Padang (09/12) - RSUP Dr. M. Djamil menerima kunjungan dari Tim Direktorat Penanggulangan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI di Ruang Rapat Direksi. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka monitoring dan evaluasi (Monev) pelaksanaan Penelitian Operasional Evaluasi dan Validasi Algoritma WHO untuk Diagnosis Tuberkulosis (TBC) Anak di Indonesia.
Penelitian tersebut bertujuan untuk menilai dan memvalidasi algoritma diagnosis terbaru yang dikeluarkan oleh WHO khusus untuk kasus TBC pada anak. Mengingat anak-anak adalah kelompok rentan yang seringkali sulit didiagnosis TBC-nya secara pasti.
Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, menjelaskan RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan dan rumah sakit pendidikan utama, berkepentingan besar dalam penelitian ini. "Penelitian TBC Anak ini memiliki tujuan utama menilai algoritma diagnosis terbaru untuk Tuberkulosis Anak. Ini adalah upaya strategis untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, mempercepat penanganan, dan pada akhirnya memperbaiki outcome pada pasien anak yang merupakan kelompok rentan. Kami ingin memastikan penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pelayanan," tegas dr. Maliana.
Turut hadir Manajer Timker Litbang dr. Zulda Musyarifah, Sp.PA, FIAC, IFCAP dan jajaran, anggota tim peneliti dr. Riki Alkamdani, Sp.A, Subsp.Resp dan manajemen rumah sakit. Kegiatan dilanjutkan telusur ke Departemen Ilmu Kesehatan Anak.
Kegiatan Monev yang berlangsung seharian tersebut mencakup paparan progres nasional, pengecekan Case Report Form (CRF) dan dokumen klaim, peninjauan portnat dan logistik penelitian, serta penyusunan rencana tindak lanjut. dr. Maliana berharap seluruh proses monev dapat berjalan secara objektif dan menghasilkan masukan yang relevan untuk memperkuat implementasi penelitian di lapangan.
Sementara itu, Mardawaning Hanggarjita, dari Tim Kerja TBC Kemenkes RI, menguraikan tujuan umum monitoring ini adalah untuk memantau seluruh rangkaian kegiatan penelitian operasional evaluasi dan validasi algoritma WHO untuk diagnosis TBC anak di Indonesia. Secara khusus, monev bertujuan untuk melakukan verifikasi dan validasi data penelitian operasional guna memastikan konsistensi dan kualitas data sesuai dengan protokol.
Selain itu, kegiatan ini juga memantau pelaksanaan prosedur diagnostik non-invasif yang sedang diuji, yakni berupa pengambilan sampel tongue swab (usapan lidah) dan pemeriksaan LAM Urin. Tim juga melakukan pengecekan dokumen klaim pembiayaan penelitian operasional, mengevaluasi ketersediaan dan pemanfaatan logistik penelitian, serta mengidentifikasi hambatan dan tantangan yang mungkin dihadapi selama kegiatan penelitian di lapangan.
"Keberhasilan validasi algoritma ini diharapkan dapat menjadi panduan klinis yang lebih efektif, sehingga pasien anak di Indonesia dapat menerima diagnosis TBC lebih cepat dan akurat," tukasnya.(*)