Surakarta – Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Soeharso Surakarta mengambil langkah inovatif dalam menjaga kebugaran pegawainya dengan meluncurkan program diet berbasis data. Tidak lagi sekadar memberikan anjuran umum, rumah sakit kini menerapkan pola diet sehat yang disusun secara personal berdasarkan hasil Medical Check-Up (MCU) rutin masing-masing pegawai yang dilakukan setiap enam bulan.
Langkah strategis ini diambil menyusul kesadaran bahwa kebutuhan nutrisi setiap individu sangat spesifik. Pegawai dengan kadar asam urat tinggi tentu memerlukan pola makan yang berbeda dengan rekan kerja yang memiliki kecenderungan hipertensi atau kolesterol. Direksi RSO Soeharso dalam hal ini Plt. Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian, Ibu Dina Sintia Pamela, S.Si, Apt, M.Farm, menekankan bahwa pegawai adalah aset utama dan penting bagi rumah sakit. "Bagaimana kita bisa memberikan pelayanan prima kepada pasien kita, jika kesehatan kita sendiri tidak optimal," ujarnya dalam sambutan pembukaan acara webinar yang menghadirkan narasumber dr. Ni Luh Tantri Fitriyanti, Sp.PD, Sri Juni Anggraeni, SKM, MM, dan Sofia Nur Kartika, S.Gz, dengan moderator Upiek Rachimah Rachim, SKM.
Program diet personal ini disusun berdasarkan tiga pilar utama. Pilar pertama adalah analisis biomarker dengan melihat angka riil pada gula darah puasa, profil lipid atau kolesterol, dan fungsi ginjal. Pilar kedua adalah personalisasi menu, di mana jika hasil MCU menunjukkan gejala anemia, fokus diet akan beralih pada peningkatan zat besi dan vitamin C, bukan sekadar defisit kalori. Pilar ketiga adalah monitoring berkala, di mana pola makan akan dievaluasi setiap tiga hingga enam bulan mengikuti jadwal MCU selanjutnya untuk melihat progres kesehatan secara nyata.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program ini, kantin rumah sakit juga mulai mengadaptasi menu yang lebih variatif dan mencantumkan perkiraan kalori serta kandungan nutrisi pada setiap porsi makanan. Dengan pendekatan berbasis data MCU ini, tim gizi RSO Soeharso dapat memberikan intervensi yang presisi, mengingat diet yang bersifat one-size-fits-all sering kali gagal karena tidak menyasar akar masalah kesehatan seseorang.***