Padang - Ancaman serius terhadap kesehatan publik akibat resistensi antimikroba atau Anti Microbial Resistance (AMR) menjadi sorotan utama dalam Workshop AMR Warrior yang digelar hari ini, Sabtu, 7 Februari 2026, di Kota Padang, Sumatera Barat. Dengan mengusung tema "Act Now, Protect Our Present, Secure Our Future", kegiatan ini menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan kesehatan untuk menyatukan langkah dalam menghadapi tantangan medis yang kerap dijuluki sebagai silent pandemic.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dalam sambutannya memaparkan RSUP Dr. M. Djamil telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan sebagai salah satu rumah sakit pilot project untuk program pengendalian AMR. "Penunjukan ini bukan tanpa alasan, mengingat hasil penelitian komprehensif di 14 rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan menunjukkan pola penggunaan antimikroba telah mencapai titik yang harus segera diintervensi secara serius," kata Dirut.
Dovy Djanas menekankan ketidaktepatan dalam penggunaan antibiotik berdampak sistemik terhadap kualitas pelayanan kesehatan. "Permasalahan ini secara langsung memicu tingginya angka morbiditas atau tingkat kesakitan, serta angka mortalitas atau kematian pasien yang dirawat di lingkungan rumah sakit milik pemerintah. Selain aspek keselamatan nyawa, resistensi ini juga mengakibatkan pembengkakan biaya perawatan yang signifikan bagi pasien dan negara," ungkap Dovy.
Oleh karena itu, Ia menegaskan pengendalian resistensi ini merupakan harga mati yang harus dicapai dengan menurunkan tingkat resistensi melalui tata kelola klinis yang lebih ketat. Terutama dalam melakukan skrining sedini mungkin sebelum antibiotik diberikan kepada pasien.
"Sebagai langkah konkret, RSUP Dr. M. Djamil kini telah mengimplementasikan pemeriksaan molekuler sebagai standar skrining utama. Hal ini dilakukan agar pemberian antibiotik empiris memiliki landasan medis yang kuat dan akurat, sehingga obat yang diberikan benar-benar efektif melawan infeksi tanpa memperparah risiko resistensi," tegas Dirut.
Melalui sinergi dengan BPOM Padang, tuturnya, pihak rumah sakit memiliki tekad kuat untuk menertibkan pemakaian antimikroba secara menyeluruh. "Upaya ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pengobatan yang lebih aman, yang pada akhirnya akan menurunkan angka kematian dan meringankan beban finansial pasien di rumah sakit," harapnya.
Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Badan POM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D, menyatakan AMR adalah ancaman nyata yang menakutkan bagi masa depan peradaban. Ia menyerukan agar seluruh pihak segera beralih dari sekadar diskusi menuju aksi nyata sesuai dengan slogan "Act Now".
"Penyumbang utama resistensi ini bukan hanya sektor farmasi atau resep dokter, melainkan penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol di berbagai bidang kehidupan. Melawan AMR adalah tanggung jawab kolektif lintas sektor, karena dampaknya akan dirasakan oleh seluruh umat manusia jika pandemi tersembunyi ini tidak segera dihentikan," tegasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Gubernur Sumbar mewakili Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima, MPH, Wali Kota Padang diwakili Asisten II Setko Padang Didi Aryadi, Kepala BPOM Padang Martin Suhendri, serta jajaran pejabat BPOM dan peserta workshop yang berkomitmen penuh menjadi AMR Warrior demi melindungi kesehatan generasi mendatang. Workshop tersebut juga menghadirkan narasumber yakni Deputi 1 BPOM RI dr. William Adi Teja, MD.B.Med, M.Med, Ketua Komite PPI dan PRA RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, Guru Besar Farmasi Unand Prof. apt. Marlina, MS, Ph.D, Pengurus PDGI drg. Harfindo Nismal. Sp.BM-MF dan Direktur Umum dan Sumber Daya RS Unand dr. Rozi Abdullah, MARS, Sp.FK. ***