Selasa, 12 Mei 2026 16:52 WIB

RSUP Dr M Djamil Bersama PDRPI FK Unand Perkuat Riset TB dan Dapat Dukungan Wamenkes RI

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
12

Padang - RSUP Dr. M. Djamil terus mempertegas komitmennya dalam menghadirkan inovasi di bidang pelayanan kesehatan sekaligus pengembangan riset medis nasional. Sebagai rumah sakit vertikal milik Kementerian Kesehatan RI, RSUP Dr. M. Djamil kini menjalin kolaborasi strategis dengan Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi (PDRPI) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dalam pengembangan riset pemeriksaan Interferon Gamma Releasing Assay (IGRA) melalui produk bertajuk INA-Quantiferon TB. Riset ini diarahkan untuk menghasilkan metode deteksi tuberkulosis (TB) laten yang lebih akurat, terjangkau, dan dapat dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.

Kolaborasi tersebut mendapat perhatian dan apresiasi langsung dari Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR saat melakukan kunjungan ke PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan memberikan Kuliah Umum bertajuk Strategi Nasional Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Aula Student Center Prof. dr. M. Syaaf, Selasa, 12 Mei 2026.

Benjamin menilai sinergi antara rumah sakit pendidikan dan institusi akademik merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem kesehatan nasional, khususnya pada aspek deteksi dini penyakit infeksi. Oleh karena itu, pengembangan INA-Quantiferon TB menjadi bagian penting dalam mendukung kemandirian teknologi diagnostik nasional. “Yang kami lihat hari ini bukan sekadar sebuah riset, tetapi fondasi penting bagi kedaulatan kesehatan Indonesia,” kata Benjamin saat memberikan Kuliah Umum.

Turut hadir istri Wamenkes RI Linda Taroreh, Sesditjen Kesehatan Lanjutan dr. Sunarto, M.Kes, pejabat Kemenkes, Ketua Konsil Kesehatan Indonesia drg. Arianti Anaya, MKM, anggota DPR RI dr. Suir Syam, M.Kes, MMR, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr. Aklima MPH, kepala daerah, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua beserta jajaran direksi dan manajemen, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D dan jajaran, Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTEd beserta civitas akademika, mitra serta undangan.

Ia mengatakan kolaborasi antara layanan kesehatan dan institusi riset seperti ini sangat strategis. INA-Quantiferon TB diharapkan mampu menghadirkan metode deteksi TB laten yang lebih akurat, lebih mudah diakses, dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada produk impor. ”Untuk itu, pengembangan riset tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Kesehatan RI dan ke depan diarahkan menuju proses hilirisasi bersama Bio Farma agar dapat diproduksi secara nasional dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” tutur Wamenkes.

Benjamin juga memaparkan kasus TB di Indonesia tahun 2025 diperkirakan 1.090.000 orang. Dimana capaian notifikasi kasus TB 876 ribu orang atau 80 persen dan jumlah kasus diobati lebih kurang 810 ribu (93 persen). Di Sumbar sendiri estimasi kasus TB pada tahun 2025 sebanyak 25.037 orang dengan capaian penemuan kasus 62 persen. Hanya dua kota yakni Kota Bukittinggi dan Kota Solok mencapai target penemuan kasus TB. “Sebagai ahli paru, maka saya langsung memimpin eliminasi TB di Indonesia. Ini tidak bisa diselesaikan oleh kementerian kesehatan saja akan tetapi lintas sektor,” sebutnya.

TB bukan hanya persoalan medis, sebut Benjamin, tetapi juga persoalan lingkungan dan kualitas hidup. “Karena itu pemerintah hadir bukan hanya dengan obat, tetapi juga dengan mendistribusikan teknologi skrining melalui portable X-ray ke daerah dengan angka kasus TB tinggi. Serta intervensi sosial seperti perbaikan rumah pasien TB kurang mampu agar penanganannya benar-benar tuntas dari hulu hingga hilir,” ungkapnya.

Tak hanya riset diagnostik TBC ini, Wamenkes pun kagum ada beberapa produk lagi hasil riset kolaborasi antara RSUP Dr. M. Djamil dan PDRPI. Di antaranya produk MRSA Assay, pneumoplex 4.0, HIV Detect Real Time Kit, HBV Detect Real Time Kit. “Kami berharap inovasi seperti ini terus berkembang dan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghasilkan teknologi kesehatan yang kompetitif serta berdampak nyata bagi masyarakat,” harap Wamenkes.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan inovasi tersebut merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam mendukung transformasi kesehatan nasional melalui penguatan riset dan inovasi berbasis kolaborasi.

“RSUP Dr. M. Djamil tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga terus mendorong pengembangan riset yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kolaborasi dengan PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini menjadi bagian penting dalam pengembangan deteksi TB laten melalui INA-Quantiferon TB,” katanya.

Menurut Dovy, pengembangan alat deteksi tersebut diharapkan mampu memperkuat program eliminasi tuberkulosis yang saat ini menjadi salah satu prioritas pemerintah di bidang kesehatan. “Melalui riset ini, kami ingin memastikan inovasi kesehatan tidak hanya lahir di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dalam layanan kesehatan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ini adalah bentuk kontribusi RSUP Dr. M. Djamil dalam mewujudkan kemandirian teknologi kesehatan Indonesia,” tutur Dirut.

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D menegaskan kolaborasi lintas institusi merupakan kunci dalam menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Perguruan tinggi harus mampu melahirkan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan dan menjawab kebutuhan bangsa. Kolaborasi dengan RSUP Dr. M. Djamil dan dukungan Kementerian Kesehatan menjadi langkah penting menuju kemandirian teknologi kesehatan Indonesia,” ujarnya.

Ketua PDRPI Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Si menjelaskan riset tersebut dilakukan untuk menghasilkan metode pemeriksaan TB laten yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih baik.

“TB laten sering kali tidak terdeteksi karena pasien belum menunjukkan gejala. Melalui riset INA-Quantiferon TB ini, kami ingin menghadirkan metode diagnostik yang lebih efektif sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Ia menambahkan pengembangan riset tersebut juga menjadi bagian dari upaya kemandirian bangsa dalam menghasilkan teknologi kesehatan berbasis riset dalam negeri. “Sekaligus membuktikan kolaborasi antara akademisi, klinisi, dan pemerintah mampu melahirkan inovasi kesehatan yang tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga aplikatif untuk menjawab tantangan kesehatan nasional,” tukas Dr. dr. Andani. ***