Padang - RSUP Dr. M. Djamil memperingati World Cancer Day atau Hari Kanker Sedunia pada Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Unit Kemoterapi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat dukungan bagi para pejuang kanker. Acara yang diinisiasi oleh Departemen Onkologi Terpadu bekerja sama dengan Instalasi Promosi Kesehatan dan Pemasaran ini mengusung tema, yakni "United by Unique".
"Tema "United by Unique" yang diangkat pada tahun 2026 ini memberikan pesan bahwa setiap pasien adalah pribadi yang unik. Tidak ada dua perjalanan kanker yang benar-benar sama, karena setiap individu membawa kondisi tubuh, latar belakang, nilai kehidupan, serta kebutuhan emosional dan spiritual yang berbeda-beda. Oleh karena itu, strategi dalam melawan kanker tidak dapat diseragamkan, baik dalam aspek pelayanan medis maupun cara menunjukkan kepedulian," kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil yang diwakili oleh Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian, dr. Maliana, M.Kes.
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Departemen Onkologi Terpadu, Dr. dr. Irza Wahid, Sp.PD, KHOM, FINASIM, Ketua Pengampuan Kanker, Dr. dr. Daan Khambri, Sp.B (K) Onk, M.Kes, serta Kepala Instalasi Diagnostik Terpadu dr. Vesri Yoga, Sp.PD, K-GEH, MARS, FINASIM dan jajaran Departemen Onkologi Terpadu.
Sebagai bagian dari rangkaian edukasi, dr. Ari Oktavenra, Sp.B, Subsp. Onk (K) memberikan pemaparan tentang cara mencegah dan mengatasi efek samping kemoterapi, yang seringkali menjadi kekhawatiran utama pasien. Sementara itu, Ns. Siti Herlina Ali Sopiah, M.Kep, Sp.Kep.Onk melengkapi penyuluhan dengan memaparkan betapa pentingnya dukungan keluarga sebagai bagian tak terpisahkan dari terapi kanker.
Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan moral langsung, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian juga berkesempatan menyerahkan buah tangan kepada para pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi di unit tersebut, menciptakan suasana hangat dan penuh semangat kekeluargaan.
dr. Maliana menyampaikan pendekatan terhadap kanker harus mampu melampaui sekadar pemberian obat dan prosedur medis. Perawatan ideal harus mampu menyentuh rasa aman, rasa dihargai, dan rasa dimengerti oleh pasien. Empati dipandang bukan hanya sebagai sikap formalitas, melainkan sebuah keberanian untuk hadir, mendengar tanpa menghakimi, dan menemani pasien tanpa merasa paling tahu.
"RSUP Dr. M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan nasional menyadari tanggung jawab besar ini dengan terus memperkuat layanan kanker secara komprehensif. Upaya ini mencakup aspek promotif dan preventif, peningkatan deteksi dini, hingga pelayanan diagnostik dan terapi berbasis bukti ilmiah, serta perawatan paliatif yang tetap berfokus pada kualitas hidup dan martabat pasien," tuturnya.
Ia menekankan prinsip utama yang dipegang teguh oleh rumah sakit adalah pemahaman bahwa kesembuhan tidak selalu berarti bebas dari penyakit secara total, namun selalu berarti tetap dihargai sebagai manusia. Atas dasar itulah, RSUP Dr. M. Djamil terus mendorong sektor pendidikan dan penelitian di bidang kanker guna meningkatkan angka harapan hidup sekaligus kualitas hidup para pasien. Hal ini bertujuan memastikan setiap pasien diperlakukan dengan hormat, setiap keluhan keluarga didengar, dan setiap keputusan medis selalu melibatkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.
"Edukasi dalam penyuluhan ini memiliki peran strategis sebagai bentuk pencegahan paling awal agar masyarakat dapat mengenali gejala sejak dini, menghapus stigma, dan mengubah ketakutan menjadi langkah nyata dalam mencari pertolongan," sebut dr. Maliana.
Ia mengatakan penyuluhan ini juga membawa pesan moral yang kuat bahwa tidak boleh ada satu pun individu yang berjuang sendirian melawan kanker. Dukungan dari keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat luas dianggap sebagai "obat tak tertulis" yang sangat menentukan keberhasilan terapi.
"Masyarakat diajak untuk membangun ruang-ruang yang aman bagi para pejuang kanker, di mana mereka bebas bercerita, merasa lelah, namun tetap memiliki harapan. Pihak rumah sakit mengajak semua elemen untuk mengganti tatapan iba dengan pelukan empati serta menghapus stigma dengan pemahaman yang benar," ajak dr. Maliana.***