Kamis, 22 Januari 2026 10:50 WIB

RSOMH Bukittinggi Gelar Pelatihan Clinical Pathway untuk Perkuat Mutu Layanan dan Kendali Biaya Klaim BPJS

Responsive image
Humas - RS Otak Dr.Drs.M. Hatta Bukittinggi
58

Bukittinggi (20/01) - Rumah Sakit Otak DR. Drs. Mohammad Hatta (RSOMH) Bukittinggi menyelenggarakan Pelatihan Clinical Pathway (CP) selama dua hari, bertempat di Grand Rocky Hotel Bukittinggi. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis rumah sakit dalam memperkuat sistem kendali mutu dan kendali biaya pelayanan kesehatan yang berdampak langsung terhadap pengelolaan klaim BPJS Kesehatan.

Pelatihan ini menekankan pentingnya penyusunan Clinical Pathway secara komprehensif, terstruktur, dan terintegrasi, dengan mempersiapkan berbagai komponen pelayanan yang meliputi asuhan medis, asuhan keperawatan, asuhan nutrisi, asuhan farmasi, serta pelayanan administrasi. Seluruh komponen tersebut harus saling terhubung dan berfokus pada kebutuhan pasien sebagai prinsip dasar dalam penyusunan CP.

Kegiatan pelatihan secara resmi dibuka oleh Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSOMH Bukittinggi, Zaineti, SKM, MM, serta diikuti oleh 10 Clinical Pathway spesialis dari berbagai bidang pelayanan.

Sebagai narasumber utama, RSOMH menghadirkan pakar nasional di bidang mutu pelayanan rumah sakit, Dr. Djoni Darmadjaja, SpB, MARS, FISQua, MQM, CHAE, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang IT Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Dalam pemaparannya, Dr. Djoni menjelaskan bahwa secara teori Clinical Pathway hanya mencakup sekitar 30 persen dari seluruh penyakit yang ditangani di rumah sakit. Namun demikian, penerapannya memiliki peran besar dalam menjaga kualitas pelayanan dan efisiensi pembiayaan.

“Dalam melihat Clinical Pathway, kita harus memahami journey atau perjalanan pasien sejak masuk hingga selesai mendapatkan pelayanan,” ujar Dr. Djoni.

Ia juga menyoroti bahwa hingga saat ini belum semua dokter sepenuhnya menjalankan ketentuan CP dalam menghasilkan outcome klinis yang optimal. Di Indonesia, outcome klinis sendiri mencakup 15 poin penilaian, yang menurutnya belum maksimal bukan karena konsep CP yang keliru, melainkan karena implementasinya yang belum dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.

Clinical Pathway menuntut keterlibatan seluruh profesional pemberi pelayanan, mulai dari dokter, perawat, bidan, farmasis, nutrisionis, hingga fisioterapis. Selain itu, CP juga mengatur waktu pelaksanaan pelayanan, mewajibkan seluruh tindakan dicatat dalam rekam medis, serta mengharuskan setiap penyimpangan dari rencana pelayanan dicatat sebagai varians untuk bahan evaluasi.

Melalui pelatihan ini, RSOMH Bukittinggi berharap implementasi Clinical Pathway dapat berjalan lebih optimal, terintegrasi, dan berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan sekaligus keberlanjutan pembiayaan rumah sakit.

RSOMH Bukittinggi terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui penguatan sistem manajemen klinis yang profesional, terukur, dan berstandar nasional.

Dengan penerapan Clinical Pathway yang optimal, RSOMH Bukittinggi optimistis mampu memberikan pelayanan yang semakin bermutu, efisien, dan berorientasi pada keselamatan serta kepuasan pasien.

RSOMH Bukittinggi – Melayani dengan Hati, Profesional dalam Setiap Tindakan.