Senin, 20 Juli 2026 13:33 WIB

RSAB Harapan Kita Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Tim Puskesmas Guna Tekan Angka Stunting di Kabupaten Mimika

Responsive image
Humas - RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta
83

TimikaΒ - Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita sebagai lembaga pelatihan terakreditasi Kementerian Kesehatan, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, menyelenggarakan "Workshop Penguatan Kapasitas Tim Stunting Puskesmas dalam Deteksi Dini, Pencegahan, dan Sistem Rujukan Kasus Stunting Kabupaten Mimika Tahun 2026". Acara ini dilaksanakan selama empat hari, mulai dari Rabu hingga Sabtu, 15-18 Juli 2026, bertempat di Hotel Grand Tembaga, Timika, Papua Tengah.

Langkah proaktif ini diambil guna merespons tingginya tantangan perbaikan status gizi balita di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Mimika masih berada di angka 28,4%. Sementara itu, data surveilans gizi tahun 2025 menunjukkan persentase 9,87%, yang mengindikasikan masih adanya kampung dan kelurahan dengan masalah status gizi tinggi. Kondisi ini membutuhkan upaya penanganan yang serius dan merata.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dr. Novitria Dwinanda, Sp.A, membagikan pandangannya mengenai pencegahan stunting. Ia menekankan bahwa stunting bukanlah kondisi yang terjadi begitu saja tanpa tanda-tanda awal.

"Jadi stunting itu tidak terjadi secara tiba-tiba, semua ada jalannya dan bisa dicegah, yaitu diawali dengan adanya gagal tumbuh kemudian berat badan kurang, gizi kurang, gizi buruk dan akhirnya stunting," jelas dr. Novitria. "Stunting bisa dicegah."

Lebih lanjut, dr. Novitria memaparkan bahwa stunting membawa dampak serius bagi anak yang terbagi menjadi dua fase utama, yakni : Dampak Jangka Pendek : Anak dengan masalah malnutrisi seperti stunting akan memiliki daya tahan tubuh yang lemah dan sangat mudah sakit. "Jadi apabila suatu wilayah mengalami pandemi campak, TBC dan infeksi yang lainnya. Pikirkan, apakah ini ada malnutrisi di belakangnya," ungkapnya, Dampak Jangka Panjang : Kondisi stunting akan sangat memengaruhi perkembangan otak anak, khususnya tingkat kecerdasan (IQ). Penurunan kualitas IQ ini nantinya akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kondisi sosial ekonomi di suatu daerah. "Sehingga mencegah tentu saja lebih baik daripada mengobati," tegas dr. Novitria.

Workshop ini diikuti oleh 85 peserta secara gratis, yang terdiri dari berbagai profesi tenaga kesehatan dari 26 Puskesmas di Kabupaten Mimika. Profesi yang menjadi sasaran utama meliputi Dokter Umum, Perawat, Bidan, hingga Nutrisionis. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi Tim Stunting Puskesmas dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, dan tata laksana kasus stunting secara komprehensif.

Selama empat hari, peserta menerima materi spesifik keprofesian secara klasikal, bedah kasus, hingga praktik langsung ke pasien yang dipandu oleh narasumber ahli, yakni dr. Prajna, Sp.A dan dr. Novitria Dwinanda, Sp.A. Beberapa materi dan kompetensi kunci yang diberikan meliputi : Identifikasi penyebab serta determinan stunting, Praktik pengukuran antropometri yang benar sesuai standar nasional, Interpretasi kurva pertumbuhan untuk menentukan diagnosis nutrisi dan status gizi anak, Edukasi pemberian ASI, dukungan menyusui, serta penyusunan menu MPASI yang tepat untuk mencegah stunting, Tata laksana kasus awal pada anak dengan malnutrisi dan penyusunan rencana asuhan gizi (Nutritional Care Plan), dan Mekanisme sistem rujukan kasus anak dengan malnutrisi serta prosedur rujuk balik.

Puskesmas sebagai garda terdepan di masyarakat memiliki peran yang sangat krusial. Seringkali kendala di lapangan seperti kesalahan prosedur pengukuran atau keterlambatan rujukan justru memperparah kondisi malnutrisi pada balita. Merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: HK.01.07/MENKES/1928/2022 tentang PNPK Tata Laksana Stunting, workshop ini dirancang untuk memastikan standarisasi prosedur di tingkat pelayanan kesehatan primer. Melalui penguatan kapasitas ini, diharapkan seluruh tim Puskesmas memiliki kompetensi seragam dalam menekan angka stunting secara terukur di Kabupaten Mimika. ***