Jumat, 28 Agustus 2026 14:07 WIB

RS M Djamil Dorong ICU Aman dari Infeksi dan Resistensi Antimikroba

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
31

Padang - RS M. Djamil terus memperkuat kualitas pelayanan pasien kritis melalui penyiapan Intensive Care Unit (ICU) baru di lantai 2 Gedung IGD, bersebelahan dengan Unit Kemoterapi. Fasilitas dengan kapasitas 12 tempat tidur, termasuk enam kubikel ICU, tersebut ditinjau langsung Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Pengendalian Resistensi Antimikroba (PRA), dan Farmasi dan Terapi (FT), Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc., Jumat, 28 Agustus 2026.

Peninjauan tidak hanya melihat kesiapan sarana dan prasarana, tetapi secara khusus memastikan penerapan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi serta pengendalian penggunaan antimikroba di lingkungan ICU. Kedua aspek tersebut menjadi perhatian penting karena pasien yang dirawat di ICU umumnya memiliki kondisi kritis dan rentan terhadap infeksi, sementara penggunaan antimikroba yang tidak tepat dapat berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antimikroba.

Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan kesiapan ICU harus dibangun dengan sistem pelayanan yang menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas, termasuk memastikan standar PPI dan PRA diterapkan secara konsisten.

“ICU bukan hanya tentang ketersediaan tempat tidur dan peralatan. Kita harus memastikan seluruh sistemnya siap, terutama pencegahan infeksi dan penggunaan antimikroba yang tepat. Pasien kritis sangat rentan, sehingga setiap proses pelayanan harus benar-benar memperhatikan keselamatan pasien,” ujar Dovy.

Menurutnya, pengendalian infeksi harus menjadi bagian dari budaya kerja seluruh tenaga kesehatan. Kepatuhan terhadap kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri sesuai indikasi, pengelolaan lingkungan, serta penerapan kewaspadaan standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi merupakan bagian penting dalam mencegah terjadinya infeksi terkait pelayanan kesehatan.

“Pencegahan infeksi harus dimulai dari hal-hal mendasar dan dilakukan secara konsisten. Kebersihan tangan, kepatuhan terhadap prosedur, dan disiplin dalam menjaga lingkungan pelayanan merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Di sisi lain, penguatan PRA menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas terapi antimikroba. Dovy menekankan bahwa penggunaan antibiotik harus dilakukan secara rasional, berdasarkan indikasi dan pertimbangan klinis, sehingga tidak terjadi penggunaan yang berlebihan maupun tidak tepat.

“Penggunaan antimikroba harus bijak. Kita ingin obat yang tersedia tetap efektif ketika benar-benar dibutuhkan. Karena itu, pengendalian resistensi antimikroba harus menjadi bagian dari sistem pelayanan, khususnya pada pasien kritis,” jelasnya.

Dovy menegaskan penguatan ICU harus berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien, bukan semata-mata peningkatan kapasitas tempat tidur. “Kita ingin ICU ini tidak hanya menambah kapasitas pelayanan, tetapi juga memperkuat kualitas. Pencegahan infeksi dan pengendalian resistensi antimikroba harus menjadi bagian dari budaya pelayanan sehari-hari,” tuturnya.

Melalui penyiapan ICU baru tersebut, tuturnya, RS M. Djamil terus memperkuat pelayanan pasien kritis dengan pendekatan yang terintegrasi. “Penguatan fasilitas berjalan seiring dengan penerapan PPI dan PRA sebagai bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien,’ tukas Dirut. ***