Jakarta – Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya dalam memperkuat pendidikan dokter spesialis dan subspesialis melalui Teaching Hospital Transformation for Advanced Medical Specialists (TITANS). Komitmen tersebut disampaikan dalam pembukaan Appraisal Mission Proyek TITANS yang digelar di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan dr. Azhar Jaya, S.H., SKM, MARS, menyampaikan bahwa Proyek TITANS merupakan salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkuat kapasitas rumah sakit pendidikan dalam menghasilkan dokter spesialis dan subspesialis yang berkualitas. Program ini juga mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, serta agenda Transformasi Kesehatan nasional.
Menurutnya, pelaksanaan Appraisal Mission menjadi tahapan penting dalam memastikan kesiapan implementasi proyek melalui penyelesaian berbagai aspek teknis, kelembagaan, dan tata kelola. Hasil dari proses ini akan menjadi dasar bagi kelancaran pelaksanaan proyek pada tahap berikutnya.
Direktur Jenderal menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dan subspesialis, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun pemerataan distribusi. Saat ini, Indonesia masih kekurangan lebih dari 31.000 dokter spesialis, sementara kapasitas pendidikan hanya mampu menghasilkan sekitar 2.700 hingga 3.000 dokter spesialis setiap tahun. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan rujukan tersier dan belum optimalnya kapasitas pendidikan tenaga medis spesialistik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Proyek TITANS akan memperkuat sarana dan prasarana rumah sakit pendidikan, meningkatkan kapasitas tenaga pendidik, memanfaatkan teknologi medis modern, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit pendidikan, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pendidikan dokter spesialis sekaligus mendukung pelayanan kesehatan rujukan yang lebih berkualitas dan berkeadilan.
Pelaksanaan Proyek TITANS melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Kesehatan, Islamic Development Bank (IsDB) sebagai mitra pembangunan, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), serta rumah sakit yang menjadi lokasi proyek.
Dalam sambutannya, Direktur Jenderal menekankan bahwa keberhasilan Proyek TITANS bergantung pada kolaborasi lintas sektor, tata kelola proyek yang transparan dan akuntabel, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi digital untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran. Ia juga menegaskan bahwa setiap investasi yang dilakukan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta memperkuat sistem kesehatan nasional secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh kementerian, lembaga, dan Islamic Development Bank atas dukungan terhadap Proyek TITANS. Ia berharap Appraisal Mission dapat berjalan lancar, menghasilkan rekomendasi terbaik, serta menjadi momentum memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan transformasi rumah sakit pendidikan dan sistem kesehatan Indonesia yang lebih maju. ***