Kamis, 16 April 2026 11:45 WIB

Senam dan Edukasi Pemeriksaan Radiologi dan Aktivitas Harian Aman untuk Pasien Stroke

Responsive image
MFY - RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr.dr.Mahar Mardjono Jakarta
28

Jakarta – Pendekatan edukasi stroke bukan hanya membahas tentang faktor risiko dan tanda-tanda saat seseorang mengalami serangan, tetapi juga bagaimana pemeriksaan yang dilakukan serta pemulihan pasca stroke. Pada Rabu, 15 April 2026, diselenggarakan edukasi “Keamanan Pemeriksaan Radiologi pada Pasien Stroke” dan “Aktivitas Harian Aman untuk Pasien Stroke” di Aula Lantai 13 Gedung B Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Jakarta). Edukasi ini berlangsung selama kurang lebih 2 jam dan merupakan bagian dari kegiatan rutin yang diadakan oleh RSPON Jakarta yang diawali dengan senam stroke bersama Club Stroke RSPON sebagai partisipan.

Senam dan edukasi ini tidak hanya dihadiri oleh para pasien pasca stroke, tetapi mereka juga didampingi oleh anggota keluarga yang berperan sebagai caregiver. Selama kegiatan berlangsung, tercipta interaksi yang interaktif berupa tanya jawab antara partisipan dengan narasumber ahli dari RSPON Mahar Mardjono Jakarta, yaitu dr. Febian Sandra, Sp.Rad yang membahas materi “Keamanan Pemeriksaan Radiologi pada Pasien Stroke” dan Wiwit Amelia, A.Md.OT yang membahas materi “Aktivitas Harian Aman untuk Pasien Stroke”.

Melalui edukasi ini, diharapkan partisipan dapat memahami bahwa pemeriksaan radiologi aman dilakukan pada pasien stroke apabila pasien mengikuti prosedur serta arahan radiografer selama proses pengambilan citra. Hal ini meliputi memverifikasi data terlebih dahulu sehingga jenis pemeriksaan sesuai dengan surat pengantar dari dokter. Petugas akan menanyakan riwayat penyakit, alergi, atau penggunaan implan logam. Pasien diminta melepas benda logam (jam tangan, perhiasan, kacamata) dan mengganti pakaian dengan baju khusus pemeriksaan bila diperlukan. Apabila persiapan telah dijalankan, pemeriksaan dapat dilakukan, dan pasien dipastikan akan merasa aman sampai pemeriksaan selesai.

Selanjutnya, dalam edukasi tentang penerapan aktivitas harian pada pasien stroke, materi berfokus pada peningkatan fungsi motorik dan koordinasi, melatih kemampuan kognitif dan persepsi, adaptasi lingkungan, serta penggunaan alat bantu bila diperlukan. Bentuk latihan yang dipaparkan meliputi aktivitas perawatan diri (Basic ADL) seperti makan dan minum (latihan menggenggam sendok/gelas, menggunakan tangan sisi lemah secara bertahap), berpakaian (memakai baju dari sisi lemah terlebih dahulu, latihan penggunaan kancing, ritsleting, atau velcro), mandi dan kebersihan diri (latihan berdiri atau duduk stabil saat mandi, menggunakan kursi mandi atau pegangan), serta toileting (latihan transfer dari kursi roda ke toilet, penguatan keseimbangan saat duduk–berdiri).

Selain itu, terdapat pula aktivitas instrumental (IADL) seperti menyiapkan makanan sederhana, menyapu atau merapikan tempat tidur, mengelola obat harian, serta mengatur uang atau berbelanja ringan. Untuk latihan motorik dan sensorik dalam aktivitas, pasien dapat melakukan latihan menggenggam bola atau spons, memindahkan benda kecil (kancing, koin), aktivitas dua tangan (melipat handuk), dan stimulasi sensori (mengenali tekstur benda). Jika terdapat gangguan kognitif, latihan kognitif dan persepsi yang dapat dilakukan antara lain latihan memori sederhana seperti menyusun puzzle, latihan atensi dan konsentrasi, serta mengenali sisi tubuh yang lemah (untuk pasien dengan neglect).

Diharapkan melalui edukasi tentang penerapan aktivitas harian yang aman untuk pasien stroke ini, pasien dapat kembali mandiri semaksimal mungkin, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi ketergantungan, dan meningkatkan kualitas hidup.***