • Lapangan pandang berkurang secara bertahap.
  • Kesulitan melihat bagian tertentu dari area penglihatan.
  • Mata terasa tidak nyaman atau pegal.
  • Nyeri pada mata pada kondisi tertentu.
  • Mata tampak kemerahan.
  • Melihat lingkaran atau seperti pelangi di sekitar sumber cahaya.

Karena perubahan lapangan pandang dapat terjadi secara perlahan, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa kemampuan melihatnya telah berkurang. Inilah salah satu alasan pemeriksaan mata rutin tetap diperlukan meskipun tidak sedang mengalami keluhan.

Waspadai Serangan Glaukoma Akut

Glaukoma sudut tertutup akut merupakan kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera. Tekanan intraokular dapat meningkat secara cepat dan menimbulkan gejala yang berat.

Tanda yang dapat muncul antara lain :

  • Nyeri mata yang hebat dan terjadi tiba-tiba.
  • Mata merah
  • Penglihatan mendadak buram.
  • Melihat lingkaran cahaya atau seperti pelangi di sekitar sumber cahaya.
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah.

Apabila mengalami kombinasi keluhan tersebut, jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan atau unit gawat darurat karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko kehilangan penglihatan.

Bagaimana Glaukoma Dideteksi?

Diagnosis glaukoma tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu jenis pemeriksaan. Dokter akan mempertimbangkan keluhan, riwayat kesehatan, kondisi mata, serta hasil beberapa pemeriksaan.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi :

1. Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan.

Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui kemampuan mata melihat objek dengan jelas. Pemeriksaan ketajaman penglihatan merupakan bagian dari evaluasi mata, tetapi hasil yang normal tidak serta-merta menyingkirkan kemungkinan glaukoma.

2. Pengukuran Tekanan Intraokular.

Tekanan dalam bola mata diukur menggunakan alat yang disebut tonometer. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai salah satu faktor risiko penting pada glaukoma.

Namun, tekanan intraokular perlu dinilai bersama pemeriksaan lainnya karena glaukoma dapat terjadi meskipun tekanan mata tidak terlalu tinggi.

3. Pemeriksaan Saraf Optik.

Dokter akan memeriksa bagian belakang mata untuk menilai kondisi saraf optik. Adanya perubahan tertentu pada saraf optik dapat menjadi petunjuk terjadinya kerusakan akibat glaukoma.

4. Pemeriksaan Lapangan Pandang.

Pemeriksaan lapangan pandang atau perimetri dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat bagian penglihatan yang berkurang atau hilang akibat gangguan pada saraf optik.

5. Pemeriksaan Sudut Bilik Mata.

Pemeriksaan gonioskopi digunakan untuk melihat sudut tempat cairan mata mengalir keluar. Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah sudut mata terbuka atau tertutup serta membantu mengidentifikasi jenis glaukoma.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan, seperti pemeriksaan struktur saraf optik dan lapisan retina dengan alat pencitraan khusus.

Apa yang Terjadi Jika Glaukoma Tidak Ditangani?

Kerusakan akibat glaukoma biasanya berlangsung secara bertahap. Jika tidak ditemukan dan ditangani, kerusakan saraf optik dapat semakin luas sehingga lapangan pandang semakin menyempit.

Pada tahap lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan :

  • Penurunan kemampuan melihat.
  • Gangguan lapangan pandang yang semakin luas.
  • Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Penurunan kualitas hidup.
  • Kehilangan penglihatan berat hingga kebutaan permanen.

Kerusakan saraf optik yang sudah terjadi akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan. Oleh karena itu, tujuan utama penanganan adalah mempertahankan penglihatan yang masih dimiliki dan mencegah kerusakan bertambah parah.

Bagaimana Glaukoma Ditangani?

Penanganan glaukoma disesuaikan dengan jenis, tingkat keparahan, kondisi mata, serta faktor risiko masing-masing pasien.

Dokter dapat memberikan obat tetes mata untuk membantu menurunkan tekanan intraokular. Pada kondisi tertentu, terapi dapat berupa tindakan laser atau operasi untuk membantu mengendalikan tekanan mata dan memperbaiki aliran cairan.

Bagi pasien yang telah mendapatkan obat, penggunaan obat harus dilakukan sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat sendiri, meskipun mata terasa baik-baik saja. Glaukoma dapat tetap berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas.

Kontrol secara teratur juga diperlukan untuk mengetahui apakah tekanan mata dan kondisi saraf optik tetap terkendali.

Langkah yang Dapat Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Kebutaan

Tidak semua kasus glaukoma dapat dicegah. Namun, kehilangan penglihatan akibat glaukoma dapat dikurangi melalui deteksi dini dan pengendalian penyakit secara tepat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :

  • Melakukan pemeriksaan mata secara berkala sesuai usia dan faktor risiko.
  • Lebih waspada apabila memiliki anggota keluarga dengan glaukoma.
  • Melakukan pemeriksaan lebih rutin jika memiliki faktor risiko.
  • Segera memeriksakan mata jika muncul gangguan penglihatan.
  • Menggunakan obat glaukoma sesuai resep dan petunjuk dokter.
  • Tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.
  • Mengikuti jadwal kontrol yang telah ditentukan.
  • Melindungi mata dari cedera, terutama saat melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan trauma pada mata.

Jangan Tunggu Penglihatan Menurun

Glaukoma dapat berkembang diam-diam tanpa memberikan keluhan pada tahap awal. Ketika gangguan penglihatan mulai terasa, kerusakan saraf optik mungkin sudah terjadi.

Karena kerusakan tersebut tidak dapat dikembalikan, pemeriksaan mata secara berkala merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga penglihatan tetap berfungsi sebaik mungkin.

Kenali faktor risikonya, jangan abaikan perubahan pada penglihatan, dan lakukan pemeriksaan mata secara rutin. Dengan deteksi lebih awal dan penanganan yang tepat, perkembangan glaukoma dapat dikendalikan sehingga risiko kehilangan penglihatan dapat ditekan.

 

Referensi :

Zahra, A. 2024. Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Glaukoma. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan, 3(2), 107-120.

Yunard, A. 2024. Faktor Risiko Glaukoma. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Tim Promosi Kesehatan, Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. 2024. Kejadian Glaukoma Mata.

American Academy of Ophthalmology. Glaucoma. Eye Diseases and Conditions.

National Eye Institute. Glaucoma. National Institutes of Health.

European Glaucoma Society. Terminology and Guidelines for Glaucoma, 5th Edition.