Jumat, 05 Juni 2026 16:37 WIB

Skizofrenia Memahami Mendampingi dan Menumbuhkan Harapan

Responsive image
37
dr Lahargo Kembaren SpKJ - RS Jiwa dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

Setiap tanggal 24 Mei diperingati sebagai Hari Skizofrenia Sedunia. Momentum peringatan ini mengajak masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang skizofrenia, mengurangi stigma, serta mendukung proses pemulihan penyintas gangguan jiwa.Salah satu luka terbesar pada skizofrenia bukan hanya gejalanya yang sangat berat dan menyulitkan tetapi juga stigma dan penolakan sosial yang dialami penderitanya. Dan kadang ini jauh lebih berat dihadapi.

Apa Itu Skizofrenia?

Skizofrenia adalah gangguan mental serius, berat dan kronis yang memengaruhi:

- cara berpikir,

- persepsi terhadap realita,

- emosi,

- perilaku,

- dan kemampuan berfungsi sehari-hari.

Skizofrenia bukan “kepribadian ganda”, bukan pula akibat kurang iman, kurang bersyukur atau kelemahan karakter. Skizofrenia adalah  kondisi medis psikiatri kompleks yang melibatkan perubahan fungsi otak, faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Menurut World Health Organization, sekitar 24 juta orang di dunia hidup dengan skizofrenia, atau sekitar 1 dari 300 orang. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa gangguan psikotik termasuk salah satu masalah kesehatan jiwa berat yang membutuhkan perhatian serius.

Skizofrenia sering muncul pada:

- usia remaja akhir,

- dewasa muda,

- masa produktif kehidupan.

Karena itu dampaknya dapat memengaruhi pendidikan, pekerjaan, relasi, dan kualitas hidup jangka panjang.

Skizofrenia dapat menyebabkan disabilitas karena sebagian pasien mengalami:

- putus sekolah,

- kehilangan pekerjaan,

- isolasi sosial,

- bahkan pemasungan akibat stigma dan kurangnya akses layanan.

Faktanya, banyak penyintas skizofrenia sebenarnya memiliki potensi besar bila mendapatkan terapi dan dukungan yang cepat dan tepat.

Penyebab Skizofrenia

Skizofrenia tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Gangguan ini muncul akibat kombinasi faktor:

1. Faktor Genetik, risiko meningkat bila ada anggota keluarga dengan gangguan serupa.

2. Faktor Neurobiologis, terdapat gangguan pada sistem neurotransmitter otak, terutama dopamin,

glutamat, dan serotonin.

3. Faktor Psikologis, trauma masa kecil, stres berat, bullying, atau tekanan emosional dapat menjadi pencetus pada individu yang rentan.

4. Faktor Lingkungan, misalnya: penggunaan zat psikoaktif, isolasi sosial, konflik keluarga, urban stress, kurang dukungan sosial.

Apa yang Terjadi di Otak?

Pada skizofrenia terjadi gangguan pemrosesan informasi di otak. Beberapa penelitian menunjukkan:

- aktivitas dopamin berlebihan pada jalur tertentu,

- gangguan konektivitas antar area otak,

- perubahan struktur otak tertentu,

- gangguan fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam: berpikir logis, pengambilan keputusan, regulasi emosi.

Akibatnya pikiran, persepsi, emosi, dan interpretasi realita menjadi terganggu. Sederhananya, otak kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan.

Gejala Skizofrenia Menurut DSM-5

Menurut DSM-5, minimal terdapat 2 gejala utama, dan salah satunya harus waham, halusinasi, atau bicara kacau.

1. Waham (Delusion), keyakinan yang tidak sesuai realita tetapi diyakini sangat kuat.

Contoh:

- merasa diawasi,

- merasa ada yang ingin mencelakai,

- merasa memiliki kekuatan khusus.

2. Halusinasi

Persepsi tanpa rangsangan nyata. Contoh yang paling sering adalah mendengar suara berbicara atau memerintah.

3. Bicara Kacau

Pola bicara yang sulit dipahami, seperti lompat topik, jawaban tidak nyambung, atau susunan kalimat tidak teratur.

4. Perilaku Kacau atau Katatonik

Misalnya, gelisah tanpa arah, diam membeku, perilaku aneh, dan sulit mengurus aktivitas sehari-hari.

5. Gejala Negatif

Berupa penurunan fungsi ekspresi emosi datar, menarik diri, kehilangan motivasi, bicara sedikit, sulit menikmati aktivitas.

Gejala menyebabkan gangguan fungsi sosial dan pekerjaan yang bermakna.

Tata Laksana Skizofrenia

1. Pola Hidup Sehat

Pola hidup sehat akan membantu stabilitas mental seperti tidur cukup, olahraga rutin, makan bergizi, menghindari alkohol dan narkoba, mengelola stres, dan aktivitas terstruktur.

2. Psikofarmaka

Obat antipsikotik membantu mengurangi halusinasi, waham, agitasi, dan gejala psikotik lainnya. Kepatuhan minum obat sangat penting untuk mencegah kekambuhan.

3. Psikoterapi

Beberapa pendekatan yang membantu antara lain CBT untuk psikosis, psikoterapi suportif, terapi keluarga, psikoedukasi

4. Rehabilitasi Psikososial

Fokus membantu pasien kembali berfungsi sosial, bekerja, belajar, hidup lebih mandiri. Hal ini termasuk latihan keterampilan hidup, remediasi kognitif, latihan keterampilan sosial, dan latihan kerja (okupasi, vokasional)

5. Neurostimulasi

Pendekatan modern yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti:

- Transcranial Magnetic Stimulation, menggunakan stimulasi magnetik pada area otak tertentu.

- Neurofeedback, melatih regulasi aktivitas otak menggunakan umpan balik EEG.

- Electroconvulsive Therapy, digunakan pada kondisi berat tertentu, misalnya:katatonia, agitasi berat, depresi psikotik, atau kasus yang tidak respons terhadap terapi lain.

Peran Keluarga dan Masyarakat

Keluarga bukan penyebab skizofrenia. Tetapi keluarga dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Yang dibutuhkan pasien adalah ingin didengarkan, dipahami, didampingi, dan bukan dihakimi.

Hal yang penting dilakukan keluarga:

- membantu kepatuhan pengobatan,

- mengenali tanda kekambuhan,

- menjaga komunikasi yang tenang,

- menghindari stigma dan kekerasan,

- mendukung aktivitas positif pasien.

Disamping itu, masyarakat juga dapat berperan:

- menghentikan stigma,

- membuka kesempatan kerja,

- membangun lingkungan suportif,

- meningkatkan literasi kesehatan jiwa.

Recovery is Possible

Banyak orang mengira skizofrenia berarti hidup telah berakhir. Padahal kenyataannya:

Banyak penyintas skizofrenia mampu pulih, bekerja, bersekolah, membangun relasi, menikah, berkeluarga bahkan berkarya dengan baik. Recovery bukan selalu berarti gejala hilang total. Recovery berarti hidup lebih bermakna, lebih mandiri, memiliki harapan, dan mampu menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik.

“Yang paling dibutuhkan penyintas skizofrenia bukan hanya obat tetapi juga harapan, dukungan, dan manusia lain yang mau memahami.”

 

Referensi:

American Psychiatric Association. psychiatry.org?. 5th ed. Text Revision. Washington DC: American Psychiatric Publishing; 2022.
who.int?. Geneva: World Health Organization; 2025.
Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 12th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2022.
Stahl SM. Stahl’s Essential Psychopharmacology: Neuroscientific Basis and Practical Applications. 5th ed. Cambridge: Cambridge University Press; 2021.