Selasa, 10 Maret 2026 13:11 WIB

RSUP Dr M Djamil dan HKFM Padang Dorong Deteksi Dini Kelainan Bawaan pada Bayi

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
42

Padang - Menghadapi tantangan global terkait tingginya angka kelainan bawaan pada bayi, RSUP Dr. M. Djamil bersama Himpunan Kedokteran Fetomaternal (HKFM) Padang menggelar webinar hibrid dalam rangka memperingati World Birth Defect Day 2026. Mengusung tema “Early detection of neural tube defects: integrating ultrasound and maternal biomarkers screening”, kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat sistem deteksi dini melalui integrasi teknologi ultrasonografi dan pemeriksaan biomarker maternal bagi tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.

"Kelainan bawaan atau birth defects masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Berdasar data global, sekitar tiga hingga enam persen bayi di seluruh dunia lahir dengan kelainan bawaan. Kondisi tersebut berkontribusi signifikan terhadap angka kematian neonatal, disabilitas jangka panjang, serta menambah beban kesehatan masyarakat secara luas," kata Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua saat memberikan sambutan di Auditorium Lantai IV Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Webinar tersebut menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Dr. dr. Defrin, Sp.OG, Subsp. KFM membahas tentang Peran Asam Folat dalam Mencegah Kelainan Bawaan dan dr. Nelvianti Nelson, Sp.OG, Subsp. KFM membahas tentang Deteksi Dini Neural Tube Deffect: Mulai dari USG hingga Pemeriksaan Modern Masa Kini dan dimoderatori dr. Eko Apriandhi, Sp.OG.

Turut hadir Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian dr. Maliana, M.Kes, Ketua Departemen Obgin Dr. dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG, Subsp.Urogin.RE, Ketua Departemen Ibu dan Anak Dr. dr. Roza Sri Yanti, Sp.OG, Subsp.KFM, Dr. dr. Vaulinne Basyir, Sp.OG,   Subsp.KF,  Manajer Diklat, Ns. Venny Dwita Zola Anwar, S.Kep, Asisten Manajer Pelatihan Dr. Ns. Alfitri, S.Kep, M.Kep, Sp.MB, FISQua, CHAE dan peserta webinar.

Ia menjelaskan kelainan bawaan dapat dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Beberapa di antaranya kelainan genetik, faktor lingkungan, gangguan nutrisi pada masa perikonsepsi, serta interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan selama proses perkembangan embrio dan janin. "Oleh karena itu, pendekatan terhadap masalah kelainan bawaan tidak hanya berfokus pada aspek terapi atau pengobatan, tetapi juga menekankan pentingnya langkah pencegahan serta deteksi sejak dini selama masa kehamilan," ungkap dokter subspesialis fetomaternal ini.

Ia menekankan momentum World Birth Defect Day yang diperingati setiap tahun menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan untuk terus meningkatkan kesadaran, edukasi, serta aksi kolaboratif dalam upaya menurunkan angka kelainan bawaan melalui pendekatan ilmiah dan berbasis bukti. "Upaya tersebut memerlukan sinergi antara tenaga kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, organisasi profesi, serta masyarakat," sebut Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Padang ini.

Salah satu contoh kelainan bawaan yang menjadi perhatian utama adalah Neural Tube Defects atau kelainan pada tabung saraf yang merupakan kelainan kongenital serius pada sistem saraf pusat. "Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplementasi asam folat pada masa prakonsepsi hingga awal kehamilan terbukti dapat menurunkan risiko terjadinya kelainan tersebut secara signifikan. Hal ini menunjukkan intervensi sederhana yang dilakukan sejak sebelum kehamilan dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan janin," tegasnya.

Selain upaya pencegahan melalui perbaikan nutrisi, perkembangan teknologi kedokteran juga memberikan peluang besar dalam melakukan deteksi dini terhadap kelainan bawaan. "Pemeriksaan ultrasonografi prenatal serta skrining biomarker maternal kini menjadi bagian penting dalam upaya identifikasi risiko kelainan sejak awal kehamilan. Dengan deteksi yang lebih cepat dan akurat, tenaga kesehatan dapat merencanakan penatalaksanaan yang lebih optimal bagi ibu maupun janin," tuturnya.

Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Sumatera Barat, sebutnya, RSUP Dr. M. Djamil terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan janin. "Rumah sakit ini juga memperkuat upaya deteksi dini terhadap kelainan bawaan serta mendorong pengembangan ilmu kedokteran fetomaternal melalui integrasi antara pelayanan klinis, pendidikan, dan penelitian," ujarnya.

Ia menjelaskan peran organisasi profesi seperti Himpunan Kedokteran Fetomaternal juga dinilai sangat strategis dalam mendorong pengembangan ilmu fetomaternal di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam melakukan skrining prenatal, diagnosis dini, serta memberikan konseling yang tepat kepada pasien dan keluarga.

Melalui kegiatan webinar ilmiah ini diharapkan para tenaga kesehatan dapat memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kesehatan kehamilan. "Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat program pencegahan kelainan bawaan serta meningkatkan kualitas layanan deteksi dini dan penatalaksanaan kelainan kongenital di Indonesia," harapnya.(*)