Sebagian besar patah tulang dapat sembuh baik setelah ditangani dengan gips, pen, plate, screw, atau nail. Namun pada sebagian pasien, area patah tulang justru mengalami infeksi. Dalam ortopedi, kondisi ini dikenal sebagai Fracture-Related Infection atau FRI.
FRI bukan sekadar luka operasi yang tampak merah. Masalahnya bisa melibatkan kulit, jaringan lunak, tulang, sampai implan logam yang dipasang untuk menstabilkan patahan. Karena itu, FRI sering menjadi salah satu komplikasi yang paling menantang dalam bedah trauma ortopedi.
Mengapa kondisi ini penting? Karena infeksi dapat menghambat penyatuan tulang, memicu operasi berulang, memperpanjang penggunaan antibiotik, dan menurunkan fungsi anggota gerak. Kabar baiknya, FRI dapat dikenali dan ditangani dengan lebih baik bila pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan memahami tanda-tanda utamanya sejak awal.
Apa sebenarnya FRI?
Secara sederhana, FRI adalah infeksi yang terjadi pada lokasi patah tulang. Infeksi ini dapat muncul pada fraktur yang dioperasi maupun pada fraktur tertentu yang tidak dioperasi, tetapi paling sering dibahas pada pasien yang menjalani pemasangan alat fiksasi internal atau eksternal.
FRI berbeda dari infeksi sendi prostetik. Pada FRI, dokter tidak hanya menghadapi kuman, tetapi juga tulang yang sedang berusaha menyatu, jaringan lunak yang mungkin rusak, dan implan yang kadang masih sangat dibutuhkan agar fragmen tulang tetap stabil. Tantangan utamanya ada dua. Pertama, infeksi harus dikendalikan. Kedua, lingkungan biologis dan mekanis tulang harus tetap dijaga agar penyatuan tidak gagal.
FRI bisa terjadi karena kuman dapat masuk sejak awal cedera, terutama pada fraktur terbuka, atau saat tindakan operasi dan perawatan luka. Risiko meningkat bila kerusakan jaringan lunak luas, luka terkontaminasi, tindakan debridement dan penutupan luka terlambat, atau pasien memiliki faktor host yang kurang baik.
Pada permukaan implan, bakteri juga dapat membentuk biofilm. Ini adalah lapisan tipis yang membuat kuman lebih sulit dibersihkan oleh sistem imun dan lebih sulit dijangkau antibiotik. Inilah sebabnya mengapa infeksi pada kasus FRI sering memerlukan kombinasi operasi dan antibiotik, tidak cukup hanya dengan obat minum biasa.
Kapan dokter mulai curiga ada FRI?
Pada fase sangat awal setelah operasi, nyeri, bengkak, kemerahan, dan rasa hangat di sekitar luka masih bisa merupakan bagian dari respons penyembuhan normal. Karena itu, kecurigaan terhadap FRI biasanya muncul bila keluhan menetap, memburuk, atau muncul tanda yang tidak sesuai dengan perjalanan pascaoperasi biasa.
Tanda yang perlu diwaspadai antara lain luka terus basah, keluar cairan keruh atau nanah, luka terbuka kembali, muncul saluran kecil dari dalam ke kulit, nyeri yang semakin berat, pembengkakan yang tidak membaik, serta demam atau rasa tidak enak badan.
Pada fase yang lebih lambat, dokter juga perlu curiga bila tulang tidak kunjung menyatu, foto polos menunjukkan pelonggaran implan, atau pasien tetap nyeri padahal seharusnya fase pemulihan sudah berjalan lebih baik.
Diagnosis FRI tidak ditegakkan dari satu gejala saja. Dokter biasanya menggabungkan anamnesis, pemeriksaan fisik, tes darah, pencitraan, dan temuan saat operasi. Pemeriksaan darah seperti leukosit, CRP, atau LED dapat membantu, tetapi hasilnya tidak selalu spesifik.
Foto rontgen tetap penting untuk melihat posisi tulang dan kondisi implan. Pada kasus tertentu, dokter dapat mempertimbangkan CT scan, MRI, atau pemeriksaan nuklir bila informasi tambahan dibutuhkan. Tujuannya bukan hanya mencari infeksi, tetapi juga menilai apakah ada masalah stabilitas, kehilangan tulang, atau kerusakan jaringan lunak.
Bila kecurigaan cukup kuat dan tindakan operasi memang direncanakan, sampel jaringan dalam akan diambil untuk kultur. Prinsip pentingnya adalah kultur diambil dari jaringan dalam, bukan sekadar swab permukaan luka, karena hasil swab kulit sering tidak mencerminkan kuman penyebab yang sebenarnya.
Dalam konsensus internasional, diagnosis menjadi sangat kuat bila ditemukan fistel atau sinus, pus, luka yang breakdown, atau kuman yang sama tumbuh dari sedikitnya dua sampel jaringan dalam yang terpisah. Pada praktik sehari-hari, gabungan data klinis dan mikrobiologi menjadi penopang utama keputusan terapi.
Pengobatannya, terapi FRI hampir selalu bersifat multimodal. Artinya, tidak cukup hanya memberi antibiotik. Pasien umumnya memerlukan operasi untuk membersihkan jaringan mati dan jaringan terinfeksi, suatu tindakan yang dikenal sebagai debridement.
Saat debridement, dokter menilai beberapa hal sekaligus: apakah implan masih stabil, apakah tulang sudah menyatu, bagaimana kondisi jaringan lunak, apakah ada rongga tulang, dan apakah perlu rekonstruksi tambahan. Sesudah itu, terapi antibiotik disesuaikan dengan kuman yang ditemukan serta strategi bedah yang dipilih.
Pada sebagian kasus, jaringan lunak juga harus ditangani secara serius. Luka yang tidak tertutup baik akan menyulitkan pengendalian infeksi. Karena itu, prinsip ortopedi trauma modern menekankan bahwa kontrol infeksi, stabilitas tulang, dan kualitas penutupan jaringan lunak harus dipikirkan sebagai satu paket, bukan tiga masalah terpisah.
Pertanyaan yang sering muncul dari pasien dan keluarga adalah, Mengapa implan tidak selalu langsung dilepas? Secara intuitif, logam yang terinfeksi tampak seperti benda yang harus segera dikeluarkan. Namun pada FRI, keputusan tidak sesederhana itu. Bila tulang belum menyatu, implan sering masih dibutuhkan agar fragmen tetap stabil.
Stabilitas mekanik sangat penting dalam penyembuhan tulang. Bila implan dilepas terlalu cepat, tulang bisa kembali bergerak, patahan menjadi tidak stabil, dan infeksi justru makin sulit dikendalikan. Karena itu, pada kasus tertentu dokter memilih strategi debridement dengan implant retention, atau mengganti fiksasi dengan sistem lain yang lebih sesuai.
Sebaliknya, bila tulang sudah solid menyatu, pelepasan implan biasanya lebih memungkinkan. Pada situasi ini, sumber biofilm dapat dikurangi tanpa mengorbankan stabilitas tulang.
Bagaimana antibiotik diberikan?
Antibiotik pada FRI sebaiknya terarah. Artinya, pilihan obat didasarkan pada dugaan kuman, hasil kultur, dan kondisi klinis pasien. Pada fase awal, terapi sering dimulai secara intravena, lalu pada pasien yang sesuai dapat dilanjutkan dengan obat oral yang bioavailabilitasnya baik.
Durasi antibiotik tidak sama untuk semua pasien. Strategi bedah sangat memengaruhi lama terapi. Secara umum, terapi bisa lebih singkat bila implan dapat dilepas setelah tulang menyatu, dan lebih panjang bila implan harus dipertahankan atau diganti sebagai bagian dari upaya eradikasi infeksi. Karena itu, pasien tidak sebaiknya membandingkan lama pengobatan satu kasus dengan kasus lain secara langsung.
Pada infeksi tertentu, terutama yang melibatkan bakteri pembentuk biofilm, pemilihan antibiotik menjadi lebih spesifik. Di sinilah peran kultur, uji kepekaan kuman, dan kolaborasi dengan dokter penyakit infeksi atau internis menjadi sangat penting.
Apakah FRI bisa sembuh total?
Bisa, tetapi perjalanan terapinya sering lebih panjang dibanding infeksi kulit biasa atau luka pascaoperasi ringan. Pasien dapat memerlukan operasi lebih dari satu kali, kontrol berkala yang ketat, pemantauan laboratorium, evaluasi radiologi berulang, dan rehabilitasi fungsional.
Hasil akhir sangat dipengaruhi oleh ketepatan diagnosis, kualitas debridement, kondisi jaringan lunak, stabilitas tulang, jenis kuman, respons antibiotik, dan kondisi umum pasien. Karena itu, keberhasilan terapi FRI tidak hanya dinilai dari hilangnya nyeri atau keringnya luka, tetapi juga dari tercapainya kontrol infeksi, penyatuan tulang, dan kembalinya fungsi anggota gerak.
Pasien perlu segera mencari pertolongan bila luka operasi kembali basah, keluar cairan, nyeri bertambah, bengkak tidak membaik, muncul demam, atau anggota gerak yang dioperasi justru makin sulit digunakan. Menunggu terlalu lama dapat membuat infeksi semakin terorganisasi dan terapi menjadi lebih kompleks.
Pesan pentingnya sederhana. Pada kasus patah tulang yang tampak tidak berjalan sesuai pemulihan normal, jangan hanya fokus pada rasa sakit. Perhatikan juga kualitas luka, fungsi anggota gerak, dan perkembangan penyatuan tulangnya.
Referensi:
Matsuo T, Thompson AL, Yuan BJ, Suh GA. The Latest Approaches to Fracture-Related Infection.
Current Infectious Disease Reports. 2025;27:15.
Metsemakers WJ, Morgenstern M, McNally MA, et al. Fracture-related infection: a consensus on definition from an international expert group. Injury. 2018;49(3):505-510.
McNally M, Govaert G, Dudareva M, et al. Definition and diagnosis of fracture-related infection.
EFORT Open Reviews. 2020;5(10):614-619.
Rupp M, Popp D, Alt V. Fracture-Related Infection: Epidemiology, Etiology, Diagnosis, Treatment, and Prevention. Dtsch Arztebl International. 2024;121:143-152.
Sumber gambar:
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSBor2gFl502ajuW1ki70coDOxDM8levxMkkw&s