Sabtu, 22 Maret 2025 01:25 WIB

Instalasi Promkes M. Djamil-Sub Divisi Neurologi Sosialisasi Nyeri Kepala Klaster

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
21

Padang (21/03) - Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran RSUP Dr. M. Djamil bersama Sub Divisi Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil mengadakan penyuluhan kesehatan. Penyuluhan dalam rangka Hari Cluster Headache Awareness Day pada 21 Maret ini membahas tentang Nyeri Kepala Klaster yang disampaikan Dr. dr. Restu Susanti, Sp.N (K), M.Biomed Konsultan Nyeri Kepala.

"Sakit kepala klaster adalah kondisi nyeri kepala berat di daerah mata, pelipis, atau dahi pada satu sisi wajah. Durasi serangan 15 menit sampai 3 jam dan frekuensi serangan 2 hari sekali hingga 8 kali," kata Dr. dr. Restu Susanti, Sp.N (K), M.Biomed Konsultan Nyeri Kepala.

Ia mengatakan jenis sakit kepala ini dapat terjadi pada semua kalangan usia. Namun paling sering terjadi pada pria berusia 30–40 tahun. "Rasio laki-laki lebih banyak dari pada perempuan (3:1)," sebutnya.

Penyebab nyeri kepala klaster ini, sebut Dr. dr. Restu Susanti, belum diketahui secara pasti. "Namun terdapat beberapa dugaan bahwa kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada bagian hipotalamus atau bagian otak, saraf dan pembuluh darah di daerah wajah," tuturnya.

Di samping itu, sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadinya jenis sakit kepala ini. Yakni berjenis kelamin pria, usia lebih 30 tahun, konsumsi alkohol, riwayat keluarga, dan riwayat operasi atau cedera kepala.

"Sementara faktor pencetus nyeri kepala klaster adalah alkohol, perubahan ketinggian, cahaya terang, suhu ekstrem, makanan berbahan nitrat dan penyalahgunaan zat (kokain)," sebutnya.

Ia mengatakan adapun beberapa karakteristik nyeri kepala yang diakibatkan oleh kondisi ini adalah nyeri kepala berat di sekitar mata, pelipis, atau dahi pada salah satu sisi wajah, durasi serangan 15 menit-3 jam dengan frekuensi serangan dua hari sekali hingga 8 kali per hari serta perasaan gelisah.

"Dan dapat disertai dengan gejala pada sisi yang sama. Yakni mata berair, hidung berair, hidung tersumbat, kelopak mata bengkak, serta dahi dan wajah berkeringat," tuturnya.

Penanganan nyeri kepala klaster ini, ucap Dr. dr. Restu Susanti, rutin cek kesehatan, hindari obat anti-nyeri berlebihan, kompres, pijat, istirahat cukup dan segera periksa ke dokter.

"Pencegahan nyeri kepala klaster yakni tidak merokok, tidak konsumsi alkohol, hindari senyawa berbahaya. Hati-hati ketinggian, hindari stres dan istirahat teratur, hindari cuaca ekstrem, konsumsi obat sesuai anjuran dokter serta hindari sinar terang dan suara gaduh," tukasnya. (*)