Jakarta - Dalam upaya memperkuat sistem manajemen keselamatan dan meningkatkan kesiapsiagaan seluruh civitas hospitalia terhadap potensi situasi darurat, Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta menyelenggarakan kegiatan krusial bertajuk " Pelatihan dan Simulasi Penanganan Kedaruratan dan Bencana ".
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 8–9 Juli 2026 ini dilaksanakan secara komprehensif. Sesi pendalaman teori dipusatkan di Ruang Kelas A Diklat RSAB Harapan Kita, sedangkan visualisasi praktis taktis serta simulasi lapangan digelar di area pelayanan RSAB Harapan Kita. Guna memastikan transfer pengetahuan berjalan optimal dan sesuai standar regulasi kedaruratan terkini, RSAB Harapan Kita menggandeng tenaga ahli eksternal dari PT. Edudamkar Smart Indonesia .
Acara ini dibuka langsung oleh Direktur Layanan Operasional RSAB Harapan Kita, dr. Kamal Amirudin, MARS . Dalam sambutan pembukaannya yang sarat akan pesan filosofis dan taktis, dr. Kamal menegaskan bahwa indikator utama keberhasilan penanganan bencana adalah kematangan perencanaan yang dibangun pada saat situasi sedang normal dan tenang.
"Rumah kita, jangan perbaiki atapnya pada saat lagi hujan. Tapi pada saat lagi terang. Kalau kita mau menangani bencana dengan baik, maka lakukan perencanaan dengan baik, siapkan itu ketika tidak ada bencana. Kunci dari penanganan bencana itu pada saat tenang," tegas dr. Kamal mengutip esensi pepatah lama.
Lebih lanjut, dr. Kamal memaparkan tiga prinsip utama kedaruratan yang wajib dipahami oleh seluruh lini staf rumah sakit, Refleksi Operasional Harian, Kesiapan menghadapi bencana besar tercermin dari kualitas pelayanan sehari-hari. Jika dalam kondisi normal pelayanan seperti koordinasi ambulans atau penanganan di IGD masih keteteran, rumah sakit akan lumpuh total saat bencana datang menghantam infrastruktur mendasar seperti pasokan listrik dan air, Prinsip Time Saving is Life Saving, Keterlambatan hitungan menit dapat berujung pada hilangnya nyawa. Sebagai contoh, sumbatan jalan napas (airway) memiliki batas toleransi kritis maksimal hanya 5 menit, Penolong Tercepat adalah Orang Terdekat: Penolong pertama di lapangan bukanlah tim penyelamat eksternal yang jauh, melainkan rekan sejawat atau siapa pun yang berada paling dekat dengan korban. Dr. Kamal menggarisbawahi pentingnya edukasi massal ini agar tindakan yang diambil adalah P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), bukan justru memicu KP3 (Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama) akibat salah penanganan.
Pada hari pertama, fokus diarahkan pada asesmen awal (pre-test), pembekalan materi mengenai SK Tanggap Darurat Rumah Sakit, dasar-dasar proteksi kebakaran, prosedur evakuasi, hingga penyusunan skenario dan pembagian peran taktis. Sesi siang dilanjutkan dengan gladi resik skenario evakuasi untuk mematangkan koordinasi antartim.
Hari kedua diisi dengan simulasi riil berskala penuh yang melibatkan mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk menciptakan situasi yang mendekati kondisi darurat yang sesungguhnya. Staf rumah sakit juga dibekali keahlian motorik langsung dalam memadamkan api menggunakan metode tradisional/konvensional, penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), serta teknik formasi regu hidran gedung. Acara ditutup dengan sesi debriefing dan evaluasi menyeluruh bersama tim instruktur.
Menutup arahannya, dr. Kamal membagikan refleksi historisnya saat terjun langsung sebagai relawan medis dalam merespons berbagai bencana besar nasional, mulai dari situasi konflik di Ambon dan Poso, gempa bumi di Nabire selama 1,5 bulan di dalam tenda darurat, hingga tsunami Aceh dan Nias.
Beliau mengingatkan bahwa keterlibatan dalam tim penanganan bencana melampaui sekat hitung-hitungan kalkulator materi formal semata. Hal ini dikarenakan dalam realita bencana, petugas kesehatan sering kali harus mengorbankan kenyamanan pribadi, menghadapi ancaman keselamatan fisik, bahkan berpotensi menjadi bagian dari korban itu sendiri.
Melalui pelaksanaan pelatihan intensif ini, RSAB Harapan Kita mempertegas komitmennya dalam menjaga keselamatan pasien (patient safety) dan menciptakan lingkungan kerja yang tangguh, tanggap, dan teruji terhadap segala bentuk ancaman kedaruratan di masa depan. ***