Bandung (29/12) - Acara puncak World Antimicrobial Awareness Week (WAAW) resmi diselenggarakan di Bandung, melibatkan pemangku kepentingan dari sektor kesehatan, pendidikan, pemerintah, dan komunitas. Penyelenggaraan ini difasilitasi oleh Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara bijak serta memperkuat kolaborasi untuk menekan perkembangan resistansi antimikroba (AMR).
Menurut data global terkini dari Global Research on Antimicrobial Resistance Project (GRAM), resistansi antimikroba telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Studi yang dipublikasikan melalui The Lancet menunjukkan bahwa pada tahun 2019 terjadi sekitar 1,27 juta kematian secara langsung akibat infeksi bakteri resisten antibiotik. Dalam kasus di mana AMR berperan meskipun bukan sebagai penyebab tunggal jumlah kematian diperkirakan mencapai 4,95 juta pada tahun yang sama. Data lebih baru memperlihatkan bahwa pada tahun 2021 diperkirakan 1,14 juta kematian secara langsung disebabkan oleh AMR, dengan total kematian yang berkaitan dengan AMR mencapai sekitar 4,71 juta. Proyeksi analisis GRAM memperingatkan bahwa tanpa tindakan tegas, beban global akibat AMR dapat meningkat drastis hingga 1,91 juta kematian per tahun secara langsung dan 8,22 juta kematian terkait AMR per tahun pada tahun 2050.
Dalam sambutannya, Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan, Drg. Yuli Astuti Saripawan, M.Kes., menekankan bahwa penggunaan antibiotik seharusnya dilakukan secara bijak dan sesuai aturan. “Antibiotik itu bukan obat flu pemakaiannya harus sesuai resep dokter dan selalu dihabiskan. Bila tidak, bakteri bisa menjadi kebal dan obat tidak akan efektif lagi. Kita semua memiliki tanggung jawab dalam menjaga efektivitas antibiotik,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mempercepat munculnya resistansi sebuah ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat global, bukan sekadar statistik.
Acara WAAW di Bandung dirancang melalui rangkaian kegiatan seperti seminar, diskusi panel, kampanye publik, serta edukasi bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara tepat hanya atas resep dokter dan berdasarkan pedoman terapi yang berlaku serta disertai upaya mencegah penyebaran bakteri resisten.
Dengan terselenggaranya acara puncak WAAW di Bandung, penyelenggara berharap pesan mengenai urgensi penanggulangan resistansi antimikroba dapat tersampaikan secara luas dan mendorong aksi nyata dari berbagai pihak. Tujuannya: menjaga efektivitas terapi antibiotik, melindungi kesehatan masyarakat saat ini, dan melestarikannya bagi generasi mendatang.