Sukoharjo – TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang paru maupun organ lain, sehingga memerlukan deteksi dini dan penanganan yang tepat. Diagnosis TB menjadi tahap krusial yang harus dilakukan secara akurat melalui kombinasi beberapa metode, yaitu pemeriksaan BTA sebagai skrining awal yang cepat dan ekonomis, Tes Cepat Molekuler (TCM/GeneXpert) yang mampu mendeteksi kuman sekaligus resistensi rifampisin dengan hasil cepat dan sensitivitas tinggi, serta kultur sebagai gold standard yang memberikan konfirmasi diagnosis dan uji kepekaan obat meskipun memerlukan waktu lebih lama. Penanganan Tuberkulosis (TB) di Indonesia merupakan upaya strategis yang membutuhkan pendekatan komprehensif, terintegrasi, dan berkesinambungan untuk mencapai target eliminasi pada tahun 2030.
Webinar Nasional dilaksanakan pada Rabu, 01 April 2026 melalui media zoom meeting. Terdapat 4 Narasumber yang kompenten dalam teman kali ini, Fitri Budi Astuti,S.Kep,Ns, Salim, SST, Dewi Septianingrum, M.Farm.Klin,Apt, dan Hartanto, S.Tr.Rad dengan moderator Erwi Rochma Pangastuti, S.Kep. Ners.
Dalam proses pelayanan, perawat memiliki peran yang sangat penting sebagai case manager yang bertanggung jawab dalam mengelola asuhan pasien TB secara menyeluruh. Perawat tidak hanya berperan dalam koordinasi antar tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai edukator, konselor, advokat, dan motivator bagi pasien. Melalui pendekatan Continuity of Care (CoC), perawat memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang berkesinambungan mulai dari tahap deteksi, pengobatan intensif dan lanjutan, hingga evaluasi akhir pengobatan. Peran ini mencakup pemantauan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi DOTS, pengawasan efek samping obat, serta memastikan pasien tidak putus berobat. Dengan manajemen kasus yang baik, risiko terjadinya resistensi obat, kekambuhan, dan kematian dapat diminimalkan, ungkap Fitri Budi Astuti, S.Kep.Ns.
Aspek penting lainnya adalah pencegahan penularan TB yang merupakan bagian dari prinsip keselamatan pasien (patient safety). Upaya ini dilakukan melalui pengendalian administratif seperti skrining dini dan pemisahan pasien TB, pengendalian lingkungan dengan memastikan ventilasi dan pencahayaan yang baik serta penggunaan teknologi seperti ultraviolet germicidal, serta perlindungan respirasi melalui penggunaan masker pada pasien dan alat pelindung diri seperti N95 bagi tenaga kesehatan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk melindungi pasien lain, tenaga kesehatan, dan masyarakat dari risiko penularan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan.
Secara keseluruhan, penanganan TB memerlukan sinergi antara diagnosis yang tepat, peran aktif tenaga kesehatan khususnya perawat sebagai case manager, peningkatan kepatuhan pasien melalui edukasi dan monitoring, serta penerapan pencegahan penularan yang efektif. Integrasi semua komponen ini tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien, tetapi juga menjadi kunci dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB, serta mewujudkan Indonesia bebas Tuberkulosis pada tahun 2030.
Hartanto, S.Tr.Rad, juga mengungkapkan pemeriksaan yang didukung oleh foto thoraks untuk membantu menilai gambaran klinis paru dan memperkuat diagnosis. Optimalisasi diagnostik ini sangat penting untuk mengurangi kesalahan diagnosis, mempercepat pengobatan, serta meningkatkan keselamatan pasien.
Diakhir webinar menyimpulkan keberhasilan pengobatan TB sangat bergantung pada tingkat kepatuhan pasien, sehingga implementasi edukasi yang efektif dan berkelanjutan menjadi sangat penting. Edukasi dilakukan melalui komunikasi dua arah yang melibatkan pasien, keluarga, dan komunitas, dengan tujuan meningkatkan pemahaman tentang penyakit TB, pentingnya pengobatan tuntas, serta perubahan perilaku hidup sehat. Selain itu, monitoring kepatuhan dilakukan secara sistematis, baik melalui pendampingan langsung, peran kader kesehatan, maupun pemanfaatan teknologi digital (e-health). Pendekatan psikososial juga diperlukan untuk mengatasi stigma yang sering dialami pasien TB, sehingga pasien lebih termotivasi untuk menjalani pengobatan hingga selesai.***