Padang - RS M. Djamil terus memperkuat kesiapan layanan laboratorium dalam mendukung surveilans penyakit infeksi saluran pernapasan melalui pelaksanaan assessment kesiapan pemeriksaan sampel ILI atau Influenza Like Illness sedangkan SARI atau Severe Acute Respiratory Infection. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen RS M. Djamil dalam memastikan setiap proses pemeriksaan laboratorium berjalan sesuai standar, memiliki mutu yang terjaga, serta mampu mendukung kebutuhan surveilans kesehatan secara optimal.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan exit meeting assessment kesiapan Laboratorium RS M. Djamil untuk melaksanakan pemeriksaan sampel ILI-SARI di Ruang Rapat Direksi RS M. Djamil, pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi tahapan penting setelah proses assessment dilakukan untuk melihat kesiapan laboratorium, baik dari aspek sumber daya manusia, sarana dan prasarana, peralatan, prosedur pemeriksaan, hingga sistem penjaminan mutu.
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, mengatakan kesiapan laboratorium merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan sekaligus pelaksanaan surveilans penyakit infeksi. Pemeriksaan sampel ILI-SARI ini membutuhkan kesiapan yang menyeluruh agar hasil pemeriksaan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi bagian dari data yang mendukung pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
“Assessment ini menjadi momentum bagi kami untuk melihat secara objektif sejauh mana kesiapan Laboratorium RS M. Djamil dalam melaksanakan pemeriksaan sampel ILI-SARI. Tentunya bukan hanya kesiapan alat dan fasilitas, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, prosedur, serta sistem mutu yang harus berjalan secara konsisten,” ujar dr. Maliana.
Ia menambahkan, hasil assessment diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan bagi Laboratorium RS M. Djamil. Setiap catatan maupun rekomendasi yang diperoleh selama proses assessment akan menjadi perhatian rumah sakit untuk ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
“Setiap masukan yang disampaikan dalam assessment ini sangat penting bagi kami. Kami akan menindaklanjuti setiap rekomendasi sebagai bagian dari upaya memastikan laboratorium benar-benar siap memberikan hasil pemeriksaan yang akurat, tepat waktu, dan sesuai standar,” katanya.
Pemeriksaan ILI-SARI memiliki peran penting dalam mendukung sistem surveilans terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan. ILI atau Influenza Like Illness merupakan kondisi dengan gejala menyerupai influenza, sedangkan SARI atau Severe Acute Respiratory Infection merupakan infeksi saluran pernapasan akut berat. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel dari kasus tersebut dapat memberikan informasi penting tentang pola dan penyebab infeksi yang beredar di masyarakat.
Sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Sumatera Barat dan bagian dari jaringan pelayanan kesehatan Kementerian Kesehatan, RS M. Djamil memiliki peran strategis dalam mendukung penguatan sistem surveilans. Kesiapan laboratorium untuk melakukan pemeriksaan sampel ILI-SARI diharapkan semakin memperkuat kontribusi rumah sakit dalam menyediakan data laboratorium yang berkualitas untuk mendukung pemantauan penyakit infeksi.
Dalam kegiatan exit meeting tersebut, hasil assessment disampaikan sebagai bahan evaluasi bersama antara tim assessment dan jajaran RS M. Djamil. Pembahasan dilakukan untuk memastikan berbagai aspek yang menjadi persyaratan pemeriksaan telah dipahami dan dapat dipenuhi oleh laboratorium.
Tim penilai assessment ini terdiri dari Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan, timker ISPA Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Tim Surveilans Karantina Kesehatan, dan mewakili WHO Indonesia.
dr. Maliana menegaskan penguatan laboratorium tidak hanya ditujukan untuk memenuhi persyaratan assessment, tetapi juga menjadi bagian dari budaya mutu yang harus terus dipelihara dalam penyelenggaraan pelayanan rumah sakit.
“Kami ingin kesiapan ini tidak berhenti pada assessment saja. Setelah dinyatakan siap, yang lebih penting adalah bagaimana standar tersebut dipertahankan dan terus ditingkatkan dalam pelaksanaan sehari-hari. Mutu harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh jajaran,” tuturnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas unit juga menjadi faktor penting dalam memastikan pelaksanaan pemeriksaan ILI-SARI dapat berjalan dengan baik. Kesiapan laboratorium perlu didukung oleh koordinasi dengan unit pelayanan, tenaga kesehatan, serta unsur terkait lainnya sehingga alur pemeriksaan mulai dari pengambilan, pengiriman, penerimaan, pemeriksaan, hingga pelaporan sampel dapat berjalan secara terintegrasi.
“Melalui kegiatan exit meeting ini, RS M. Djamil menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan laboratorium. Penguatan tersebut diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan pelayanan pasien, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap upaya surveilans penyakit infeksi dan penguatan sistem kesehatan secara lebih luas,” tukasnya. ***