Makassar - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo menggelar Rapat Kerja (Raker) Monitoring dan Evaluasi (Monev) Indikator Kinerja Rumah Sakit Semester I Tahun 2026 pada Kamis 16 Juli 2026. Pertemuan ini menjadi ajang evaluasi menyeluruh terhadap kinerja rumah sakit sekaligus perumusan strategi untuk mengejar target Kementerian Kesehatan pada semester kedua.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad, Sp.B, FICS, FISQua, AIFO-K, menyampaikan bahwa secara umum capaian kinerja rumah sakit pada semester I tahun 2026 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan periode audit tahun 2024 dan 2025.
Meski demikian, manajemen mencatat masih ada sejumlah indikator yang belum memenuhi target.
"Alhamdulillah capaian kita di semester I cukup signifikan meningkat. Ini tentu hasil kerja keras kita semua, meskipun di beberapa catatan masih ada indikator yang belum tercapai. Ini menjadi tantangan bagi kita agar segera dicapai di semester II," ujar Annas dalam sambutannya pada Raker Monev tersebut.
Annas menegaskan bahwa evaluasi ini juga mencakup penilaian kinerja personal di setiap jenjang jabatan. Manajemen tidak menutup kemungkinan untuk melakukan intervensi, baik dari sisi metode kerja maupun penataan personel, guna memastikan seluruh instrumen organisasi berfungsi optimal.
"Bagi target yang belum tercapai dan berulang terus-menerus, perlu diintervensi, apakah perlu mengganti personalnya atau mengintervensi cara kerjanya," tegasnya.
Dalam arahannya, Annas menyoroti tantangan klasik yang masih dihadapi rumah sakit, yakni pengelolaan keuangan, khususnya pada pencapaian Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA).
Meskipun tren pendapatan rumah sakit menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2025, pencapaian EBITDA dinilai belum memenuhi target ideal yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Dua komponen utama yang menjadi perhatian serius adalah beban Sumber Daya Manusia (SDM) dan beban farmasi.
"Diharapkan pada Desember 2026 pemanfaatan farmasi kita sudah bisa berada di bawah 30 persen atau mencapai target 25 persen. Jika dilihat trennya dari 2024 ke 2026, kita mengalami penurunan beban farmasi yang baik," kata Annas.
Untuk menekan beban operasional tanpa mengurangi kualitas pelayan medis, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya melalui penguatan restriksi penggunaan obat, Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), serta pemeriksaan penunjang yang berpatokan pada clinical pathway.
Annas menekankan pentingnya peran Komite Medik, Departemen, dan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dalam mengimplementasikan clinical pathway terintegrasi yang melibatkan lini keperawatan dan profesi kesehatan lainnya.
Di sisi lain, tim Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) juga tengah mengembangkan sistem restriksi berbasis teknologi untuk mempermudah kontrol penggunaan farmasi dan logistik medis secara real-time.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, seluruh pimpinan tim (Katim), subtim, instalasi, hingga departemen diharapkan dapat melahirkan gagasan dan program inovatif untuk mengejar ketercapaian indikator pada semester II 2026.***