Senin, 20 April 2026 16:26 WIB

RSUP Dr M Djamil Gencarkan Edukasi IVA untuk Cegah Kanker Serviks

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
15

Padang - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui kegiatan promotif dan preventif yang berkesinambungan. Pada Senin, 20 April 2026, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan mengadakan edukasi kesehatan tentang pemeriksaan IVA di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan deteksi dini kanker leher rahim yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.

Dalam kegiatan edukasi tersebut, narasumber dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obgin, dr. Febri Rahma Astri, memaparkan pentingnya deteksi dini kanker leher rahim melalui metode Pap smear maupun metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Pemeriksaan ini dianjurkan bagi wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, terutama pada kelompok usia 30 hingga 50 tahun. Karena pada rentang usia tersebut risiko terjadinya perubahan sel di leher rahim cenderung meningkat.

Ia menjelaskan tujuan utama dari pemeriksaan IVA adalah untuk menemukan lesi prakanker serta mendeteksi adanya perubahan sel sejak dini pada leher rahim. Dengan deteksi yang dilakukan lebih awal, penanganan dapat segera diberikan sehingga peluang kesembuhan menjadi jauh lebih besar. “Metode IVA sendiri memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya pemeriksaan yang sederhana, mudah, dan cepat, serta hasilnya dapat langsung diketahui tanpa harus menunggu proses laboratorium,” ucapnya.

Untuk memperkuat pesan edukasi, Ia turut memberikan penegasan terkait pentingnya skrining rutin. “Kanker leher rahim merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dan dideteksi sejak dini melalui skrining rutin. Kami mengimbau perempuan, khususnya usia produktif, untuk tidak menunda pemeriksaan karena deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” ujarnya.

Keunggulan lain dari metode ini adalah tidak memerlukan fasilitas laboratorium yang kompleks sehingga dapat dilaksanakan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas bahkan melalui layanan mobil keliling. Pemeriksaan ini juga dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih seperti dokter umum dan bidan, sehingga cakupan pelayanan dapat lebih luas menjangkau masyarakat.

Dokter tersebut juga menekankan pemeriksaan IVA bukanlah prosedur yang menakutkan maupun menyakitkan, sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk melakukannya. “Pemeriksaan IVA adalah metode yang sederhana, cepat, dan aman, serta dapat dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Jangan menunggu muncul gejala, karena pada tahap awal kanker sering kali tidak menunjukkan tanda apa pun, sehingga skrining menjadi langkah paling efektif untuk perlindungan diri,” tambahnya.

Apabila pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan kunjungan tunggal, yaitu pemeriksaan IVA yang dilanjutkan dengan tindakan krioterapi bila ditemukan lesi, maka hal ini dapat meminimalisasi kemungkinan pasien tidak kembali untuk pengobatan lanjutan (loss to follow-up). Dengan demikian, upaya deteksi dan penanganan menjadi lebih efektif dan efisien.

Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan IVA sebagai langkah preventif dalam melawan kanker leher rahim. RSUP Dr. M. Djamil mengajak seluruh perempuan untuk tidak ragu melakukan skrining secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki tenaga terlatih dan sarana yang memadai. ***