Jumat, 11 September 2026 16:13 WIB

RS M Djamil Edukasi Kesehatan Reproduksi Sepanjang Usia

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
20

Padang - RS M. Djamil terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan melalui kegiatan edukasi yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pada Jumat, 11 September 2026 RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Ibu dan Anak menggelar penyuluhan kesehatan dengan mengangkat tema Kesehatan Reproduksi Sepanjang Usia.

Kegiatan penyuluhan tersebut menghadirkan dr. Deo Cerlova Milano, Sp.OG, DMAS sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh dan tidak hanya berkaitan dengan kehamilan maupun proses persalinan.

Menurut dr. Deo, kesehatan reproduksi perlu dipahami sebagai kondisi yang mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan sistem serta fungsi reproduksi seseorang. Pemahaman yang baik tentang kesehatan reproduksi juga penting agar setiap individu mampu mengenali perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan mengetahui kapan kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Kesehatan reproduksi bukan hanya soal kehamilan, tetapi juga mencakup siklus haid, hormon, dan organ reproduksi. Mengenali perubahan tubuh membantu kita mencari pertolongan lebih dini ketika ada sesuatu yang berbeda dari kondisi biasanya,” ujar dr. Deo.

Ia menjelaskan, kesehatan reproduksi dapat dilihat dari tiga aspek yang saling berkaitan. Dari sisi fisik, kesehatan reproduksi ditandai dengan organ serta siklus tubuh yang dapat berfungsi dengan baik. Sementara dari aspek mental, kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan keseimbangan emosi dan kesejahteraan psikologis. Adapun dari aspek sosial, lingkungan dan hubungan yang mendukung turut berperan dalam menciptakan kondisi reproduksi yang sehat.

“Dengan demikian, kesehatan reproduksi tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan medis semata. Kesehatan reproduksi yang terjaga dapat memberikan dampak terhadap kualitas hidup seseorang, baik pada usia remaja, usia produktif, masa kehamilan, hingga memasuki periode perimenopause dan menopause,” sebutnya.

Dalam penyuluhan tersebut, dr. Deo juga mengajak peserta untuk lebih memahami pola menstruasi masing-masing. “Menstruasi tidak harus selalu tepat pada tanggal yang sama. Rentang siklus yang normal umumnya berada pada 21 sampai 35 hari, sedangkan lama haid hingga sekitar tujuh hari masih dapat berada dalam rentang normal. Sedikit variasi antarbulan juga masih bisa terjadi dan tidak selalu berarti ada masalah,” jelasnya.

Meski demikian, perubahan yang menetap, sangat berbeda dari pola biasanya, atau disertai keluhan tertentu perlu menjadi perhatian. Pemeriksaan medis dianjurkan apabila menstruasi berlangsung sangat banyak, lebih dari tujuh hari, muncul perdarahan di antara periode menstruasi, atau seseorang tidak mengalami menstruasi tanpa penyebab yang jelas.

Gangguan menstruasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena dapat menjadi tanda adanya gangguan hormonal maupun masalah pada organ reproduksi. Haid yang tidak teratur, misalnya, dapat ditandai dengan siklus yang terlalu pendek, terlalu panjang, atau tidak menentu.

Kondisi lain yang perlu diwaspadai adalah haid yang sangat banyak, termasuk ketika seseorang harus mengganti pembalut setiap satu hingga dua jam atau mengalami keluarnya gumpalan darah berukuran besar. Nyeri haid yang sangat berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari juga tidak seharusnya dianggap sebagai kondisi yang harus selalu ditahan.

“Nyeri haid yang sampai mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan. Jangan menganggap semua nyeri menstruasi sebagai sesuatu yang pasti normal, apalagi jika keluhan semakin berat atau terus berulang,” ungkap dr. Deo.

Selain itu, tidak mengalami menstruasi selama lebih dari tiga bulan, sementara tidak sedang hamil, juga menjadi kondisi yang perlu mendapatkan perhatian medis. Begitu pula dengan perdarahan yang terjadi di luar siklus menstruasi, termasuk perdarahan setelah berhubungan seksual.

Menurutnya, berbagai gangguan tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi pada sistem reproduksi. Dalam kesempatan itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai beberapa kondisi yang cukup sering ditemukan, di antaranya sindrom ovarium polikistik atau PCOS, endometriosis, mioma uteri, hingga berbagai kondisi yang berkaitan dengan keputihan.

PCOS merupakan salah satu gangguan hormonal yang dapat memengaruhi siklus menstruasi dan fungsi reproduksi. Sementara itu, endometriosis menjadi kondisi yang perlu diperhatikan terutama ketika seseorang mengalami nyeri haid yang berat dan berulang. Keluhan tersebut tidak semestinya selalu dianggap sebagai bagian normal dari menstruasi.

“Nyeri haid yang berat dan berulang tidak boleh diabaikan. Salah satu kondisi yang perlu dipertimbangkan adalah endometriosis, terutama apabila nyeri tersebut sampai mengganggu aktivitas dan kualitas hidup,” katanya.

Dalam penyuluhan tersebut, mioma uteri juga menjadi salah satu topik yang dibahas. Mioma merupakan tumor jinak yang dapat tumbuh pada atau sekitar rahim dan pada sebagian perempuan dapat menimbulkan keluhan seperti menstruasi yang lebih banyak, nyeri, maupun tekanan pada area panggul. Namun, tidak semua mioma menimbulkan gejala sehingga kondisi setiap individu dapat berbeda.

Selain gangguan menstruasi, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai keputihan. Tidak semua keputihan merupakan tanda penyakit. Kondisi normal dapat terjadi pada perempuan dan dapat berubah sesuai dengan siklus hormonal. Namun, keputihan yang disertai perubahan warna, bau yang menyengat, rasa gatal, nyeri, atau keluhan lainnya perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan apabila menetap.

“Keputihan perlu dilihat dari karakteristik dan keluhan yang menyertainya. Tidak semua keputihan berarti penyakit, tetapi apabila ada perubahan yang menetap, disertai bau, gatal, nyeri, atau keluhan lainnya, sebaiknya diperiksakan,” jelas dr. Deo.

Pembahasan kemudian berlanjut pada fase kehidupan perempuan ketika memasuki perimenopause dan menopause. Perubahan hormonal pada periode tersebut dapat menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh, termasuk perubahan pola menstruasi, munculnya keluhan tertentu, serta perubahan pada kondisi fisik dan psikologis.

Menurut dr. Deo, menopause bukanlah akhir dari perhatian terhadap kesehatan reproduksi. Justru pada fase tersebut, perempuan tetap perlu menjaga kesehatan secara menyeluruh dan memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh.

“Tujuan perawatan menopause bukan melawan usia, tetapi mempertahankan kualitas hidup. Memasuki menopause bukan berarti kita berhenti memperhatikan kesehatan. Justru kesehatan secara keseluruhan perlu tetap dijaga agar kualitas hidup tetap baik,” tuturnya.

dr. Deo menegaskan setiap perempuan memiliki pola tubuh yang tidak selalu sama. Hal terpenting adalah mengenali pola normal diri sendiri sehingga ketika terjadi perubahan yang menetap atau berbeda secara signifikan, kondisi tersebut dapat segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

“Yang penting bukan hanya mengetahui angka atau batas normal, tetapi mengenali pola tubuh sendiri. Ketika ada perubahan yang menetap atau berbeda dari biasanya, jangan ragu untuk mencari pertolongan medis,” tegasnya. ***