Padang - RSUP Dr. M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi yang mudah diakses oleh pasien dan keluarga. Salah satu upaya tersebut dilakukan pada Kamis, 5 Maret 2026, ketika Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RSUP Dr. M. Djamil bersama Departemen Ibu dan Anak menggelar kegiatan edukasi kesehatan reproduksi bagi pengunjung dan pasien di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit dalam memberikan informasi kesehatan yang akurat, sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi sejak dini.
Dalam kegiatan tersebut, edukasi menghadirkan narasumber dr. Angga Trifianda Prima, Sp.OG yang membahas tentang mioma uteri. “Mioma uteri, yang juga dikenal sebagai fibroid rahim atau leiomioma, merupakan tumor jinak yang tumbuh dari sel-sel otot polos pada dinding rahim. Meskipun disebut tumor, kondisi ini sangat jarang berkembang menjadi kanker. Namun, keberadaan mioma tetap perlu mendapatkan perhatian karena dapat menimbulkan berbagai keluhan yang memengaruhi kualitas hidup perempuan, terutama pada usia reproduktif,” kata dr. Angga Trifianda Prima, Sp.OG.
dr. Angga menjelaskan sebagian wanita dengan mioma uteri tidak merasakan gejala apa pun, sehingga kondisi ini sering kali baru diketahui saat pemeriksaan kesehatan rutin. Meski demikian, pada beberapa kasus, mioma dapat menimbulkan gejala yang cukup mengganggu.
“Gejala yang paling sering terjadi antara lain menstruasi yang lebih berat, berlangsung lebih lama, atau disertai gumpalan darah. Selain itu, perut dapat terasa penuh, membesar, atau tampak seperti “buncit”. Beberapa pasien juga mengalami nyeri pada punggung bawah atau kaki, nyeri panggul, hingga kram perut yang hebat,” ungkapnya.
Keluhan lain yang kerap muncul adalah gejala anemia seperti tubuh terasa lemas, pucat, dan pusing akibat perdarahan menstruasi yang berlebihan. Mioma juga dapat menimbulkan tekanan pada kandung kemih sehingga menyebabkan penderita sering buang air kecil atau kesulitan menahan buang air kecil. “Dalam beberapa kasus, pasien juga dapat mengalami nyeri saat berhubungan seksual atau dispareunia, bahkan gangguan kesuburan hingga keguguran berulang,” ucapnya.
Ia menjelaskan ada beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang segera memeriksakan diri ke dokter. “Di antaranya jika mengalami perdarahan vagina yang sangat deras atau berlangsung berkepanjangan, nyeri panggul yang muncul tiba-tiba dan terasa sangat tajam, sakit perut yang terus menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, serta kesulitan untuk hamil meskipun telah mencoba selama satu tahun,” tuturnya.
Mioma uteri, sebut dr. Angga, lebih sering terjadi pada kelompok wanita tertentu yang memiliki faktor risiko lebih tinggi. Perempuan usia 30 hingga 50 tahun termasuk kelompok yang paling sering mengalami kondisi ini. Risiko juga meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi dini sebelum usia 10 tahun atau yang belum pernah hamil.
“Selain itu, wanita dengan berat badan berlebih memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami mioma karena adanya produksi hormon estrogen tambahan dari jaringan lemak. Faktor gaya hidup juga berperan, seperti pola makan tinggi daging merah dan makanan olahan, rendah konsumsi sayur dan buah, konsumsi alkohol, serta kekurangan vitamin D,” tuturnya.
Dalam edukasi tersebut, dr. Angga juga menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui perubahan gaya hidup sehat. Pola makan yang baik dengan memperbanyak konsumsi sayuran hijau, buah-buahan, dan makanan tinggi serat dapat membantu menjaga keseimbangan hormon. Sebaliknya, konsumsi daging merah dan makanan olahan sebaiknya dibatasi. Menjaga berat badan ideal juga sangat penting karena obesitas terbukti meningkatkan risiko mioma hingga dua hingga tiga kali lipat. “Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan melakukan aktivitas fisik secara rutin minimal 30 menit setiap hari,” ajaknya.
Selain itu, kecukupan vitamin D juga perlu diperhatikan karena kekurangan vitamin ini dikaitkan dengan peningkatan risiko mioma uteri. Paparan sinar matahari pagi secara cukup atau konsumsi suplemen vitamin D sesuai anjuran dokter dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Pengelolaan tekanan darah juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
“Melalui kegiatan edukasi ini, kami berharap masyarakat, khususnya perempuan, dapat lebih memahami kondisi mioma uteri dan tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Mioma uteri merupakan kondisi yang cukup umum dan bersifat jinak. Namun, gejala yang diabaikan dapat menurunkan kualitas hidup dan berpotensi memengaruhi kesuburan. Oleh karena itu, deteksi dini dan konsultasi medis menjadi kunci penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat dan efektif,” ucap dr. Angga.
Sementara itu, Plt Kepala Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RSUP Dr. M. Djamil, Saswita Kemala Dewi, SKM, M.KKK mengatakan kegiatan edukasi kesehatan merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap berbagai penyakit yang sering dialami perempuan, termasuk mioma uteri. Melalui kegiatan ini, rumah sakit berupaya menghadirkan informasi kesehatan yang mudah dipahami dan dapat diakses langsung oleh pasien maupun keluarga.
“Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan informasi kesehatan yang benar dari tenaga medis yang kompeten. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat lebih peka terhadap gejala yang muncul dan tidak menunda pemeriksaan. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan deteksi dini mioma uteri dapat dilakukan lebih cepat sehingga penanganannya juga bisa lebih optimal,” tukas Saswita Kemala Dewi.***