Jakarta (11/12) – Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia, RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta menyelenggarakan Talkshow World AIDS Day sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penanganan HIV/AIDS dan komplikasi yang dapat terjadi, khususnya infeksi pada otak. Kegiatan edukatif ini dilaksanakan dan diikuti secara daring melalui platform Zoom. Acara menghadirkan tiga narasumber kompeten di bidangnya, yakni dr. Hendro Birowo, Sp.N Subsp. NKT(K), apt. Dra. Hadijah Tahir, Sp.FRS, serta Dewi Ruliandari, S.Gz, dengan dipandu oleh moderator Nur Salsabilla, S.Gz.
Acara dibuka dengan penjelasan mengenai kondisi HIV/AIDS sebagai penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga membuat pasien rentan mengalami infeksi oportunistik, termasuk meningitis dan beragam infeksi otak lainnya. Dr. Hendro Birowo menegaskan bahwa meningitis merupakan salah satu komplikasi serius yang dapat mengancam keselamatan pasien apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Pemeriksaan yang komprehensif diperlukan untuk menegakkan diagnosis, mulai dari penilaian klinis, pemeriksaan laboratorium, hingga penggunaan pencitraan seperti CT Scan dan MRI. Melalui teknologi pencitraan tersebut, dokter dapat melihat kondisi struktur otak secara lebih mendalam, termasuk area yang mengalami peradangan atau infeksi, sehingga terapi dapat lebih terarah sesuai pedoman medis yang berlaku.
Selanjutnya, apt. Dra. Hadijah Tahir memaparkan pentingnya terapi antiretroviral (ARV) sebagai pilar utama dalam pengobatan HIV/AIDS. ARV bekerja dengan menghambat aktivitas virus sehingga pertumbuhan dan penyebarannya dapat ditekan. Dengan penurunan jumlah virus (viral load), sistem imun pasien dapat pulih secara bertahap dan memiliki kemampuan lebih baik untuk melawan infeksi. Namun, keberhasilan terapi ARV sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara rutin. Ketidakdisiplinan minum obat dapat menyebabkan resistensi virus, memperburuk kondisi pasien, serta meningkatkan risiko komplikasi termasuk infeksi otak. Karena itu, keluarga memegang peran penting untuk membantu memantau kepatuhan pasien, mengingatkan jadwal obat, dan memastikan penggunaan peralatan pribadi yang aman untuk mencegah penularan maupun infeksi tambahan.
Aspek nutrisi juga menjadi fokus dalam talkshow ini. Dewi Ruliandari, S.Gz menyampaikan bahwa pemenuhan gizi yang tepat sangat berpengaruh terhadap kekuatan imun pasien HIV/AIDS. Pada banyak kasus, pasien mengalami penurunan nafsu makan, penurunan berat badan drastis, dan gangguan penyerapan nutrisi akibat infeksi. Gizi yang baik dapat membantu meningkatkan energi, mempercepat pemulihan, serta mempertahankan berat badan ideal. Pola makan dianjurkan sedikit namun sering, dengan pemilihan makanan yang mempunyai aroma kuat untuk merangsang selera makan. Tekstur makanan disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien, terutama jika mengalami kesulitan menelan atau gangguan saraf. Pemantauan status gizi secara berkala juga perlu dilakukan untuk memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi dan mencegah terjadinya malnutrisi.
Selain itu, keluarga diminta untuk memahami gejala yang perlu diwaspadai sebagai bagian dari deteksi dini HIV/AIDS maupun infeksi otak. Tanda-tanda seperti penurunan berat badan tanpa sebab jelas, demam berkepanjangan, penurunan kesadaran, sakit kepala berat, perubahan perilaku, muntah hebat, bibir atau wajah yang tampak menurun, serta gangguan saraf lainnya perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis. Penanganan cepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat dan membahayakan pasien.
Melalui kegiatan edukasi ini, RSPON Mahar Mardjono Jakarta menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan komprehensif dan berbasis ilmu terkini bagi pasien HIV/AIDS. Dengan kombinasi antara diagnosis yang tepat, kepatuhan dalam menjalani terapi ARV, penanganan infeksi otak sesuai prosedur medis, serta pemenuhan nutrisi yang optimal, pasien HIV/AIDS memiliki peluang lebih besar untuk menjalani hidup yang sehat, produktif, dan terhindar dari komplikasi yang berbahaya. Talkshow ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong dukungan keluarga sebagai elemen penting dalam proses perawatan jangka panjang pasien HIV/AIDS.