Senin, 05 Oktober 2026 18:25 WIB

RS M Djamil Edukasi Pasien Hemodialisa tentang Diet dan Nutrisi untuk CKD

RS M Djamil Edukasi Pasien Hemodialisa tentang Diet dan Nutrisi untuk CKD
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 36 kali dilihat

Padang - Menjalani hemodialisa bukan hanya tentang rutin datang ke rumah sakit dan mengikuti prosedur medis. Bagi pasien Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis, apa yang dikonsumsi setiap hari juga menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi tubuh. Karena itu, pemahaman tentang diet dan nutrisi menjadi salah satu hal yang terus diperkuat oleh RS M. Djamil.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi kesehatan yang digelar di Unit Hemodialisa Instalasi Diagnostik Terpadu RS M. Djamil, pada Senin, 5 Oktober 2026. Kegiatan yang dilaksanakan melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan tersebut memberikan edukasi kepada pasien tentang pengaturan pola makan dan pemenuhan nutrisi yang tepat bagi penderita CKD.

Edukasi menghadirkan Ns. Erik Frannole, S.Kep, Fithratur Rahmah, AMK, Ns. Riska, S.Kep, Sumiyanti, Amd.Kep, Irma Yannasti, Amd.Kep, dan Muthiyara Allifah, Amd.Kep. Para tenaga kesehatan tersebut memberikan pemahaman tentang pentingnya mengatur asupan makanan dan minuman agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa memperberat kondisi ginjal.

Ns. Riska, S.Kep dalam pemaparannya menjelaskan diet pada pasien CKD bukan berarti pasien harus menghindari banyak makanan atau mengurangi makan secara berlebihan. Diet justru bertujuan memastikan tubuh memperoleh zat gizi dan energi yang cukup dengan jumlah serta jenis yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

“Diet dan nutrisi pada pasien CKD merupakan bagian penting dalam pengelolaan penyakit. Tujuannya adalah memperlambat penurunan fungsi ginjal, memenuhi kebutuhan energi dan mencegah kekurangan gizi, mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta mencegah penumpukan cairan, kalium, fosfor dan sisa zat metabolisme,” jelas Ns. Riska.

Menurutnya, gangguan fungsi ginjal dapat menyebabkan kemampuan tubuh dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit serta membuang sisa metabolisme menjadi terganggu. Kondisi tersebut membuat pasien perlu lebih cermat dalam memilih makanan maupun mengatur jumlah cairan yang dikonsumsi.

Karena itu, terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan dalam menjalankan diet pada pasien CKD. Pasien tetap harus mendapatkan energi yang cukup, membatasi natrium atau garam, menyesuaikan asupan protein, mengatur jumlah cairan, serta memperhatikan kandungan kalium dan fosfor dalam makanan.

Pengaturan tersebut tidak dapat dilakukan dengan pola yang sama untuk setiap pasien. Kebutuhan nutrisi dapat berbeda tergantung kondisi pasien, hasil pemeriksaan laboratorium, penyakit penyerta, fungsi ginjal, hingga status pasien dalam menjalani hemodialisa.

“Pengaturan diet harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jadi, bukan berarti semua pasien CKD memiliki aturan makan yang sama. Ada kebutuhan tertentu yang perlu disesuaikan berdasarkan kondisi klinis dan pemeriksaan pasien,” ujarnya.

Dalam pemilihan makanan, pasien tetap dapat mengonsumsi nasi atau sumber karbohidrat lainnya sesuai kebutuhan energi. Sumber protein seperti ikan, telur maupun daging juga dapat dikonsumsi sesuai porsi yang dianjurkan. Sayuran dan buah tetap dapat menjadi bagian dari menu harian, dengan memperhatikan kebutuhan dan kandungan kalium.

Pasien juga dianjurkan lebih banyak memilih makanan segar dan mengurangi makanan yang telah melalui banyak proses pengolahan. Penggunaan garam juga perlu dibatasi karena asupan natrium yang berlebihan dapat berpengaruh terhadap tekanan darah dan keseimbangan cairan tubuh.

Sementara itu, bagi pasien yang mendapatkan pembatasan cairan, jumlah cairan yang masuk ke tubuh perlu benar-benar diperhatikan. Cairan harus dikonsumsi sesuai batas yang telah ditentukan oleh tenaga kesehatan.

“Jika pasien mendapatkan pembatasan cairan, maka jumlah cairan yang dikonsumsi harus mengikuti batas yang telah ditentukan. Jangan hanya menghitung air putih, tetapi juga perlu memperhatikan makanan atau minuman lain yang mengandung cairan,” kata Ns. Riska.

Di sisi lain, sejumlah jenis makanan perlu dibatasi atau dihindari. Makanan dengan kandungan garam tinggi, makanan instan dan makanan olahan menjadi salah satu yang perlu dikurangi. Pasien juga perlu memperhatikan makanan dengan kandungan fosfor maupun kalium yang tinggi, sesuai dengan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing.

Konsumsi cairan secara berlebihan juga perlu dihindari. Demikian pula dengan asupan protein yang terlalu banyak atau justru terlalu sedikit. Pengaturan protein harus tetap berada pada jumlah yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Edukasi tersebut juga mengingatkan pasien untuk tidak sembarangan mengonsumsi suplemen maupun produk herbal. Meski kerap dianggap aman karena berasal dari bahan alami, penggunaannya tetap perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan.

“Jangan mengonsumsi suplemen atau herbal tanpa konsultasi. Pasien dengan gangguan ginjal memiliki kondisi yang perlu diperhatikan secara khusus sehingga apa pun yang dikonsumsi sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Selain memperhatikan jenis makanan, pasien juga dianjurkan menerapkan pola makan secara teratur. Memilih makanan segar dan minim olahan, membatasi garam serta bumbu instan menjadi langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemantauan kondisi tubuh juga tidak kalah penting. Pasien dianjurkan memantau berat badan dan tekanan darah secara berkala serta mengikuti pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk membantu tenaga kesehatan mengetahui perkembangan kondisi pasien dan melakukan penyesuaian terhadap terapi maupun kebutuhan nutrisi.

Ns. Riska menegaskan pasien tidak perlu mengambil keputusan sendiri terkait diet apabila masih mengalami kebingungan mengenai makanan yang boleh maupun tidak boleh dikonsumsi. “Kalau pasien masih ragu tentang makanan yang boleh dikonsumsi, jumlah cairan, atau kebutuhan nutrisi lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi. Dengan begitu, kebutuhan nutrisi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien,” tukasnya. ***