Selasa, 02 Juni 2026 16:22 WIB

Mengapa Halusinasi Bisa Terjadi Memahami Kondisi dan Penanganannya

Responsive image
17
Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Halusinasi merupakan salah satu dari gangguan jiwa dimana seseorang tidak mampu membedakan antara kehidupan nyata dengan kehidupan palsu. Dampak yang muncul dari pasien dengan gangguan halusinasi mengalami panik, perilaku dikendalikan oleh halusinasinya, dapat bunuh diri atau membunuh orang, dan perilaku kekerasan lainnya yang dapat membahayakan dirinya maupun orang di sekitarnya. Halusinasi yang dialami oleh individu dapat disebabkan oleh faktor presipitasi dan predisposisi. Didukung dengan berbagai penyebabnya seperti (1) faktor biologis, (2) faktor pola asuh orang tua, (3) lingkungan, (4) sosial budaya, (5) ekonomi, dan (6) stress. Individu yang mengalami halusinasi jika tidak dapat mengontrolnya maka klien akan melakukan perilaku yang dapat membahayakan dirinya, orang lain, dan juga lingkungannya. Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasinya dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, antara lain : pasien mengenal halusinasi yang dialaminya, pasien memiliki keinginan untuk sembuh, sikap pasien dalam menerima terapi, keterbukaan pasien dalam memberikan informasi terkait halusinasi yang sedang dialami, pengetahuan dan dukungan dari keluarga pasien, lingkungan tempat tinggal pasien, dan pelayanan kesehatan. Halusinasi juga bisa disertai oleh delusi, yaitu keyakinan terhadap sesuatu yang tidak ada atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Agar tidak memberikan gangguan yang semakin memburuk bagi Kesehatan dan lingkungan maka harus segera ditangani dan dicegah.

Penyebab Halusinasi

Penyebab halusinasi sangat bervariasi, mulai dari gangguan mental hingga penyakit fisik.

1.Gangguan mental

Halusinasi dapat disebabkan oleh sejumlah gangguan mental di bawah ini :

  • Skizofrenia
  • Psikosis
  • Gangguan bipolar
  • Depresi dengan gangguan psikotik.
  • Borderline Personality Disorder (BPD).
  • Post-traumatic Stress Disorder (PTSD).
  • Delirium atau demensia.

2.Penyakit fisik

Beberapa jenis penyakit di bawah ini bisa menyebabkan halusinasi :

  • Demam tinggi, terutama pada anak dan lansia.
  • Penyakit Parkinson
  • Tumor otak
  • Penyakit Alzheimer
  • Gangguan pada mata
  • Gangguan di telinga bagian dalam.
  • Migrain
  • Epilepsi
  • Sindrom Charles Bonnet.
  • Stroke

3.Kondisi lain

Halusinasi juga bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi berikut :

  • Kecanduan alkohol
  • Gangguan tidur
  • Penyalahgunaan NAPZA
  • Cedera kepala

Pencegahan dan Penanganan

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan halusinasi agar tidak terus menerus mengganggu pikiran :

1. Kenali dan terima pengalaman.

Langkah pertama dalam menghadapi halusinasi adalah mengenali dan menerima bahwa sedang mengalaminya. Sering kali kita cenderung melawan atau merasa takut dengan halusinasi yang kondisi ini justru memperburuk keadaan. 

Cobalah untuk mengakui bahwa halusinasi adalah bagian dari pikiran kita saat ini, tetapi bukanlah diri kita seutuhnya. Dengan menerimanya, kita dapat mengurangi kekuatan halusinasi untuk mengontrol emosi dan pikiran kita.

2. Latihan pernapasan

Pernapasan adalah alat yang sangat efektif untuk mengembalikan fokus dan ketenangan. Ketika halusinasi muncul, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam melalui hidung. Tahan sejenak, lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Fokuskan perhatian kita pada sensasi udara yang masuk dan keluar dari tubuh. 

Latihan pernapasan ini membantu mengalihkan pikiran dari halusinasi dan membawa kita kembali ke momen saat ini. Lakukan ini selama beberapa menit hingga kita merasa lebih tenang.

3. Gunakan teknik grounding.

Grounding adalah teknik mindfulness yang membantu kita "mendaratkan" diri kembali ke realitas. Saat halusinasi muncul, cobalah untuk menyentuh benda di sekitar, seperti meja, kursi, atau lantai. Rasakan tekstur, suhu, dan bentuknya. 

Kita juga bisa mencoba teknik 5-4-3-2-1 : temukan lima hal yang bisa kita lihat, empat hal yang bisa kita sentuh, tiga hal yang bisa kita dengar, dua hal yang bisa kita cium, dan satu hal yang bisa kita rasakan. Teknik ini membantu kita mengalihkan perhatian dari halusinasi dan mengembalikan kesadaran kita pada lingkungan sekitar.

4. Praktik meditasi mindfulness.

Meditasi mindfulness adalah cara yang ampuh untuk melatih pikiran agar lebih fokus dan tenang. Carilah tempat yang nyaman, duduk dengan posisi tegak, dan tutup mata. Fokuskan perhatian pada napas, sensasi tubuh, atau suara di sekitar kita. 

Jika halusinasi muncul, jangan melawannya. Anggap saja sebagai kawan yang berlalu di langit. Dengan latihan rutin, meditasi mindfulness dapat membantu kita mengurangi frekuensi dan intensitas halusinasi.

5. Kurangi stres dan cukup istirahat.

Stres dan kelelahan adalah pemicu umum halusinasi. Mindfulness mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kebutuhan tubuh dan pikiran. Pastikan kita tidur dan istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, dan luangkan waktu untuk relaksasi. 

Aktivitas seperti yoga, jalan-jalan di alam, atau sekadar duduk santai sambil menikmati secangkir teh dapat membantu mengurangi stres dan mencegah halusinasi.

6. Jalin komunikasi dengan diri sendiri.

Sering kali halusinasi muncul sebagai respons dari emosi atau pikiran yang terpendam. Cobalah untuk menjalin komunikasi dengan diri sendiri melalui jurnal mindfulness

Tuliskan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan alami setiap hari. Dengan mengekspresikan emosi secara tertulis, kita dapat lebih memahami akar masalah yang mungkin memicu halusinasi.

7. Cari dukungan profesional.

Jika halusinasi terus mengganggu dan sulit dikendalikan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikolog atau psikiater dapat membantu kita memahami penyebab halusinasi dan memberikan terapi yang tepat.

Misalnya dengan  terapi kognitif perilaku (CBT) atau terapi mindfulness-based cognitive therapy (MBCT). Kombinasi antara praktik mindfulness dan bantuan profesional seringkali memberikan hasil yang lebih efektif.

8. Bangun rutinitas mindfulness.

Konsistensi adalah kunci dalam praktik mindfulness. Cobalah untuk membangun rutinitas sehari-hari yang mencakup meditasi, pernapasan sadar, atau aktivitas mindfulness lainnya. Semakin sering kita melatih mindfulness, semakin mudah bagi kita untuk mengelola halusinasi dan menjaga ketenangan pikiran.

9. Menghindari minuman beralkohol dan napza.

minuman beralkohol dan napza merupakan salah satu pemicu stress dan halusinasi, untuk itu kita harus dapat menghindarinya.

 

 

 

Referensi :

Heryanto Adi Nugroho. 2021. Perawatan Halusinasi, Dukungan Keluarga dan Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi : Literature Review. Jurnal Kesehatan Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang.

Damanik, P. H. 2019. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Peran Serta Keluarga Dalam Merawat Pasien Halusinasi di Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem Medan Tahun 2019.  38, pp. 3-10.

Nur Anisa Fitri. 2024. Penerapan Mengontrol Halusinasi dengan Melakukan Aktivitas Terjadwal di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Kesehatan Stikes Makasar.

Nurlela, L., Harfika, M. and Novitasari, L. E. 2019. Family Support Relationships with Patient Adaptation Ability above with Diagnosis Hallucination of Post Care.

Sumah, D. F. 2020. Dukungan Keluarga Berhubungan dengan Kemampuan Pasien Skizofrenia dalam Mengontrol Halusinasi di RSKD Provinsi Maluku. Program Studi Keperawatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku, 1.