Padang - RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada pasien, khususnya para pejuang kanker yang menjalani rangkaian pengobatan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kesehatan yang digelar di Unit Kemoterapi RS M. Djamil pada Rabu, 2 September 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan tersebut menjadi bagian dari upaya RS M. Djamil dalam meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang pengobatan kanker, khususnya kemoterapi. Edukasi diberikan dengan pendekatan yang mudah dipahami sehingga pasien tidak hanya mengetahui proses pengobatan yang dijalani, tetapi juga memiliki kesiapan secara mental dan pengetahuan dalam menghadapi berbagai tahapan terapi.
Penyuluhan menghadirkan dr. Pamelia Mayorita, Sp.PA, Subsp. MS (K) sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, dr. Pamelia menyampaikan materi bertajuk “Basamo Kito Lawan, Basamo Kito Manang” yang mengandung pesan tentang pentingnya semangat, kebersamaan, serta keyakinan dalam menghadapi perjalanan panjang pengobatan kanker.
Di hadapan pasien dan keluarga, dr. Pamelia menjelaskan kemoterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker dengan menggunakan obat-obatan khusus yang masuk ke dalam aliran darah dan dapat menjangkau berbagai bagian tubuh. Karena itu, kemoterapi memiliki peran penting dalam membantu menangani sel kanker sesuai dengan kondisi dan tujuan pengobatan masing-masing pasien.
“Yang perlu dipahami, kemoterapi bukanlah sekadar obat. Kemoterapi adalah salah satu senjata dalam perjuangan kita melawan kanker,” jelas dr. Pamelia.
Menurutnya, kemoterapi dapat diberikan dengan tujuan yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi pasien, jenis kanker, stadium penyakit, serta rencana terapi yang telah ditentukan oleh tim medis. Pada kondisi tertentu, kemoterapi dapat diberikan dengan tujuan menyembuhkan. Pada kondisi lainnya, kemoterapi dapat diberikan sebagai terapi neoadjuvan, yaitu pengobatan yang diberikan sebelum tindakan utama seperti operasi untuk membantu mengecilkan atau mengendalikan kanker.
Kemoterapi juga dapat diberikan sebagai terapi adjuvan setelah tindakan utama, dengan tujuan membantu mengurangi risiko kanker kembali. Sementara itu, pada kondisi tertentu, kemoterapi dapat digunakan untuk mengendalikan perkembangan penyakit atau diberikan sebagai terapi paliatif guna membantu mengurangi keluhan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Jadi, tujuan kemoterapi tidak selalu sama pada setiap pasien. Karena itu, pasien perlu memahami bahwa terapi yang diberikan sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing,” ungkapnya.
Dalam penyuluhan tersebut, dr. Pamelia juga membahas berbagai efek samping yang mungkin muncul selama pasien menjalani kemoterapi. Beberapa efek samping yang dapat dialami antara lain mual dan muntah, kelelahan, menurunnya daya tahan tubuh, perubahan nafsu makan, rambut rontok, sariawan, perubahan pada kuku atau kulit, hingga rasa mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki.
Namun, ia menekankan munculnya efek samping pada setiap pasien dapat berbeda. Tidak semua pasien akan mengalami seluruh efek samping tersebut dengan tingkat keparahan yang sama. “Tidak semua efek samping akan Anda alami. Setiap orang berbeda-beda. Jadi jangan langsung berpikir bahwa semua efek samping pasti akan terjadi pada diri kita,” jelas dr. Pamelia.
Ia juga mengingatkan pasien agar tidak takut menyampaikan setiap keluhan yang dirasakan kepada tim medis. Berbagai efek samping yang muncul selama kemoterapi dapat dipantau dan ditangani sesuai kondisi pasien. Tim medis juga telah menyiapkan berbagai langkah untuk membantu meringankan keluhan sehingga pasien dapat menjalani proses pengobatan dengan lebih nyaman.
“Jangan dipendam kalau ada keluhan. Sampaikan kepada dokter atau perawat. Tim medis sudah menyiapkan obat dan penanganan untuk membantu meringankan efek samping yang muncul,” katanya.
Selain membahas efek samping, penyuluhan juga menjelaskan tentang alasan kemoterapi diberikan secara bertahap. Pasien dan keluarga diberikan pemahaman bahwa kemoterapi umumnya dilakukan dalam beberapa siklus dengan jeda tertentu. Pemberian secara bertahap dilakukan berdasarkan pertimbangan medis, termasuk memberikan kesempatan kepada tubuh untuk memulihkan diri sebelum memasuki siklus pengobatan berikutnya.
Menurut dr. Pamelia, pasien perlu mengikuti jadwal dan tahapan kemoterapi yang telah ditentukan oleh dokter. Kepatuhan terhadap jadwal pengobatan menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan terapi. “Kenapa kemoterapi diberikan bertahap? Karena tubuh juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan diri. Jadi, setiap siklus yang diberikan sudah diperhitungkan oleh tim medis berdasarkan kondisi pasien,” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, pasien dan keluarga juga diberikan pemahaman tentang kondisi yang membutuhkan perhatian segera setelah menjalani kemoterapi. Pasien diingatkan untuk tidak menunda mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami keluhan atau kondisi yang mengkhawatirkan, terutama ketika kondisi tersebut berbeda dari keluhan yang biasa dirasakan.
Pemahaman tersebut dinilai penting karena pasien kanker tidak hanya membutuhkan pengobatan secara medis, tetapi juga membutuhkan pengetahuan mengenai bagaimana menjaga kondisi tubuh selama menjalani rangkaian terapi. Keluarga pun memiliki peran penting dalam memberikan dukungan, membantu memantau kondisi pasien, serta memastikan pasien mengikuti anjuran dan jadwal pengobatan.
dr. Pamelia menyampaikan pesan kepada para pejuang kanker agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi proses pengobatan. Perjalanan melawan kanker memang membutuhkan waktu, kesabaran, serta kekuatan, namun setiap tahapan pengobatan merupakan bagian dari ikhtiar untuk mencapai kondisi kesehatan yang lebih baik. “Untuk para pejuang kanker, tetap semangat. Jangan merasa sendiri. Kita hadapi bersama-sama. Basamo kito lawan, basamo kito manang,” pesannya. ***