Padang - RS M. Djamil kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan dengan menyambut 18 peserta Program Fellowship yang berasal dari berbagai rumah sakit di Sumatera Barat, Aceh, Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, dan Sulawesi Tenggara, pada Selasa, 2 Juli 2026. Selain peserta Fellowship, turut hadir dua peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Program Studi Jantung dari Universitas Prima Medan yang akan menjalani proses pendidikan di RS M. Djamil.
Sebagai Rumah Sakit Penyelenggara Pendidikan Utama (RSPPU) di bawah Kementerian Kesehatan, RS M. Djamil terus berperan aktif dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten melalui berbagai program pendidikan berbasis pelayanan. Kehadiran para peserta Fellowship ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dokter spesialis sekaligus memperkuat pemerataan layanan kesehatan rujukan di berbagai wilayah Indonesia.
Selama mengikuti program di RS M. Djamil, para peserta akan mendalami sembilan bidang Fellowship, yaitu Fellowship Kardiologi Intervensi, Neonatologi, Terapi Sistemik Onkologi Toraks, Onkologi, Tatalaksana Penyakit Ginjal dengan Dialisis Tahap Dasar. Kemudian Tatalaksana Penyakit Saluran Cerna dengan Endoskopi Tahap Dasar, Bedah Endo-Laparoskopi, Bedah Kolorektal, serta Endoskopi Ginekologi Reproduksi dan Fertilitas.
Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi klinis melalui pembelajaran berbasis kasus, pendampingan langsung oleh dokter pendidik klinis, serta pemanfaatan teknologi dan fasilitas pelayanan kesehatan yang dimiliki RS M. Djamil.
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, mengatakan penyelenggaraan Program Fellowship merupakan salah satu bentuk tanggung jawab rumah sakit dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan di Indonesia.
“Sebagai Rumah Sakit Penyelenggara Pendidikan Utama (RSPPU), RS M. Djamil memiliki tanggung jawab tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas, membangun budaya akademik yang kuat, serta mengembangkan penelitian dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan keberhasilan proses pendidikan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan keterampilan klinis, tetapi juga oleh semangat belajar dan kolaborasi yang dibangun selama mengikuti program. “Kami percaya pendidikan terbaik lahir dari perpaduan antara pengalaman klinis, pembelajaran ilmiah, penelitian, dan keteladanan para pendidik klinis. Oleh karena itu, manfaatkan kesempatan selama mengikuti Fellowship untuk memperkaya wawasan, memperdalam keterampilan, berdiskusi dengan para pembimbing, serta membangun jejaring profesional yang akan menjadi bekal dalam pengembangan layanan di rumah sakit masing-masing,” katanya.
Menurutnya, ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama menjalani Fellowship diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan di daerah asal para peserta. “Keberhasilan Program Fellowship tidak hanya diukur dari kemampuan teknis yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut dapat diterapkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah asal. Kami berharap sepulang dari RS M. Djamil, para peserta menjadi agen perubahan yang mampu mengembangkan layanan spesialistik, memperkuat jejaring rujukan, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas," tutur dr. Maliana.
Ia menegaskan penguatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan bagian penting dari implementasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan. Oleh sebab itu, para peserta Fellowship diharapkan mampu membangun budaya belajar sepanjang hayat serta adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Karena itu, kami mengajak seluruh peserta Fellowship untuk terus mengembangkan budaya belajar sepanjang hayat, budaya riset, budaya inovasi, serta memanfaatkan perkembangan teknologi, digitalisasi layanan kesehatan, dan kecerdasan artifisial secara bijaksana untuk mendukung praktik klinik yang aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien," pungkasnya. ***