Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Rabu, 28 Oktober 2026 16:47 WIB

RS M Djamil dan FKG UI Kolaborasi dalam Sharing Session dan Proctorship Tindakan Bedah Mulut

RS M Djamil dan FKG UI Kolaborasi dalam Sharing Session dan Proctorship Tindakan Bedah Mulut
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 17 kali dilihat

Padang - RS M. Djamil terus memperkuat kolaborasi dengan institusi pendidikan dan tenaga ahli untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan rujukan, khususnya dalam penanganan kasus kompleks yang membutuhkan keahlian multidisiplin. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan Tim Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), Prof. Norifumi Nakamura, DDS, Ph.D., dan Dr. drg. Yudy Ardilla Utomo, Sp.BMMF, SubSp.IDM(K), ke RS M. Djamil pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kunjungan ini menjadi momentum penguatan kolaborasi klinis melalui sharing session sekaligus proctorship pelaksanaan tindakan operasi kompleks berupa gnatoplasty dan alveolar bone graft dengan pengambilan autograft dari iliac crest.

“Sebagai rumah sakit rujukan utama dan rumah sakit pendidikan di wilayah Sumatera Bagian Tengah, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kemampuan klinis dalam menangani berbagai kasus kompleks. Kolaborasi dengan para ahli dan institusi pendidikan seperti FKG Universitas Indonesia menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia sekaligus mengembangkan layanan unggulan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Direktur Medik dan Keperawatan RS M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL(K) saat memberikan sambutan di Ruang Rapat Direksi.

Ia menjelaskan, pengembangan layanan kesehatan rujukan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas dan teknologi medis, tetapi juga harus didukung oleh kompetensi tenaga kesehatan, penerapan standar klinis yang tepat, serta kolaborasi lintas disiplin yang berjalan secara optimal. “Karena itu, kegiatan sharing session dan proctorship menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran klinis sekaligus upaya meningkatkan kapasitas rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ucap Bestari.

Menurutnya, penanganan kasus celah bibir dan langit-langit atau cleft lip and palate merupakan salah satu bidang pelayanan yang membutuhkan pendekatan komprehensif. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi bicara, proses mengunyah, pertumbuhan rahang, susunan gigi, estetika dentofasial, serta perkembangan psikososial anak.

“Kasus celah bibir dan langit-langit bukan sekadar persoalan estetika. Kondisi ini merupakan masalah klinis yang kompleks dan memerlukan penanganan terpadu sejak tahap awal hingga proses rekonstruksi dan rehabilitasi. Kita harus memastikan bahwa pasien tidak hanya mendapatkan perbaikan dari sisi anatomi, tetapi juga memperoleh manfaat fungsional yang optimal sehingga dapat mendukung kualitas hidup dan tumbuh kembangnya di masa depan,” jelasnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim klinis RS M. Djamil mendapatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan melalui proctorship pada tindakan gnatoplasty dan alveolar bone graft dengan harvesting autograft dari iliac crest. Gnatoplasty merupakan tindakan bedah untuk memperbaiki kelainan atau posisi rahang tertentu, sedangkan alveolar bone graft merupakan prosedur pencangkokan tulang pada area alveolar, terutama untuk mendukung rekonstruksi pada pasien dengan celah alveolar. Pada prosedur yang direncanakan, jaringan tulang autologus diambil dari krista iliaka atau bagian tulang panggul pasien untuk digunakan pada area rekonstruksi sesuai indikasi klinis.

Kedua prosedur tersebut memerlukan perencanaan yang matang, pemahaman anatomi yang mendalam, ketepatan teknik pembedahan, serta koordinasi yang baik di antara seluruh anggota tim. Selain mempertimbangkan aspek rekonstruksi anatomi, tim medis juga perlu memperhatikan fungsi rongga mulut, dukungan terhadap pertumbuhan dentofasial, serta potensi risiko dan komplikasi selama maupun setelah tindakan.

Kehadiran Prof. Norifumi Nakamura bersama Tim Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UI diharapkan menjadi sarana transfer pengetahuan dan keterampilan bagi tenaga medis RS M. Djamil. “Melalui proctorship, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung dalam diskusi ilmiah, tetapi juga melalui pendampingan profesional yang memungkinkan tim klinis memperdalam pemahaman tentang prinsip, tahapan, pertimbangan teknis, dan evaluasi tindakan bedah kompleks,” sebutnya.

Bestari menegaskan, keberhasilan penanganan kasus rekonstruksi dentofasial membutuhkan sinergi yang kuat antara berbagai disiplin ilmu. Dalam pelaksanaannya, koordinasi antara Bedah Mulut dan Maksilofasial, Bedah Plastik Rekonstruksi, Telinga Hidung Tenggorok (THT), Anestesiologi, serta tim keperawatan perioperatif di Instalasi Bedah Sentral menjadi faktor penting untuk mendukung keselamatan pasien dan keberhasilan tindakan.

“Operasi dengan tingkat kompleksitas seperti ini tidak dapat bertumpu pada kemampuan satu disiplin ilmu saja. Diperlukan kerja sama yang solid, komunikasi yang efektif, dan pemahaman bersama terhadap rencana tata laksana pasien. Melalui kolaborasi multidisiplin, setiap tahapan pelayanan dapat dipersiapkan secara lebih komprehensif, mulai dari evaluasi sebelum operasi, pelaksanaan tindakan, hingga pemantauan dan perawatan pascaoperasi,” tuturnya.

Ia berharap, momentum kolaborasi ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh tim klinis RS M. Djamil untuk menyerap pengetahuan dan keterampilan dari para ahli, memperkuat koordinasi antarunit pelayanan, serta meningkatkan kesiapan dalam menangani kasus rekonstruksi dentofasial yang kompleks. “Penguatan kapasitas tersebut juga diharapkan mendorong penerapan praktik klinis yang sesuai dengan standar pelayanan dan prinsip keselamatan pasien,” ucapnya.

Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya RS M. Djamil dalam membangun layanan kesehatan rujukan yang berkelanjutan. Transfer pengetahuan dan keterampilan melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan dan tenaga ahli diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi proses peningkatan kompetensi yang berkesinambungan. Dengan demikian, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengembangan layanan klinis di rumah sakit.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kemampuan tim klinis RS M. Djamil, sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan pelayanan rekonstruksi dentofasial tingkat lanjut secara berkelanjutan. Tujuan akhirnya adalah agar masyarakat Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya dapat memperoleh akses terhadap pelayanan yang semakin lengkap, berkualitas, dan aman, tanpa harus selalu dirujuk ke luar daerah apabila tindakan tersebut dapat dilakukan di RS M. Djamil sesuai indikasi dan kesiapan klinis,” tukasnya. ***