Kemenkes Gelar ToT Penanggulangan MDRO di RSHS dengan Libatkan 7 Rumah Sakit Rujukan Nasional
Bandung – Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan menggelar Training of Trainers (ToT) Penanggulangan Outbreak Multidrug-Resistant Organisms (MDRO) di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, pada Rabu hingga Jumat, 26–28 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas rumah sakit dalam pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan wabah yang disebabkan oleh bakteri resisten terhadap berbagai jenis antibiotik.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung MCHC RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, ini secara resmi dibuka oleh Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, drg. Yuli Astuti Saripawan, M.Kes, didampingi oleh Direktur Medik RSHS, Dr. Iwan Abdul Rachman. Dalam sambutannya, drg. Yuli menyampaikan bahwa AMR telah ditetapkan WHO sebagai salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global terbesar. Ia menekankan bahwa peningkatan kasus infeksi MDRO di rumah sakit tidak hanya mengancam keselamatan pasien dan memperpanjang masa rawat, tetapi juga meningkatkan morbiditas, mortalitas, serta beban biaya pelayanan kesehatan yang signifikan.
“Penanganan wabah MDRO membutuhkan langkah terstruktur, respons cepat, dan kolaborasi interprofesional yang solid, mulai dari kewaspadaan awal, pencegahan dan pengendalian infeksi, tata kelola antimikroba, hingga deteksi laboratorium yang akurat,” ujar drg. Yuli dalam sambutannya.
Pelatihan ini menghadirkan peserta dari tujuh rumah sakit rujukan nasional, yaitu RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP Persahabatan, RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, RS Kanker Dharmais, RSJPD Harapan Kita, dan RSAB Harapan Kita. Setiap rumah sakit mengirimkan tim beranggotakan lima orang yang terdiri dari perwakilan bidang pelayanan medik, tiga anggota komite PPRA, serta satu perwakilan komite PPI.
Dalam presentasinya, Direktur Medik RSHS, Dr. Iwan Abdul Rachman, menyoroti pentingnya pengendalian penggunaan antibiotik di lingkungan rumah sakit. RSHS menerapkan audit Defined Daily Dose (DDD) sebagai indikator utama untuk mengevaluasi program pembatasan antibiotik. Metode ini memungkinkan tim medis mengukur rata-rata dosis harian antibiotik yang digunakan per pasien secara terukur dan berbasis data, sehingga kepatuhan terhadap pedoman terapi dapat dipantau secara ketat. Selain itu, RSHS juga menganalisis biaya antibiotik per pasien rawat inap untuk memastikan program AMS tidak hanya efektif secara klinis tetapi juga efisien secara finansial, menjamin keberlanjutan program tanpa mengorbankan kualitas pelayanan.
Materi pelatihan dirancang secara komprehensif untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis dalam merespons wabah MDRO. Selama tiga hari, para peserta mengikuti sepuluh langkah penanganan wabah yang dipandu oleh narasumber nasional dan internasional. Di antaranya adalah Prof. dr. Anis Karuniawati, Sp.MK(K), Ph.D yang membawakan materi Strategi Nasional AMR, serta Dr. Takuya Yamagishi dari Institut Keamanan Kesehatan Jepang yang mengisi sesi identifikasi wabah dan penilaian risiko. Turut hadir pula Dr. Takeshi Nishijima, Juan Paolo Tonolote, dan Hiroya Ogura sebagai fasilitator dari WHO yang mendampingi jalannya workshop.
Hari pertama difokuskan pada pengenalan strategi nasional AMR, latar belakang situasional lokal, serta identifikasi wabah dan penilaian risiko. Hari kedua peserta dibimbing untuk membentuk tim manajemen wabah, menetapkan definisi kasus, melakukan pencarian kasus, membuat daftar garis dan kurva epidemi, hingga mengimplementasikan langkah-langkah pengendalian. Hari ketiga ditutup dengan sesi pengawasan AMR dalam konteks wabah, tinjauan investigasi lanjutan, dan perencanaan respons wabah berbasis fasilitas yang dipandu oleh Juan Paolo Tonolote, Petugas Teknis AMR dari WPRO/DHS/EMT.
Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan menegaskan bahwa melalui kegiatan ini, setiap rumah sakit diharapkan mampu menghasilkan dokumen rencana respons wabah berbasis fasilitas yang aplikatif dan siap dioperasionalkan. “Bapak dan Ibu sekalian adalah para champion yang nantinya memegang peranan kunci dalam mengedukasi dan mengawal penerapan pencegahan serta penanganan wabah MDRO di faskes masing-masing,” tambahnya.
Workshop ini menjadi langkah strategis Kementerian Kesehatan dalam membangun jaringan tenaga pelatih yang kompeten di tujuh rumah sakit rujukan nasional. Dengan adanya ToT ini, diharapkan setiap rumah sakit memiliki tim yang siap siaga dalam menghadapi potensi wabah MDRO, sehingga keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan dapat terus ditingkatkan di tengah ancaman resistensi antimikroba yang semakin nyata. ***