Yogyakarta - Perkembangan teknik operasi yang semakin canggih menuntut perawat kamar bedah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Saat ini telah berkembang teknik operasi dengan sayatan minimal yang disebut dengan minimal invasive surgery. Minimal Invasive Surgery (MIS) adalah teknik bedah modern yang menggunakan sayatan sangat kecil (sekitar 1 hingga 2 cm) untuk mengakses organ dalam. Prosedur ini biasanya memanfaatkan alat khusus seperti endoskopi, kamera kecil, dan instrumen presisi tinggi.
RS Sardjito telah mengembangkan metode operasi modern MIS ini di berbagai bidang kedokteran. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan operasi, RS Sardjito melalui Instalasi Kamar Bedah dan Anestesi (IKBA) menyelenggarakan workshop MIS untuk perawat kamar bedah. Workshop angkatan pertama diselenggarakan pada tanggal 4 s/d 5 Juli 2026 di Ruang Arjuna Gedung Diklat RS Sardjito dengan peserta sejumlah 59 perawat.
dr. Anisa Fadhila Farid, Sp.An-TI, Subsp.An.Ped(K), Wakil Kepala IKBA RS Sardjito dalam sambutannya menyampaikan apresiasi untuk para perawat kamar bedah yang semangat dalam belajar untuk meningkatkan kualitas pelayanan. “Kegiatan seperti ini perlu diadakan berkala, agar perawat kamar bedah dapat pintar bersama-sama.” tutur dr. Anisa.
Hal senada juga disampaikan Dr. dr. Adeodatus Yuda Handaya, Sp.B, Subsp.B.D (K), FINACS, Kepala IKBA RS Sardjito bahwa perawat kamar bedah harus selalu meningkatkan keterampilan di dunia pembedahan. “Perawat kamar bedah harus selalu improve dalam pengetahuan dan keterampilan teknik-teknik operasi modern. Dunia pembedahan sudah berkembang ke operasi sayatan minimal, lalu berkembang ke tiga dimensi, lalu sekarang ada juga robotic surgery” ungkap dr. Yuda.
Lebih lanjut dr. Yuda menjelaskan bahwa pelayanan minimal invasive surgery harus terus dikembangkan karena memiliki banyak kelebihan. “Operasi dengan teknik MIS ini perlu ditingkatkan karena keuntungannya banyak, sayatan minimal, nyeri setelah tindakan lebih ringan, rawat inap lebih singkat, risiko infeksi lebih kecil, pasien bisa lebih cepat beraktivitas lagi, dan hasil lebih rapi, tanpa bekas luka besar” pungkasnya.
Pada workshop MIS ini peserta mendapatkan materi teori di hari pertama, kemudian di hari kedua praktek mengasah keterampilan dengan langsung praktek menggunakan alat-alat MIS seperti laparaskopi untuk bedah digesti, endoskopi untuk memeriksa saluran cerna, endoskopi urologi untuk pemeriksaan dan tindakan bedah urologi dan lain sebagainya. Adapun materi-materi yang disampaikan oleh para narasumber meliputi Dr. dr. Adeodatus Yuda Handaya, Sp.B, Subsp.B.D (K), FINACS, Konsep Dasar Minimal Invasive Surgery, Retno Kuntari, S.Kep.,Ners, Pelayanan Minimal Invasive Surgery (Laparascopy), Andreas Ambar, S.Kep.,Ns, Pelayanan Minimal Invasive Surgery pada kasus-kasus penyakit dalam, Eko Heru Susilo, S.Kep.,Ns, Tatalaksana Minimal Invasive Surgery pada kasus-kasus urologi (Endo Urologi) di RS Sardjito, Ferry Purwanto Setiawan, S.Kep.,Ns, Tatalaksana Minimal Invasive Surgery pada kasus-kasus THT di RS Sardjito, Hari Kiswanto, S.Kep.,Ns, Tatalaksana Minimal Invasive Surgery pada kasus-kasus orthopedi di RS Sardjito, Sarrah Nur Fitri, S.Kep.,Ns, Tatalaksana Minimal Invasive Surgery pada kasus-kasus neurosurgery di RS Sardjito, Mulyadi, S.Kep.,Ns, Tatalaksana Minimal Invasive Surgery pada kasus-kasus bedah thorax dan kardiovaskuler di RS Sardjito.
Para peserta mengikuti workshop dengan antusias. Acara semakin menarik saat sesi diskusi tanya jawab dan sesi praktik. Saat sesi praktik menggunakan alat-alat atau instrumen bedah, para peserta dibimbing oleh perawat-perawat yang sudah berkompeten sesuai bidangnya masing-masing. ***