Minggu, 31 Agustus 2025 00:20 WIB

Webinar RSUP Dr M Djamil Dorong Penggunaan Diagnostik Molekuler untuk Cegah Resistensi Antibiotik

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
8

Padang (28/08) - Diagnostik molekuler memainkan peran vital dalam memberikan panduan yang lebih cepat dan akurat kepada klinisi dalam menentukan terapi antibiotik. Penggunaan metode ini akan memperpendek periode yang dibutuhkan untuk memberikan terapi antibiotik yang adekuat. Ini sangat berbeda dengan metode konvensional yang sering kali memakan waktu lebih lama, sehingga pasien mungkin tidak mendapatkan pengobatan yang optimal di awal.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Laboratorium PDRPI Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc saat Webinar bertajuk “Implementasi Diagnostik Molekuler untuk Peningkatan Pemberian Antibiotik Empiris yang Adekuat” digelar RSUP Dr. M. Djamil di Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan. Webinar yang dimoderatori Manajer Penelitian dan Pengembangan dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, FIAC, IFCAP itu juga menghadirkan narasumber yakni Ketua KSM Mikrobiologi Klinik Dr. dr. Linosefa, Sp.MK, dan Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba RSUP Dr. M. Djamil dr. Fedrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM.

Ia menyoroti antibiotik empirik yang adekuat adalah pengobatan yang memenuhi beberapa kriteria penting. Kriteria tersebut mencakup kesesuaian dengan hasil kultur, menjamin perbaikan klinis pasien, dan kesesuaian dengan pedoman yang berbasis data atau antibiogram. Diketahui, antibiogram adalah pola kepekaan bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik di suatu wilayah atau rumah sakit, yang menjadi panduan penting bagi dokter dalam memilih antibiotik yang paling efektif. “Dengan diagnostik molekuler, informasi ini dapat diperoleh lebih cepat, memungkinkan penyesuaian terapi secara dini,” ungkapnya.

Turut hadir Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, Direktur Medik dan Keperawatan Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), Direktur Perencanaan dan Keuangan Luhur Joko Prasetyo, manajemen, direksi rumah sakit se-Sumbar, dinas kesehatan se-Sumbar serta peserta webinar.

Andani menekankan dengan integrasi diagnostik molekuler, dokter dapat mengidentifikasi patogen penyebab infeksi dan pola resistensinya dengan lebih efisien. “Hal ini tidak hanya mempercepat proses penyembuhan pasien, tetapi juga berkontribusi pada upaya global untuk mengendalikan resistensi antimikroba yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Penerapan diagnostik molekuler secara luas, tuturnya, diharapkan dapat menjadi langkah maju bagi dunia kedokteran, khususnya di Indonesia, untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan pengobatan yang paling sesuai dan efektif. “Inovasi ini membuka jalan bagi pengobatan presisi di mana terapi disesuaikan dengan profil genetik patogen, bukan lagi berdasarkan dugaan semata,” harap Andani.

Ketua KSM Mikrobiologi Klinik Dr. dr. Linosefa, Sp.MK menjelaskan data nasional menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan antibiotik di Indonesia, baik di masyarakat maupun di rumah sakit, sangat tinggi. Praktik penjualan antibiotik secara bebas di pasaran marak terjadi, dan kepatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik—misalnya, tidak menyelesaikan dosis yang diresepkan—masih rendah.

Situasi ini diperburuk oleh data surveilans yang menunjukkan peningkatan isolat resisten. Sebagai contoh, ada peningkatan signifikan pada bakteri Escherichia coli yang resisten terhadap ceftriaxone dan fluoroquinolone. Selain itu, ditemukan juga kasus Klebsiella pneumoniae yang sudah resisten terhadap karbapenem, jenis antibiotik yang sering “dianggap sebagai pilihan terakhir untuk infeksi parah. Peningkatan resistensi ini sangat mengkhawatirkan karena mengurangi opsi pengobatan yang tersedia,” sebutnya.

Dr. Linosefa menekankan pentingnya peran data pola patogen dan antibiogram dalam dunia medis. Antibiogram adalah hasil uji laboratorium yang menunjukkan sensitivitas atau resistensi suatu bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik. “Pola patogen dan data antibiogram membantu para klinisi dalam memilih antibiotik yang tepat. Dengan mengetahui jenis bakteri yang umum dan obat yang paling efektif melawannya, dokter dapat memberikan pengobatan yang lebih akurat dan mengurangi risiko AMR,” harapnya.

Ia juga mengungkapkan pola bakteri di Indonesia masih didominasi oleh bakteri gram negatif. Memahami pola ini sangat krusial untuk membuat kebijakan kesehatan dan panduan pengobatan yang lebih efektif.

“Peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya AMR dan penggunaan antibiotik yang bijak adalah langkah awal yang vital untuk mengatasi krisis kesehatan ini. Edukasi kepada pasien dan penegakan regulasi yang lebih ketat terhadap penjualan antibiotik tanpa resep menjadi kunci untuk melindungi efektivitas obat-obatan yang ada,” tegas Linosefa.

Sementara itu, Ketua Komite PRA RSUP Dr. M. Djamil dr. Fedrian, Sp.PD-KPTI, FINASIM menyebutkan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) mengambil peran dalam upaya rumah sakit memerangi ancaman global resistensi antimikroba (AMR). Komite ini bertugas membantu Direktur Utama dalam mengendalikan resistensi mikroba di lingkungan rumah sakit.

“KPRA memiliki ruang lingkup tugas yang komprehensif, mencakup surveilans dan penelitian, meningkatkan kesadaran tentang penggunaan antibiotik yang rasional melalui program pelatihan dan edukasi, dan penatagunaan Antimikroba (Antimicrobial Stewardship),” sebutnya.

Dalam menjalankan tugasnya, RSUP Dr. M. Djamil menargetkan pemantauan penggunaan antimikroba melalui metode point prevalence survey. “Kami melakukan pengumpulan data di lapangan dengan observasi langsung dan meninjau rekam medis,” jelas Fedrian.

Proses pengumpulan data ini mencakup analisis terhadap berbagai aspek penggunaan antimikroba. Seperti indikasi, jenis antibiotik, rute pemberian, durasi dan penggunaan antibiotik sudah sesuai dengan pedoman nasional dan internasional.

“Proses pengumpulan data ini masih berlangsung. Setelah selesai, data yang terkumpul akan dianalisis untuk menghasilkan gambaran yang jelas mengenai pola penggunaan antibiotik di RSUP Dr. M. Djamil, yang pada akhirnya akan menjadi dasar untuk perbaikan kebijakan dan strategi pengendalian AMR. Dengan langkah-langkah ini, RSUP Dr. M. Djamil menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangan AMR, melindungi pasien, dan berkontribusi pada upaya kesehatan masyarakat,” tukasnya.(*)