Cedera saat berolahraga merupakan hal yang cukup sering terjadi, baik pada atlet profesional maupun masyarakat yang aktif berolahraga. Cedera seperti keseleo pergelangan kaki, tarikan otot, atau cedera ligamen lutut sering dialami saat berlari, bermain sepak bola, badminton, atau aktivitas fisik lainnya.
Selama bertahun-tahun, banyak orang mengenal metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) sebagai cara pertolongan pertama pada cedera jaringan lunak seperti keseleo atau cedera otot. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para ahli mulai memperkenalkan pendekatan baru yang dianggap lebih komprehensif, yaitu metode PEACE and LOVE. Metode ini tidak hanya berfokus pada fase awal cedera, tetapi juga mencakup proses pemulihan hingga pasien kembali beraktivitas secara normal.
Metode RICE telah digunakan sejak lama sebagai panduan penanganan awal cedera olahraga yang terdiri dari:
- Rest (Istirahat) mengurangi aktivitas pada bagian tubuh yang cedera agar tidak memperparah kerusakan jaringan.
- Ice (Kompres es) bertujuan mengurangi nyeri dan pembengkakan pada area yang cedera.
- Compression (Kompresi) menggunakan perban elastis untuk membantu mengurangi pembengkakan.
- Elevation (Elevasi) mengangkat bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi aliran cairan yang menyebabkan bengkak.
Metode RICE telah digunakan secara luas selama puluhan tahun dan masih menjadi salah satu pertolongan pertama yang umum diajarkan pada masyarakat. Namun, perkembangan penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses penyembuhan jaringan tidak hanya bergantung pada pengurangan pembengkakan, tetapi juga pada proses inflamasi alami tubuh yang membantu memperbaiki jaringan yang rusak.
Pada tahun 2019, para peneliti memperkenalkan pendekatan baru yang disebut “PEACE and LOVE.” Pendekatan ini dirancang untuk mencakup seluruh proses pemulihan cedera, mulai dari fase akut hingga tahap rehabilitasi.
Tahap Pertama: PEACE, Tahap ini dilakukan segera setelah cedera terjadi.
P – Protection (Perlindungan)
Bagian tubuh yang cedera perlu dilindungi dari aktivitas berat selama beberapa hari untuk mencegah cedera semakin parah.
E – Elevation (Elevasi)
Mengangkat area cedera lebih tinggi dari jantung untuk membantu mengurangi pembengkakan.
A – Avoid anti-inflammatory (Hindari obat anti-inflamasi)
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat anti-inflamasi pada fase awal cedera dapat mengganggu proses penyembuhan alami tubuh.
C – Compression (Kompresi)
Penggunaan perban elastis dapat membantu mengontrol pembengkakan.
E – Education (Edukasi)
Pasien perlu memahami proses penyembuhan dan pentingnya rehabilitasi yang tepat, bukan hanya mengandalkan terapi pasif.
Tahap Kedua: LOVE, setelah fase awal terlewati, proses pemulihan dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih aktif.
L – Load (Pemberian beban secara bertahap)
Gerakan dan aktivitas ringan secara bertahap membantu mempercepat pemulihan jaringan.
O – Optimism (Optimisme)
Faktor psikologis seperti rasa percaya diri dan sikap positif terbukti berperan dalam proses pemulihan cedera.
V – Vascularization (Meningkatkan aliran darah)
Latihan ringan seperti bersepeda atau berjalan dapat membantu meningkatkan aliran darah dan mempercepat proses penyembuhan.
E – Exercise (Latihan)
Program latihan rehabilitasi membantu mengembalikan kekuatan otot, fleksibilitas, dan fungsi sendi secara optimal.
Bagaimana dengan Kompres Es?
Kompres es selama ini menjadi salah satu langkah paling populer dalam penanganan cedera olahraga. Es memang dapat membantu mengurangi nyeri dalam jangka pendek. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan es secara berlebihan dapat memperlambat proses penyembuhan karena mengurangi aktivitas metabolik dan proses inflamasi yang sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Meski demikian, penggunaan es masih sering digunakan dalam praktik klinis, terutama untuk membantu mengontrol rasa nyeri pada fase awal cedera.
Meskipun metode PEACE and LOVE semakin banyak dibahas dalam dunia medis, metode RICE masih tetap digunakan sebagai pertolongan pertama pada banyak kasus cedera ringan. Saat ini, para dokter dan tenaga kesehatan masih terus meneliti pendekatan terbaik dalam penanganan cedera jaringan lunak. Belum ada kesepakatan mutlak mengenai metode mana yang paling optimal untuk semua kondisi. Namun, pendekatan PEACE and LOVE memberikan perspektif baru bahwa proses pemulihan cedera tidak hanya bergantung pada istirahat, tetapi juga pada aktivitas terkontrol, rehabilitasi, dan faktor psikologis pasien.
Cedera olahraga merupakan masalah yang sering terjadi pada individu yang aktif secara fisik. Metode PEACE and LOVE menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam penanganan cedera jaringan lunak, mulai dari perlindungan pada fase awal hingga rehabilitasi aktif untuk mengembalikan fungsi tubuh. Meskipun masih terdapat perdebatan mengenai penggunaan es dan obat anti-inflamasi, konsep PEACE and LOVE dapat menjadi panduan yang mudah diingat bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat dalam menangani cedera olahraga. Yang terpenting, jika nyeri atau pembengkakan tidak membaik dalam beberapa hari, atau cedera terasa berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Referensi:
Dubois, B. and Esculier, J.F., 2020. Soft-tissue injuries simply need PEACE and LOVE. British journal of sports medicine, 54(2), pp.72-73.
Marinta, Y., 2025. Review of PEACE and LOVE the new era of RICE in acute soft tissue injury management?-A narrative review. Orthopaedic Journal of Sports Medicine, 13(9_suppl2), p.2325967125S00043.
Rizvi, A. and Asthana, S. 2025. Holistic approach to managing acute soft tissue injury: PEACE and LOVE protocol-observational research. International Journal of Research in Orthopaedics.
https://physioandfitnessclinic.com.au/acute-injury-management-peace-love