Senin, 13 Juli 2026 17:31 WIB

Perkuat Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Gelar Workshop dan Simulasi Hospital Disaster Plan

Responsive image
KML - RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar
137

Makassar - Sebagai rumah sakit rujukan utama, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dikenal selalu berada di garda terdepan dalam mengirimkan tim tanggap darurat saat bencana nasional terjadi, mulai dari tsunami Aceh hingga gempa Palu.

Namun, bagaimana kesiapan rumah sakit jika bencana justru terjadi di dalam lingkungan kerja mereka sendiri?

Pertanyaan besar inilah yang menjadi latar belakang digelarnya Workshop dan Simulasi Hospital Disaster Plan (HDP) yang diinisiasi oleh Instalasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini 9-10 Juli 2026 diikuti oleh 242 peserta perwakilan dari seluruh ruang pelayanan.

Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad, Sp.B., FICS., FISQua., AIFO-K, menegaskan bahwa kesiapan internal merupakan hal krusial yang tidak boleh diabaikan. Berdasarkan pemetaan risiko kebencanaan di rumah sakit, terdapat tiga potensi ancaman utama yang paling mungkin terjadi.

"Pertama adalah kebakaran, kedua gempa bumi karena posisi kita dekat dengan jalur sesar Palu Koro, dan yang ketiga adalah kegawatdaruratan non-teknis atau elektrikal, seperti pemadaman listrik total (blackout) dalam kurun waktu tertentu yang tidak dapat dikontrol," ujar dr. Annas dalam sambutannya.

Dr. Annas kemudian menceritakan pengalaman masa lalu saat gedung PCC lantai 5 sempat terbakar. Kala itu, proses evakuasi pasien dari lantai 5 tanpa menggunakan lift menjadi tantangan yang sangat luar biasa. Begitu pula risiko kegagalan sistem kelistrikan yang dapat memicu kepanikan di ruang intensif seperti ICU, di mana keselamatan pasien sangat bergantung pada alat ventilator.

Oleh karena itu, simulasi ini dirancang untuk melatih seluruh jajaran rumah sakit—mulai dari Direktur Utama selaku Incident Commander, Direktur Medik sebagai komandan lapangan, hingga petugas di garis bawah—agar memahami tugas pokok dan fungsinya saat status darurat diaktifkan.

"Kita akan menyimulasikan satu skema terpadu yang mencakup berbagai kode kedaruratan, seperti Code Red (kebakaran), Code Blue (henti jantung), hingga kedaruratan lain seperti penculikan (Code Pink) dan kekerasan. Termasuk simulasi penyelamatan vertikal (vertical rescue) yang akan dipusatkan di Gedung Mother and Child," tambah dr. Annas.

Melalui kegiatan ini, pihak manajemen juga mendorong lahirnya sistem kolaborasi informasi yang terintegrasi antar-gedung rumah sakit yang kompleks. Harapannya, jika terjadi indikasi bahaya di satu gedung, potensi personel di gedung lain dapat segera dimobilisasi untuk membantu.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Kepala Instalasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Ilham A. Rifai, SKM, M.Kes, dalam laporannya menyampaikan bahwa agenda ini bertujuan untuk menyelaraskan teori dengan pengujian sistem di lapangan.

"Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis tetapi juga menguji secara langsung kesiapan sistem Hospital Disaster Plan, aktivasi Hospital Incident Command System (HICS), koordinasi lintas profesi, komunikasi darurat, serta kemampuan evakuasi pasien secara terpadu," jelas Ilham.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh dan menjadikannya sebagai media evaluasi bersama untuk menemukan celah atau kekurangan yang masih ada.

"Hasil dari workshop dan simulasi ini akan menjadi dasar perbaikan berkelanjutan demi meningkatkan keselamatan pasien (patient safety), keselamatan petugas, serta menjaga keberlangsungan pelayanan rumah sakit. Goalnya adalah penguatan budaya keselamatan (safety culture) di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo," pungkasnya.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari pihak manajemen rumah sakit karena merupakan bagian integral dalam memperkuat sistem manajemen penanggulangan bencana, sebagaimana diatur dalam standar akreditasi nasional rumah sakit.***