Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Kamis, 20 Agustus 2026 14:56 WIB

Golden Hour Stroke Iskemik menjadi indikator Kecepatan Penanganan Yang Dapat Menentukan Kesempatan Pasien untuk Pulih

Golden Hour Stroke Iskemik menjadi indikator Kecepatan Penanganan Yang Dapat Menentukan Kesempatan Pasien untuk Pulih
Humas - RS Otak Dr.Drs.M. Hatta Bukittinggi 219 kali dilihat

Bukittinggi — Waktu menjadi salah satu faktor paling penting dalam penanganan stroke iskemik. Semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan yang tepat, semakin besar peluang untuk mencegah kecacatan maupun kematian akibat stroke.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Telementoring Extension for Community Healthcare Outcomes (ECHO) yang diselenggarakan Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta (RSOMH) Bukittinggi pada Selasa, 18 Agustus 2026. Sesi pembelajaran dengan materi “Golden Hour dari Stroke Iskemik” disampaikan oleh dr. Marfriandy, Sp.N., FINA.

Dalam pembahasannya, dr. Marfriandy menjelaskan bahwa golden hour merupakan periode penting yang harus dimanfaatkan secara optimal sejak gejala stroke iskemik terjadi. Kecepatan mengenali gejala, membawa pasien ke fasilitas kesehatan, hingga mendapatkan penanganan medis yang tepat menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan tata laksana stroke.

Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terhambat akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera karena jaringan otak yang kekurangan aliran darah dapat mengalami kerusakan.

Pada pasien yang memenuhi kriteria, terapi trombolisis dapat diberikan dalam jendela waktu hingga 4,5 jam sejak onset gejala untuk membantu melarutkan bekuan darah yang menyebabkan sumbatan. Penentuan terapi tentunya dilakukan berdasarkan kondisi klinis dan hasil pemeriksaan pasien.

Selain trombolisis, pada kondisi tertentu pasien dapat memperoleh terapi endovaskular berupa trombektomi, yaitu tindakan menggunakan kateter untuk mengambil bekuan darah dari pembuluh darah otak yang mengalami sumbatan. Tindakan ini juga membutuhkan penanganan sesegera mungkin karena efektivitas terapi sangat dipengaruhi oleh waktu dan kondisi pasien.

Melalui sesi ECHO ini, peserta tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teoritis, tetapi juga memperkuat pemahaman mengenai pentingnya pengenalan dini, kecepatan rujukan, serta ketepatan tata laksana pada pasien stroke iskemik.

Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya RSOMH Bukittinggi dalam memperkuat kompetensi tenaga kesehatan di jejaring layanan melalui telementoring berbasis kasus dan kolaborasi antarprofesional. Dengan semakin baiknya pemahaman tenaga kesehatan terhadap tata laksana stroke akut, diharapkan pasien dapat memperoleh penanganan yang cepat dan tepat sehingga peluang untuk mempertahankan fungsi dan kualitas hidup dapat semakin besar. ***