Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Senin, 05 Oktober 2026 11:12 WIB

Batuk dan Sesak Tak Selalu Flu Waspadai Pneumonia

Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Batuk dan Sesak Tak Selalu Flu Waspadai Pneumonia
12 kali dilihat

Pneumonia merupakan infeksi akut pada saluran pernapasan bagian bawah yang menyerang jaringan paru-paru, khususnya alveoli atau kantung udara tempat terjadinya pertukaran oksigen. Infeksi ini dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, maupun mikroorganisme lainnya.

Ketika terjadi infeksi, alveoli dapat mengalami peradangan dan terisi cairan atau nanah. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses pertukaran oksigen sehingga penderita mengalami kesulitan bernapas.

Pneumonia dapat menyerang siapa saja. Namun, kelompok tertentu, seperti anak-anak, lanjut usia, orang dengan daya tahan tubuh rendah, serta penderita penyakit kronis, memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia berat.

Apa yang Menyebabkan Pneumonia?

Pneumonia terjadi ketika mikroorganisme masuk dan menginfeksi paru-paru. Berdasarkan penyebabnya, pneumonia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :

1.      Pneumonia Akibat Bakteri

Bakteri merupakan salah satu penyebab pneumonia yang paling sering ditemukan. Pneumonia akibat bakteri dapat menyerang salah satu bagian atau beberapa bagian paru-paru. Beberapa jenis bakteri juga dapat menyebabkan pneumonia dengan karakteristik yang berbeda sehingga dikenal sebagai bakteri tipikal dan atipikal.

2.      Pneumonia Akibat Virus

Beberapa virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan, seperti virus influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSV), adenovirus, dan coronavirus, juga dapat menyebabkan pneumonia. SARS-CoV-2, yaitu virus penyebab COVID-19, merupakan salah satu virus yang dapat menyebabkan pneumonia.

3.      Pneumonia Akibat Jamur

Pneumonia akibat jamur dapat terjadi ketika seseorang menghirup spora jamur yang kemudian berkembang biak di dalam paru-paru. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah atau penderita penyakit kronis tertentu.

4.      Pneumonia Aspirasi

Pneumonia aspirasi terjadi ketika makanan, minuman, muntahan, atau bahan lain masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru. Kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan infeksi pada paru-paru.

Selain infeksi, pneumonia juga dapat berkaitan dengan kondisi lain yang menyebabkan terhambatnya saluran pernapasan, misalnya tumor atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Kenali Gejala Pneumonia

Gejala pneumonia dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada penyebab infeksi, tingkat keparahan, usia, dan kondisi kesehatan secara umum. Gejala dapat muncul secara tiba-tiba maupun berkembang secara bertahap.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain :

1.      Batuk, baik batuk kering maupun batuk berdahak;

2.      Dahak yang dapat berwarna kuning atau hijau;

3.      Batuk berdarah pada kondisi tertentu;

4.      Demam dan menggigil;

5.      Sesak atau kesulitan bernapas;

6.      Nyeri dada, terutama saat menarik napas dalam atau batuk;

7.      Berkeringat;

8.      Tubuh terasa lemas;

9.      Penurunan nafsu makan;

10.   Sakit kepala;

11.   Nyeri otot dan sendi;

12.   Mual, muntah, atau diare; serta

13.   Denyut jantung meningkat.

Pada anak-anak dan lanjut usia, gejala pneumonia terkadang tidak khas. Oleh karena itu, perubahan kondisi tubuh, seperti lemas, penurunan kesadaran, sulit makan atau minum, serta gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian.

Siapa yang Lebih Berisiko?

Pneumonia dapat terjadi pada siapa saja, tetapi risiko mengalami pneumonia dan komplikasi yang lebih berat meningkat pada kelompok tertentu, antara lain :

1.      Lanjut usia, terutama usia 65 tahun ke atas;

2.      Anak-anak, khususnya usia di bawah 2 tahun;

3.      Perokok dan orang yang sering terpapar asap rokok;

4.      Orang dengan daya tahan tubuh yang rendah;

5.      Penderita penyakit kronis;

6.      Penderita penyakit paru, termasuk PPOK;

7.      Orang dengan gangguan menelan atau risiko aspirasi; serta

8.      Orang yang mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

Bagaimana Pneumonia Didiagnosis?

Diagnosis pneumonia dilakukan melalui beberapa tahapan. Dokter akan melakukan anamnesis untuk mengetahui keluhan dan riwayat kesehatan, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sesuai kondisi pasien.

Pemeriksaan dapat meliputi pemeriksaan darah dan pemeriksaan radiologi, seperti foto toraks. Pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri, pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan peningkatan jumlah leukosit dan neutrofil, meskipun hasil pemeriksaan tersebut perlu dinilai bersama kondisi klinis pasien. Diagnosis dan penentuan penyebab pneumonia harus dilakukan oleh tenaga medis berdasarkan keseluruhan hasil pemeriksaan.

Bagaimana Pneumonia Ditangani?

Pengobatan pneumonia bertujuan untuk mengatasi penyebab infeksi, meredakan gejala, menjaga fungsi pernapasan, serta mencegah terjadinya komplikasi.

Penanganan disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan penyakit. Pada pneumonia akibat bakteri, dokter dapat memberikan antibiotik. Sementara itu, pada kondisi tertentu dapat diberikan obat antivirus atau antijamur sesuai penyebabnya.

Obat untuk membantu mengurangi demam, nyeri, atau gejala lainnya juga dapat diberikan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Pada pneumonia dengan kondisi berat, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit. Penanganan dapat berupa :

1.      Pemberian obat melalui suntikan atau infus;

2.      Pemberian oksigen tambahan untuk membantu mempertahankan kadar oksigen dalam darah;

3.      Pemberian cairan melalui infus sesuai kebutuhan;

4.      Pemantauan kondisi pernapasan dan tanda-tanda vital; serta

5.      Tindakan atau terapi lain sesuai kondisi pasien.

Antibiotik tidak boleh digunakan secara sembarangan. Penggunaan antibiotik harus berdasarkan penilaian dokter karena tidak semua pneumonia disebabkan oleh bakteri.

Bagaimana Cara Mencegah Pneumonia?

Pneumonia dapat dicegah dengan menerapkan berbagai kebiasaan hidup sehat dan mengurangi faktor risiko. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1.      Lengkapi vaksinasi

Vaksinasi merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mencegah infeksi tertentu yang dapat menyebabkan pneumonia. Jenis dan jadwal vaksinasi disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, serta rekomendasi tenaga kesehatan.

2.      Terapkan pola hidup sehat

Konsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat yang cukup, dan rutin melakukan aktivitas fisik dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

3.      Jaga kebersihan tangan

Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol apabila sabun dan air tidak tersedia.

4.      Terapkan etika batuk dan bersin

Tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku saat batuk atau bersin. Segera buang tisu yang telah digunakan dan cuci tangan setelahnya.

5.      Hindari rokok dan asap rokok

Merokok maupun paparan asap rokok dapat merusak saluran pernapasan dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi paru-paru.

6.      Hindari konsumsi alkohol secara berlebihan

Konsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan dan dapat memengaruhi daya tahan tubuh.

7.      Gunakan masker pada kondisi tertentu

Masker dapat digunakan ketika berada di lingkungan dengan paparan polusi atau ketika merawat orang yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Jangan Tunggu Pneumonia Menjadi Berat

Batuk dan sesak napas tidak selalu berarti pneumonia. Namun, apabila keluhan disertai demam, nyeri dada, napas cepat atau sesak yang semakin berat, tubuh sangat lemas, penurunan kesadaran, atau kondisi yang semakin memburuk, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Kenali gejalanya, cegah risikonya, dan jangan menunda pemeriksaan. Karena paru-paru yang sehat adalah bagian penting untuk tetap aktif dan menjalani hidup dengan optimal.

 

Referensi :

Kristian T. Kaunang, dkk. 2017. Gambaran Karakteristik Pneumonia pada Anak yang Dirawat di Ruang Perawatan Intensif Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2013 - 2015. Jurnal Penelitian Universitas Samratulangi Menado.

Anida Septian Ramelina. 2020. Pnemonia pada Perempuan Dewasa, Sebuah Laporan Kasus. Jurnal Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sulistyaningsih. 2019. Efektivitas Strategi Pengendalian Pneumonia untuk Menurunkan Kematian Anak di Indonesia. Jurnal Kesehatan Universitas Aisiyah Yogyakarta.