Jakarta - RS Anak dan Bunda Harapan Kita (RSAB Harapan Kita) resmi menandatangani Service Agreement dengan perusahaan teknologi pendidikan asal Amerika Serikat, ELSA Corp, pada hari Rabu, 17 Juni 2026. Kemitraan ini berfokus pada penyediaan platform pembelajaran bahasa Inggris "We Speak English" yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan komunikasi tenaga medis dan staf rumah sakit.
Acara seremonial yang diselenggarakan di Ruang 507 Lantai 5 Gedung Administrasi ini mengawali kerja sama strategis berdurasi tiga tahun. Pada kesempatan ini, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, Sp.A(K), diwakili oleh Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), FISQua, baik dalam penyampaian sambutan maupun prosesi penandatanganan kesepakatan. Pihak ELSA Corp diwakili langsung oleh Mr. Will Polese selaku Vice President of Revenue.
Dalam sambutannya, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo menegaskan komitmen RSAB Harapan Kita untuk terus mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam kemampuan percakapan bahasa Inggris secara berkesinambungan. Sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional untuk Ibu dan Anak, peningkatan kompetensi ini krusial untuk memberikan pelayanan yang optimal tidak hanya bagi pasien dalam negeri, tetapi juga dalam rangka menyambut peningkatan tren wisata medis (medical tourism) dan melayani pasien ekspatriat di Indonesia.
"Melalui implementasi program ini, kami berharap para staf akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan keterampilan komunikasi bahasa Inggris mereka," tutur Dr. Ariani. Beliau juga menambahkan adanya harapan agar inovasi di RSAB Harapan Kita ini kelak dapat diangkat menjadi model rujukan di tingkat nasional.
Kolaborasi dengan ELSA Corp ini menjadi inovasi pertama di mana platform pembelajaran bahasa Inggris berbasis kecerdasan buatan (AI) disesuaikan secara spesifik dengan konteks medis. Mr. Will Polese menyampaikan bahwa modul yang dikembangkan tidak akan berfokus pada percakapan dasar, melainkan simulasi skenario klinis nyata seperti "Apakah Anda mengalami nyeri dada?" atau "Apakah bayinya masih menendang?".
Untuk menghindari misinformasi atau halusinasi AI, konten pembelajaran tersebut akan ditinjau dan divalidasi langsung secara berkala oleh tenaga profesional RSAB Harapan Kita demi memastikan akurasi konteks medis.
"Tujuan kami adalah membantu memfasilitasi percakapan tersebut, sehingga tenaga medis dapat berfokus penuh pada pekerjaan dan pelayanan kesehatan yang mereka berikan, bukan kebingungan mencari kata-kata yang tepat," jelas Mr. Polese.
Melalui langkah proaktif ini, RSAB Harapan Kita berharap tenaga kesehatan Indonesia, yang berjumlah besar dan sangat berbakat, dapat tampil percaya diri menangani pasien internasional tanpa harus bergantung pada sumber daya dari luar negeri. ***