Rabu, 15 April 2026 14:05 WIB

Kekerasan Seksual Verbal di Era Digital

Responsive image
16
dr Lahargo Kembaren SpKJ - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Perilaku kekerasan adalah tindakan yang menyakiti, menakut-nakuti, merendahkan, atau membahayakan orang lain maupun diri sendiri. Tidak harus selalu memukul dan menendang tapi kata-kata yang diucapkan dan dituliskan juga bisa menjadi kekerasan.

Setiap kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan konsekuensi negatif bagi korban berupa luka. Dan tidak semua luka terlihat, ada luka yang lahir dari kata-kata, gambar, stiker, meme dan tawa di grup chat, yang dianggap candaan biasa, tetapi diam-diam merobek rasa aman seseorang dan menghancurkan harga diri korban.

Di era digital, kekerasan seksual semakin sering hadir dalam bentuk yang tidak kasat mata. Ia tidak selalu berupa sentuhan atau tindakan fisik. Sering kali, ia muncul dalam bentuk komentar seksual, candaan yang merendahkan tubuh, objektifikasi, atau isi percakapan di grup yang mengubah seseorang menjadi bahan hiburan. Disinilah kita perlu memahami bahwa pelecehan seksual verbal dan digital adalah bentuk kekerasan yang nyata.

Pelecehan seksual tidak selalu fisik

Kita masih sering terjebak pada pemahaman bahwa kekerasan seksual baru dianggap serius bila ada kontak fisik. Padahal secara psikologis, kata-kata pun dapat melukai. Komentar seksual tanpa persetujuan, candaan cabul, body shaming bernuansa seksual, atau membahas seseorang sebagai objek fantasi seksual adalah bentuk kekerasan verbal dan digital. Kekerasan tidak selalu menyentuh tubuh, tetapi bisa langsung melukai jiwa.

Kekerasan Seksual sering terjadi di grup

Salah satu alasan mengapa perilaku ini sering muncul di grup adalah karena adanya dinamika psikologi kelompok. Ketika satu orang memulai candaan yang merendahkan, lalu yang lain tertawa, menyetujui, atau ikut menambahkan komentar, maka perilaku tersebut terasa semakin “normal”. Ini disebut group reinforcement atau penguatan kelompok.

Sesuatu yang salah bisa terasa biasa ketika ramai-ramai ditertawakan. Semakin banyak validasi dari kelompok, semakin tipis batas moral seseorang. Kadang seseorang tidak berubah menjadi buruk sendirian, tetapi berubah karena budaya kelompok yang membiarkannya.

Kekerasan seksual verbal bukan candaan

Kalimat yang paling sering muncul adalah “kan cuma bercanda”,  “jangan baper”, “serius amat”. Padahal justru kalimat-kalimat ini sering menjadi cara untuk menutupi kekerasan. Secara psikologis, ini adalah bentuk moral disengagement, yaitu ketika seseorang melepaskan perilakunya dari tanggung jawab moral. Candaan berhenti menjadi candaan ketika orang lain menjadi korbannya. Humor yang melukai martabat bukan humor, tetapi kekerasan yang dibungkus tawa.

Dampak Psikologis pada Korban

Seseorang yang mengalami pelecehan baik verbal, fisik, seksual, digital/cyber akan mengalami luka psikologis yang berat. Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan, tetapi oleh makna pengalaman yang dirasakan korban.

Pelecehan verbal atau digital dapat memberikan dampak yang sangat besar karena korban merasa direndahkan, dipermalukan, dijadikan objek, dan kehilangan rasa aman. Bahkan dalam beberapa kasus, efek emosionalnya bisa setara atau sangat berat, terutama bila percakapan tersebut menyebar luas dan diketahui banyak orang. Luka fisik mungkin tidak ada, tetapi luka pada harga diri, martabat, dan rasa aman bisa sangat dalam.

Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem, sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial, body image dan harga diri. Korban bisa terus mengulang percakapan tersebut dalam pikirannya (intrusive thought) menjadi PTSD (post traumatic stress disorder) yang tentunya dapat berdampak pada seluruh aspek kehidupannya di masa depan.

Ketika kasus menjadi viral, dampaknya sering kali meningkat.

Korban bisa mengalami secondary trauma, yaitu luka psikologis yang semakin berat karena kasusnya menjadi konsumsi publik. Efek yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

a. Akademik / kuliah

Korban bisa mengalami sulit fokus saat kuliah, takut masuk kelas, takut bertemu orang yang mengetahui kasus, hingga penurunan performa akademik. Trauma membuat pikiran terus siaga, sehingga konsentrasi belajar menurun.

b. Relasi sosial

Korban bisa menjadi menarik diri, menghindari teman, curiga terhadap lingkungan, dan takut dihakimi

Sering muncul pikiran seperti, Apakah mereka tahu? Apakah mereka sedang membicarakan saya? Dimana hal ini dapat berkembang menjadi kecemasan sosial.

c. Kepercayaan diri

Harga diri korban bisa sangat terdampak. Korban dapat mulai mempertanyakan dirinya seperti merasa malu, menyalahkan diri hingga merasa dirinya “kotor” atau dipermalukan. Yang paling sering terganggu bukan hanya rasa aman, tetapi rasa berharga dalam diri. “Korban tidak hanya membawa malu, tetapi sering membawa beban dengan menyalahkan diri.”

Penanganan korban: Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (PFA, Psychological First Aid)

Saat seseorang menjadi korban, yang dibutuhkan pertama kali bukan pertanyaan panjang, tetapi pertolongan pertama pada luka psikologis.

Pendekatan yang dapat digunakan adalah Psychological First Aid (PFA): Look – Listen – Link

a. Look (Lihat)

Amati kondisi emosional korban. Perhatikan tanda-tanda seperti, menangis, gemetar, bingung, menarik diri, tampak sangat takut, dan sulit berbicara. Lihat juga apakah ada risiko lebih lanjut, misalnya korban masih berada dalam lingkungan yang tidak aman. Sebelum bertanya, lihat dulu apakah ia merasa aman.

b. Listen (Dengarkan)

Dengarkan dengan empati, tanpa menghakimi, tanpa menyela, tanpa menyalahkan. Kalimat yang menolong: “Saya percaya kamu”, “Apa yang kamu rasakan valid”, “Kamu tidak sendirian”. Hindarilah berkomentar dengan kata “kenapa kamu diam saja?”, “kok bisa sih?”, “jangan terlalu dipikirkan”. Mendengar dengan empati sering menjadi awal penyembuhan. Korban tidak selalu butuh solusi cepat, kadang ia hanya butuh ruang yang aman untuk didengar.

c. Link (Hubungkan)

Hubungkan korban dengan bantuan yang dibutuhkan. Misalnya keluarga / teman terpercaya, psikolog / psikiater, konselor kampus / sekolah, ataupun layanan hukum / satgas terkait.

Jangan biarkan korban memikul luka sendirian. Dukungan yang tepat dapat mencegah luka berkembang menjadi trauma yang menetap. Dari sisi psikologis pelaku, apa yang mendorong seseorang melakukan pelecehan seksual di ruang digital? Ada beberapa faktor psikologis yang sering berperan.

a. Normalisasi dalam kelompok

Di ruang digital, terutama grup tertutup, perilaku menyimpang mudah dinormalisasi.

Ketika satu orang memulai candaan seksual, lalu yang lain tertawa dan ikut menanggapi, perilaku tersebut terasa semakin biasa. Ini disebut group reinforcement. Sesuatu yang salah bisa terasa normal ketika divalidasi oleh kelompok.

b. Disinhibition effect

Di ruang digital, orang sering merasa lebih berani dibandingkan interaksi tatap muka. Karena tidak melihat reaksi emosional korban secara langsung, empati bisa menurun. Layar sering membuat seseorang lupa bahwa ada manusia yang terluka di balik nama dan foto profil.

c. Objektifikasi dan kebutuhan validasi

Sebagian pelaku terdorong oleh pencarian validasi teman, ingin dianggap lucu, ingin diterima kelompok, bahkan superioritas maskulinitas. Korban tidak lagi dilihat sebagai manusia utuh, tetapi sebagai objek candaan atau validasi sosial.

d. Moral disengagement

Pelaku sering merasionalisasi perilakunya dengan kalimat “cuma bercanda”, “nggak serius”, atau “kan cuma chat”. Padahal secara psikologis ini adalah bentuk pelepasan tanggung jawab moral. Candaan berhenti menjadi candaan ketika martabat orang lain menjadi korbannya. Kekerasan seksual tidak harus berupa sentuhan langsung. Di era digital, kata-kata dan isi percakapan dapat melukai sama dalamnya dengan tindakan fisik, terutama ketika menyerang harga diri dan rasa aman korban.

 

Pencegahan

Pencegahan harus dimulai dari edukasi.

Ajarkan tentang consent, seberapa jauh batasan candaan, empati, etika digital, menghormati tubuh dan martabat orang lain. Yang lucu bagi satu kelompok bisa menjadi trauma bagi orang lain. Pencegahan terbaik adalah menumbuhkan empati sebelum luka terjadi.

Peran Teman dan Lingkungan

Lingkungan memegang peran besar. Jangan diam ketika melihat candaan yang melecehkan.

Yang kita bisa dilakukan adalah dengan cara jangan ikut tertawa, tegur teman, hentikan obrolan, bantu korban, arahkan untuk melapor. Diam juga bisa menjadi bentuk persetujuan. Bystander yang diam sering tanpa sadar ikut memelihara kekerasan.

Behaviour Modification pada Pelaku

Perubahan perilaku harus menyentuh pola pikir dan empati.

Dari yang semula “ini cuma bercanda” menjadi “ini bisa melukai orang lain”. Pelaku perlu belajar melihat perspektif korban. Sebuah pertanyaan reflektif juga bisa kita terapkan, Bagaimana jika ini terjadi pada orang yang kamu sayangi?

Konsekuensi dari hal ini juga harus jelas, berupa edukasi wajib, konseling, sanksi, serta monitoring perilaku digital.

Perilaku berubah ketika kesadaran bertemu konsekuensi. Kekerasan sering dimulai dari bahasa yang dinormalisasi. Ketika martabat seseorang direndahkan di ruang digital, kekerasan sudah terjadi, meski tanpa satu pun sentuhan. Yang terluka bukan hanya perasaan sesaat, tetapi rasa aman, harga diri, dan cara otak memandang dunia.

 

Referensi:

Bestari AP. Psychological impact of sexual violence and government efforts in making recovery. J Community Serv. 2021;6(2):1-9.

RAND Corporation. Psychological harms and treatment of sexual assault and sexual harassment. Santa Monica (CA): RAND; 2023.

Knipschild R, et al. A multidisciplinary framework for first aid after online sexual violence. BMC Public Health. 2025;25:11869328.

Centers for Disease Control and Prevention. Sexual violence prevention resource for action. Atlanta (GA): CDC; 2024.