Jakarta โ Dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Cedera Kepala Sedunia yang akan jatuh pada tanggal 20 Maret 2026, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta) mengadakan Edukasi Kesehatan pada Kamis, 5 Maret 2025, dengan mengangkat tema โTraumatic Brain Injury: Dampaknya pada Fungsi Otak dan Kinerjaโ. Kegiatan yang berlangsung di Poli Rawat Jalan Lantai 2 Gedung A ini disimak oleh para pasien dan caregiver yang berada di area tunggu antrean poli rawat jalan.
Menghadirkan narasumber ahli yaitu dr. Ranette Roza, Sp.S., edukasi yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini mengupas secara mendalam tentang cedera otak traumatik. Disampaikan bahwa penyebab dari cedera otak traumatik dapat berupa benturan langsung seperti kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, trauma benda tumpul, atau kekerasan. Selain itu, guncangan hebat seperti shaken baby syndrome atau kecelakaan mobil di mana kepala tersentak maju-mundur dengan sangat cepat tanpa adanya benturan langsung juga dapat menyebabkan cedera. Penyebab lainnya adalah luka tembus, misalnya luka tembak, trauma benda tajam, atau serpihan tajam yang masuk ke dalam tengkorak.
Gejala dari cedera kepala traumatik dapat muncul segera atau beberapa waktu setelah cedera, dengan dua kategori gejala. Gejala ringan biasanya meliputi sakit kepala, pusing, mual atau muntah, bingung atau sulit konsentrasi, serta mudah lelah. Sementara itu, gejala sedang hingga berat dapat berupa penurunan kesadaran atau pingsan, kejang, gangguan bicara, kelemahan pada tangan atau kaki, keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga, hingga perubahan perilaku atau kesadaran.
Penanganan cedera kepala traumatik diberikan tergantung pada tingkat keparahan, yang dapat meliputi observasi dan istirahat, pemberian obat, pemeriksaan CT Scan atau MRI, hingga tindakan operasi jika terjadi perdarahan atau tekanan pada otak. Adapun upaya pencegahan yang penting adalah tidak lupa menggunakan helm saat berkendara, memakai sabuk pengaman, menjaga keselamatan di tempat kerja, dan menghindari risiko jatuh pada lansia.
Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat mampu memahami apa itu cedera kepala traumatik, penyebab, serta tanda dan gejalanya, sehingga dapat meningkatkan kesadaran untuk lebih waspada terhadap risiko cedera kepala dalam aktivitas sehari-hari.***