Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Senin, 05 Oktober 2026 11:10 WIB

Bahaya Tuberkulosis Mengenal Mencegah Menggulangi

Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Bahaya Tuberkulosis Mengenal Mencegah Menggulangi
10 kali dilihat

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru dan disebut sebagai TBC paru. Namun, bakteri TBC juga dapat menyerang organ tubuh lainnya, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, usus, hingga selaput otak. Kondisi ini dikenal sebagai TBC ekstra paru.

TBC dapat menular melalui udara. Ketika seseorang dengan TBC paru yang menular batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, bakteri dapat keluar ke udara dalam partikel berukuran sangat kecil dan kemudian terhirup oleh orang lain.

Setelah masuk ke dalam tubuh, bakteri TBC dapat bertahan dalam kondisi tertentu tanpa langsung menimbulkan gejala. Kondisi tersebut dikenal sebagai infeksi TBC laten. Pada sebagian orang, terutama mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah, infeksi dapat berkembang menjadi TBC aktif dan menimbulkan gejala.

Menurut World Health Organization (WHO), TBC masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan beban kesehatan besar di dunia. Indonesia juga termasuk negara dengan beban TBC yang tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian bersama. Kabar baiknya, TBC dapat dicegah dan disembuhkan apabila ditemukan dan ditangani dengan tepat serta pengobatan dijalani secara teratur hingga selesai.

Mengapa TBC Berbahaya?

TBC paru dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan pada jaringan paru sehingga mengganggu fungsi pernapasan. Apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, penyakit ini dapat berkembang dan menyebar ke organ tubuh lainnya.

Selain berdampak pada kesehatan penderita, TBC juga dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya, terutama mereka yang tinggal serumah atau sering melakukan kontak erat dengan penderita TBC paru yang menular. Oleh karena itu, mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan sedini mungkin merupakan langkah penting untuk mendapatkan pengobatan sekaligus mencegah penularan.

Kenali Gejala TBC

Gejala TBC dapat berkembang secara perlahan sehingga terkadang dianggap sebagai batuk biasa. Pada TBC paru, beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain :

1.      Batuk yang berlangsung selama dua minggu atau lebih;

2.      Batuk berdahak dan pada kondisi tertentu dapat disertai darah;

3.      Demam yang berlangsung lama atau berulang;

4.      Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas;

5.      Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas;

6.      Nafsu makan berkurang;

7.      Tubuh mudah lelah dan terasa lemas;

8.      Nyeri dada; serta

9.      Sesak napas, terutama apabila penyakit sudah memengaruhi fungsi paru secara signifikan.

Tidak semua penderita mengalami seluruh gejala tersebut. Pada TBC ekstra paru, gejala yang muncul dapat berbeda-beda sesuai dengan organ yang terkena.

Apa Dampaknya Apabila TBC Tidak Diobati?

TBC yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, antara lain:

1.      Kerusakan jaringan paru;

2.      Gangguan fungsi pernapasan;

3.      Penyebaran infeksi ke organ tubuh lainnya;

4.      Penurunan berat badan dan gangguan status gizi;

5.      Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari;

6.      Penularan kepada anggota keluarga dan orang-orang di sekitar; serta

7.      TBC resistan obat apabila pengobatan tidak dilakukan sesuai ketentuan atau tidak diselesaikan.

TBC resistan obat merupakan kondisi ketika bakteri TBC tidak lagi merespons obat tertentu yang sebelumnya efektif. Kondisi ini membutuhkan penanganan khusus dan pengobatan yang lebih kompleks.

Siapa yang Berisiko Terkena TBC?

TBC dapat menyerang siapa saja. Namun, risiko berkembang menjadi TBC aktif lebih tinggi pada kelompok tertentu, antara lain :

1.      Orang yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dengan penderita TBC menular;

2.      Orang dengan daya tahan tubuh yang lemah;

3.      Penderita HIV;

4.      Penderita diabetes melitus;

5.      Anak-anak, terutama yang memiliki faktor risiko tertentu;

6.      Lanjut usia;

7.      Perokok;

8.      Orang dengan status gizi buruk atau malnutrisi;

9.      Orang yang tinggal atau bekerja di lingkungan padat dengan ventilasi yang kurang baik; serta

10.   Orang yang pernah menderita TBC atau memiliki riwayat pengobatan TBC sebelumnya.

Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti menderita TBC. Namun, kondisi tersebut menjadi alasan untuk lebih waspada dan melakukan pemeriksaan apabila muncul gejala atau terdapat riwayat kontak dengan penderita TBC.

Bagaimana TBC Dideteksi?

Deteksi dini merupakan salah satu kunci dalam pengendalian TBC. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan keluhan, riwayat kontak, kondisi kesehatan, dan hasil pemeriksaan klinis.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain :

1.      Pemeriksaan klinis

Dokter akan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menilai gejala serta faktor risiko TBC.

2.      Tes Cepat Molekuler (TCM)

TCM merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi bakteri penyebab TBC sekaligus mengetahui kemungkinan resistansi terhadap obat tertentu.

3.      Pemeriksaan dahak

Pemeriksaan dahak dapat dilakukan dengan metode tertentu, termasuk pemeriksaan mikroskopis, sesuai dengan indikasi.

4.      Kultur bakteri

Kultur dapat digunakan untuk menumbuhkan dan mengidentifikasi bakteri TBC serta membantu pemeriksaan kepekaan terhadap obat antituberkulosis pada kondisi tertentu.

5.      Foto toraks

Pemeriksaan foto toraks dapat membantu dokter menilai kondisi paru dan mendukung diagnosis TBC paru.

Pemeriksaan yang diperlukan dapat berbeda pada setiap pasien. Karena itu, diagnosis TBC harus dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan secara menyeluruh.

Apakah Penderita TBC Harus Dirawat di Rumah Sakit?

Tidak semua penderita TBC memerlukan rawat inap. Sebagian besar pasien dapat menjalani pengobatan secara rawat jalan dengan pemantauan rutin di fasilitas pelayanan kesehatan.

Rawat inap dapat diperlukan apabila penderita mengalami kondisi tertentu, seperti penyakit yang berat, komplikasi, gangguan pernapasan, atau kondisi lain yang membutuhkan pemantauan dan penanganan intensif.

Selama menjalani pengobatan, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan antara lain :

1.      Mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT) sesuai dosis dan jadwal yang ditentukan;

2.      Tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan;

3.      Melakukan kontrol sesuai jadwal;

4.      Mengonsumsi makanan bergizi seimbang;

5.      Beristirahat yang cukup;

6.      Menerapkan etika batuk dan bersin;

7.      Menggunakan masker sesuai anjuran tenaga kesehatan, terutama selama masih berisiko menularkan; serta

8.      Menjalani pengobatan sampai selesai sesuai regimen yang ditetapkan.

Jangan menghentikan OAT hanya karena gejala sudah membaik. Pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan resistansi obat.

Bagaimana Cara Mencegah TBC?

Pencegahan TBC membutuhkan peran penderita, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :

1.      Mendapatkan imunisasi BCG.

Imunisasi BCG diberikan terutama untuk melindungi anak dari bentuk TBC yang berat. Pemberiannya dilakukan sesuai jadwal imunisasi yang berlaku.

2.      Menjaga sirkulasi udara.

Pastikan rumah memiliki ventilasi yang baik sehingga terjadi pertukaran udara dan sinar matahari dapat masuk secara optimal.

3.      Menerapkan etika batuk dan bersin.

Tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin menggunakan tisu atau bagian dalam siku. Segera buang tisu yang telah digunakan dan cuci tangan.

4.      Menggunakan masker pada kondisi tertentu.

Gunakan masker sesuai anjuran, terutama ketika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan atau ketika berada dalam situasi yang berisiko menularkan maupun tertular TBC.

5.      Menghindari rokok

Merokok dapat merusak kesehatan paru-paru dan meningkatkan risiko berbagai penyakit pernapasan.

6.      Menjaga kondisi tubuh.

Konsumsi makanan bergizi seimbang, beraktivitas fisik secara teratur, beristirahat cukup, dan menjaga kondisi kesehatan dapat membantu mempertahankan daya tahan tubuh.

7.      Melakukan pemeriksaan apabila memiliki faktor risiko.

Orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan penderita TBC perlu mengikuti skrining atau pemeriksaan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

8.      Menjalani pengobatan sampai tuntas.

Bagi penderita TBC, menjalani pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan merupakan langkah penting untuk mencapai kesembuhan sekaligus memutus rantai penularan.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Jangan menunggu kondisi semakin berat untuk memeriksakan diri. Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan apabila mengalami:

1.      Batuk selama dua minggu atau lebih;

2.      Batuk berdarah;

3.      Demam yang berlangsung lama atau berulang;

4.      Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas;

5.      Berkeringat pada malam hari;

6.      Sesak atau nyeri dada;

7.      Tubuh mudah lelah dan lemas; atau

8.      Memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC.

Semakin cepat TBC ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dapat dimulai dan langkah pencegahan penularan dapat dilakukan.

Bersama Putus Rantai Penularan TBC

Tuberkulosis bukan sekadar masalah kesehatan individu, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini dapat menular, tetapi TBC dapat dicegah dan disembuhkan. Mengenali gejala, melakukan pemeriksaan sedini mungkin, mengikuti pengobatan sesuai anjuran, menerapkan etika batuk, menjaga ventilasi, serta melakukan skrining pada kelompok berisiko merupakan langkah penting untuk memutus rantai penularan.

Jangan abaikan batuk yang berkepanjangan. Jangan takut untuk memeriksakan diri. TBC dapat disembuhkan, dan setiap langkah kecil untuk mendeteksi serta mengobatinya berarti satu langkah lebih dekat menuju masyarakat yang bebas TBC.

 

 

Referensi :

Makiah, I., Abidin, Z., Sulistiyani, S., Runjati, R., Kusumasari, R., Rindjaswati, S. R., dkk. 2026. Efektivitas Active Case Finding (ACF) Menggunakan Portable X-Ray untuk Deteksi Tuberkulosis Paru di Wilayah Pesisir Jawa Tengah. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 25(1), 100-107. https://doi.org/10.14710/jkli.81961.

Samosir, T., Nasution, H. S., & Halim, R. 2026. Faktor-faktor Keteraturan Minum Obat pada Penderita Tuberkulosis di Indonesia. Jurnal Kesehatan Amanah, 10(1), 68-81. https://doi.org/10.57214/jka.v10i1.1055

World Health Organization. 2025. Tuberculosis Fact Sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2025. Kenali Kelompok yang Berisiko Tinggi

Tertular TBC. https://kemkes.go.id/eng/kenali-kelompok-yang-berisiko-tinggi-tertular-tbc

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2025. Tuberkulosis. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/kesehatan-lainnya/tuberkulosis.