RSAB Harapan Kita Dukung Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu Kota Bambu Selatan dalam Pencegahan Stunting
Jakarta - Dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan pemahaman gizi masyarakat, Kelurahan Kota Bambu Selatan menyelenggarakan Kegiatan Peningkatan Kapasitas Lembaga Kemasyarakatan pada Selasa, 18 Agustus 2026. Acara yang berlangsung di RPTRA Bambu Kuning ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari kader Posyandu, TP PKK, Dasawisma, hingga perwakilan orang tua balita di lingkungan RW 01, RW 02, dan RW 03. Sebagai bentuk sinergi dan pengabdian masyarakat, Pusat Kesehatan Ibu dan Anak Nasional (PKIAN) RSAB Harapan Kita menerjunkan dua tenaga ahlinya untuk memberikan edukasi dalam acara tersebut, yaitu dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A dari Kelompok Staf Medis (KSM) Anak dan Sekar Aninda Islamy, S.Tr.Gz dari Instalasi Gizi.
Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kelurahan Kota Bambu Selatan, Endang Wigati, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran tim dari RSAB Harapan Kita. Ia menyadari bahwa menghadirkan praktisi medis spesialis di tengah kesibukan pelayanan rumah sakit bukanlah hal yang mudah. Endang mengungkapkan rasa syukur karena seorang dokter spesialis anak bersedia meluangkan waktu praktiknya untuk melayani dan melakukan pengabdian masyarakat di kelurahan tersebut dengan tulus dan ikhlas. Ia juga mengimbau para kader dan ibu balita untuk memaksimalkan momen tersebut guna menggali ilmu dan berkonsultasi secara langsung.
Dalam sesi pemaparan materi, dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A, yang akrab disapa dr. Anya, memberikan penjelasan komprehensif mengenai bahaya stunting. Ia meluruskan pemahaman dasar bahwa anak yang pendek belum tentu stunting, tetapi anak stunting sudah pasti pendek. Stunting sendiri didefinisikan sebagai kondisi tinggi badan anak di bawah -2 Standar Deviasi (SD) pada kurva WHO yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronik. Lebih lanjut, dr. Anya memaparkan dampak jangka panjang stunting yang tidak boleh disepelekan, antara lain anak stunting berisiko 4 kali lebih besar mengalami kematian, dapat menurunkan skor IQ secara signifikan di mana data menunjukkan rata-rata IQ warga Indonesia saat ini berada di angka 78,49, serta berdampak pada pelemahan ekonomi berupa potensi penurunan pendapatan hingga 22% saat anak dewasa.
Sebagai langkah pencegahan, edukasi tersebut menekankan pentingnya mendeteksi weight faltering atau perlambatan kenaikan berat badan secara dini. Langkah ini dibarengi dengan pemberian ASI eksklusif dan pemenuhan asam amino esensial yang bersumber dari protein hewani seperti telur, ayam, daging, atau ikan pada menu harian anak. Sementara itu, Sekar Aninda Islamy, S.Tr.Gz, melengkapi wawasan peserta dari sisi tata laksana gizi harian melalui materi tentang memilih makanan tepat untuk cegah malnutrisi. Ia merinci bagaimana malnutrisi dapat terjadi akibat ketidakseimbangan asupan zat gizi seperti karbohidrat, protein, dan lemak dengan kebutuhan tubuh. Untuk mempermudah para ibu, Sekar membedah porsi Isi Piringku yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan anak mulai dari usia 6-8 bulan, 9-11 bulan, hingga 12-23 bulan. Ia juga memberikan solusi aplikatif bagi anak yang mengalami kesulitan mengunyah atau menelan, yaitu dengan melakukan modifikasi tekstur makanan menjadi makanan saring, cincang, atau lunak, sehingga asupan nutrisi anak tetap dapat terpenuhi secara optimal. ***