Jumat, 28 Agustus 2026 14:10 WIB

Kemenkes Gelar ToT Penanggulangan MDRO di RSHS dengan Libatkan 7 Rumah Sakit Rujukan Nasional

Responsive image
ABS RFS - RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung
82

Bandung – Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan menggelar Training of Trainers (ToT) Penanggulangan Outbreak Multidrug-Resistant Organisms (MDRO) di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, pada Rabu hingga Jumat, 26–28 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas rumah sakit dalam pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan wabah yang disebabkan oleh bakteri resisten terhadap berbagai jenis antibiotik.

Pelatihan yang berlangsung di Auditorium Gedung MCHC RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ini menghadirkan peserta dari tujuh rumah sakit rujukan nasional, yaitu RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP Persahabatan, RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, RS Kanker Dharmais, RSJPD Harapan Kita, dan RSAB Harapan Kita.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Direktur Medik RSHS, Dr. Iwan Abdul Rachman, dan menjadi momentum bagi rumah sakit untuk memaparkan berbagai strategi konkret dalam menekan tekanan bakteri multidrug-resistant (MDRO) melalui program Antimicrobial Stewardship (AMS).

Dalam presentasinya, Dr. Iwan menyoroti pentingnya pengendalian penggunaan antibiotik di lingkungan rumah sakit. RSHS menerapkan audit Defined Daily Dose (DDD) sebagai indikator utama untuk mengevaluasi program pembatasan antibiotik. Metode ini memungkinkan tim medis mengukur rata-rata dosis harian antibiotik yang digunakan per pasien secara terukur dan berbasis data, sehingga kepatuhan terhadap pedoman terapi dapat dipantau secara ketat. Selain itu, RSHS juga menganalisis biaya antibiotik per pasien rawat inap untuk memastikan program AMS tidak hanya efektif secara klinis tetapi juga efisien secara finansial, menjamin keberlanjutan program tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. Tantangan global AMR yang semakin meningkat menuntut kesiapsiagaan penuh dari fasilitas kesehatan.

Dalam kegiatan ini Setiap rumah sakit mengirimkan tim beranggotakan lima orang, terdiri dari perwakilan bidang pelayanan medik, tiga anggota komite PPRA, serta satu perwakilan komite PPI. Materi pelatihan dirancang secara komprehensif untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis dalam merespons wabah MDRO. Selama tiga hari, para peserta mengikuti sepuluh langkah penanganan wabah yang dipandu oleh narasumber nasional dan internasional. Di antaranya adalah Prof. dr. Anis Karuniawati, Sp.MK(K), Ph.D yang membawakan materi Strategi Nasional AMR, serta Dr. Takuya Yamagishi dari Institut Keamanan Kesehatan Jepang yang mengisi sesi identifikasi wabah dan penilaian risiko.

Hari pertama difokuskan pada pengenalan strategi nasional AMR, latar belakang situasional lokal, serta identifikasi wabah dan penilaian risiko. Hari kedua peserta dibimbing untuk membentuk tim manajemen wabah, menetapkan definisi kasus, melakukan pencarian kasus, membuat daftar garis dan kurva epidemi, hingga mengimplementasikan langkah-langkah pengendalian. Hari ketiga ditutup dengan sesi pengawasan AMR dalam konteks wabah, tinjauan investigasi lanjutan, dan perencanaan respons wabah berbasis fasilitas yang dipandu oleh Juan Paolo Tonolet, Petugas Teknis AMR dari WPRO/DHS/EMT.

Workshop ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas respons terhadap wabah AMR serta memperkuat keselamatan pasien secara berkelanjutan. Dengan pendekatan yang komprehensif—memadukan aspek klinis, finansial, dan edukasi—RSHS optimis dapat menjadi model bagi rumah sakit lain di Indonesia dalam pengelolaan resistensi antimikroba yang bertanggung jawab.

Workshop ini menjadi langkah strategis Kementerian Kesehatan dalam membangun jaringan tenaga pelatih yang kompeten di tujuh rumah sakit rujukan nasional. Dengan adanya ToT ini, diharapkan setiap rumah sakit memiliki tim yang siap siaga dalam menghadapi potensi wabah MDRO, sehingga keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan dapat terus ditingkatkan di tengah ancaman resistensi antimikroba yang semakin nyata. ***