RS M Djamil Ikuti Persiapan Negosiasi Pinjaman Luar Negeri untuk TRUST Project
Jakarta - RS M. Djamil mematangkan langkah transformasi menjadi rumah sakit pendidikan rujukan modern melalui Teaching Hospital Referral Upgrading and System Transformation (TRUST) Project. RS M. Djamil yang diwakili Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, dan Direktur Layanan Operasional drg. Ade Palupi Muchtar, MARS, mengikuti diskusi teknis persiapan negosiasi pinjaman luar negeri, Senin, 26 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di RR Agreement I, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Gedung Frans Seda, Kementerian Keuangan RI, Jakarta, tersebut merupakan bagian dari tahapan persiapan pelaksanaan TRUST Project. Program ini direncanakan untuk mendukung pembangunan dan pengembangan rumah sakit pendidikan rujukan di lingkungan Kementerian Kesehatan.
Diskusi teknis ini menjadi forum koordinasi untuk memastikan kesiapan berbagai aspek pelaksanaan proyek, mulai dari perencanaan, pembiayaan, pengadaan, hingga mekanisme implementasi. Persiapan tersebut diperlukan agar proses negosiasi pinjaman luar negeri dengan Kementerian Keuangan dapat berjalan optimal serta rencana pengembangan rumah sakit memiliki landasan yang terukur dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan, dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes, bersama jajaran terkait dan pimpinan tujuh rumah sakit Kementerian Kesehatan lainnya yang menjadi bagian dari TRUST Project.
Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan TRUST Project merupakan peluang strategis untuk memperkuat peran RS M. Djamil sebagai rumah sakit rujukan sekaligus rumah sakit pendidikan. Pengembangan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas fisik dan ketersediaan fasilitas medis, tetapi juga diarahkan untuk membangun sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, modern, dan efisien.
“TRUST Project merupakan langkah strategis untuk mendorong transformasi RS M. Djamil menjadi rumah sakit pendidikan rujukan yang semakin modern, terintegrasi, dan berdaya saing. Kami mempersiapkan pengembangan ini secara komprehensif, tidak hanya dari sisi pembangunan gedung dan penambahan fasilitas, tetapi juga dari sisi tata kelola, sistem pelayanan, serta integrasi antara pelayanan kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.
RS M. Djamil merupakan salah satu dari delapan rumah sakit Kementerian Kesehatan yang masuk dalam pengembangan melalui TRUST Project. “Program ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas rumah sakit pendidikan rujukan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas sekaligus mendukung peningkatan mutu pendidikan dan pelatihan tenaga medis,” tuturnya.
Pada tahap awal, pengembangan RS M. Djamil akan difokuskan pada pembangunan Central Medical Unit (CMU) setinggi delapan lantai yang dirancang menjadi pusat layanan utama rumah sakit. Gedung ini akan mengintegrasikan berbagai layanan penting dalam satu sistem pelayanan yang lebih terkoordinasi sehingga mendukung efektivitas alur pasien, mempercepat penanganan medis, serta meningkatkan kesinambungan pelayanan antarunit.
“CMU ini dirancang sebagai jantung pelayanan rumah sakit ke depan. Di dalamnya akan terintegrasi berbagai layanan penting dalam satu sistem yang lebih efisien dan modern, sehingga pelayanan menjadi lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi,” paparnya.
Salah satu keunggulan yang direncanakan dalam pengembangan CMU adalah keberadaan Instalasi Gawat Darurat (IGD) terpadu. Fasilitas ini diharapkan mendukung penanganan pasien dengan kondisi kegawatdaruratan secara lebih cepat melalui sistem pelayanan yang terintegrasi. Keberadaan IGD terpadu juga menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan rumah sakit menghadapi kasus-kasus kritis yang membutuhkan koordinasi lintas disiplin dan dukungan fasilitas medis yang memadai.
“IGD terpadu ini akan mampu menangani berbagai kasus kritis dengan respons yang lebih cepat dan sistem yang terintegrasi. Selain itu, kami juga merencanakan pembangunan 30 kamar operasi modern yang dilengkapi teknologi terkini untuk meningkatkan kapasitas layanan tindakan medis secara signifikan,” jelasnya.
Pembangunan 30 kamar operasi modern tersebut diharapkan memperkuat kemampuan RS M. Djamil dalam menangani berbagai tindakan bedah, baik untuk kasus terencana maupun kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Dukungan teknologi medis terkini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketepatan tindakan, keselamatan pasien, serta efektivitas proses pelayanan sebelum, selama, dan setelah operasi.
Selain layanan kegawatdaruratan dan kamar operasi, pengembangan fasilitas perawatan intensif turut menjadi perhatian utama. RS M. Djamil merencanakan penguatan layanan Intensive Care Unit (ICU), Neonatal Intensive Care Unit (NICU), dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Ketiga layanan tersebut memiliki peran penting dalam memberikan penanganan intensif bagi pasien dewasa, bayi baru lahir, dan anak-anak yang membutuhkan pemantauan serta dukungan medis secara berkelanjutan.
“Kami akan memperkuat layanan ICU, NICU, dan PICU, mengingat kebutuhan terhadap layanan intensif terus meningkat, terutama bagi pasien dengan kondisi kritis, termasuk bayi dan anak. Dengan fasilitas ini, kami ingin memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik sesuai standar medis,” ujarnya.
Penguatan layanan intensif tersebut diharapkan meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam menangani pasien dengan kondisi kompleks yang membutuhkan dukungan tenaga kesehatan multidisiplin, peralatan medis khusus, serta pemantauan berkelanjutan. “Dengan demikian, peningkatan kapasitas fasilitas tidak hanya berdampak pada kemampuan rumah sakit menerima pasien, tetapi juga mendukung kualitas dan kesinambungan penanganan medis,” sebutnya.
Pengembangan CMU juga dirancang dengan memperhatikan fungsi RS M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan penyelenggara pendidikan profesi. “Di gedung CMU tersebut juga akan tersedia fasilitas pembelajaran yang lengkap untuk mendukung peran RS M. Djamil sebagai RSPPU. Kami ingin memastikan integrasi antara pelayanan dan pendidikan berjalan optimal, sehingga mampu mencetak tenaga medis yang unggul sekaligus memberikan layanan kesehatan berkualitas tinggi bagi masyarakat,” tukasnya.
Menurutnya, pengembangan rumah sakit pendidikan harus mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat dan membangun ekosistem pendidikan tenaga medis yang berkualitas. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, proses pembelajaran klinis diharapkan semakin berkembang, sementara masyarakat memperoleh manfaat dari pelayanan yang didukung kompetensi tenaga kesehatan dan teknologi medis yang terus diperbarui.
Selain pembangunan CMU, pengembangan RS M. Djamil melalui TRUST Project juga mencakup rencana pembangunan gedung Non-JKN. “Rencana ini menjadi bagian dari pengembangan fasilitas rumah sakit untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan yang lebih terstruktur sesuai kebutuhan. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan melengkapi transformasi infrastruktur rumah sakit secara bertahap, sejalan dengan arah pengembangan pelayanan dan pendidikan,” sebut Dirut.
Seluruh rencana pengembangan tersebut membutuhkan persiapan yang matang, baik dari aspek teknis maupun tata kelola. “Karena itu, diskusi teknis persiapan negosiasi pinjaman luar negeri menjadi tahapan penting untuk menyelaraskan kebutuhan pengembangan rumah sakit dengan perencanaan pembiayaan, mekanisme pengadaan, serta kesiapan pelaksanaan proyek. Koordinasi antara rumah sakit dan kementerian terkait diperlukan agar setiap tahapan berjalan sesuai rencana dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan,” harapnya. ***