RS M Djamil Edukasi Diet Geriatri untuk Menjaga Kesehatan Lansia
Padang - RS M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan melalui edukasi kesehatan. Pada Jumat, 6 November 2026, RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Gizi mengadakan kegiatan edukasi kesehatan di Poliklinik Penyakit Dalam Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil.
Kegiatan edukasi kali ini mengangkat tema diet geriatri atau pengaturan pola makan yang tepat bagi lanjut usia (lansia). Edukasi tersebut menghadirkan tiga narasumber dari Instalasi Gizi, yakni Suci Utari, S.Gz., Astika Citra Utami, S.Tr.Gz., dan Desrihari, SST, RD. Ketiganya memberikan pemahaman kepada pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit mengenai perubahan kondisi tubuh pada lansia, kebutuhan gizi, hingga cara menyajikan makanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan lansia.
Dalam pemaparannya, Suci Utari, S.Gz. menjelaskan geriatri merupakan bidang ilmu yang mempelajari berbagai penyakit kronis yang berkaitan dengan proses penuaan, termasuk penegakan diagnosis dan pengobatannya. Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia akan mengalami penurunan fungsi fisiologis serta perubahan pada berbagai organ. Kondisi tersebut turut memengaruhi kebutuhan gizi dan pola konsumsi makanan seseorang ketika memasuki usia lanjut.
“Menua merupakan proses alamiah yang akan dialami setiap orang. Seiring bertambahnya usia, terjadi berbagai perubahan pada tubuh, baik dari segi komposisi tubuh, fungsi organ, maupun kemampuan dalam menerima makanan. Oleh karena itu, kebutuhan gizi lansia perlu diperhatikan agar kesehatan dan kualitas hidupnya tetap terjaga,” jelas Suci.
Ia memaparkan sejumlah perubahan fisiologis yang umum terjadi pada lansia. Perubahan tersebut meliputi perubahan komposisi tubuh, penurunan kemampuan indera perasa dan penciuman, serta perubahan pada kondisi gigi dan mulut yang dapat memengaruhi nafsu makan maupun kemampuan mengunyah makanan. Selain itu, perubahan fungsi ginjal, sistem kardiovaskular, dan sistem neurologis juga perlu menjadi perhatian dalam pemenuhan kebutuhan gizi lansia.
Perubahan kondisi tubuh tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan apabila tidak diimbangi dengan pola hidup dan asupan gizi yang tepat. Salah satunya adalah risiko luka tekan atau dekubitus, terutama pada lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas atau lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Karena itu, pemenuhan nutrisi yang baik, perawatan tubuh, serta aktivitas fisik sesuai kemampuan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan lansia.
Suci juga mengajak masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dapat dimulai dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin minimal satu tahun sekali, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan tubuh, gigi, dan mulut. Lansia juga dianjurkan untuk membiasakan aktivitas fisik sesuai kemampuan, menjaga pola istirahat, dan memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan baik.
“Yang perlu dipahami adalah menua bukan berarti seseorang harus berhenti menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Justru pada masa lanjut usia, perhatian terhadap kesehatan harus semakin ditingkatkan, mulai dari pola makan, kebersihan diri, aktivitas fisik, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tambahnya.
Suci menjelaskan diet geriatri harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, status gizi, kebutuhan energi, serta kemampuan masing-masing individu. Kebutuhan energi lansia dengan indeks massa tubuh (IMT) kurang atau normal dapat dihitung berdasarkan berat badan aktual. Pada lansia sehat, kebutuhan energi berkisar 25–30 kkal per kilogram berat badan per hari. Sementara itu, pada lansia dengan kondisi stres metabolik, kebutuhan energi dapat berkisar 30–35 kkal per kilogram berat badan per hari. Adapun lansia dengan IMT lebih atau obesitas perlu menggunakan berat badan ideal sebagai dasar perhitungan kebutuhan energi.
Selain energi, kebutuhan protein juga menjadi komponen penting dalam diet geriatri. Pada lansia sehat, kebutuhan protein berkisar 1–1,2 gram per kilogram berat badan per hari. Bagi lansia yang berisiko mengalami malnutrisi, kebutuhan protein dapat meningkat menjadi 1,2–1,5 gram per kilogram berat badan per hari. Sementara itu, pada kondisi malnutrisi dan infeksi berat, kebutuhan protein dapat mencapai 2 gram per kilogram berat badan per hari sesuai penilaian dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Tidak hanya itu, pengaturan konsumsi garam, gula, dan lemak juga perlu diperhatikan agar tidak berlebihan. Kebutuhan cairan lansia secara umum berkisar 25–30 mililiter per kilogram berat badan per hari, sedangkan kebutuhan serat dianjurkan sekitar 25 gram per hari. Pemenuhan kebutuhan tersebut perlu disesuaikan kembali dengan kondisi kesehatan, fungsi organ, serta anjuran tenaga medis dan ahli gizi.
Dalam rekomendasi gizi seimbang bagi lansia, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga keseimbangan asupan energi guna mencapai dan mempertahankan berat badan normal. Konsumsi gula, karbohidrat sederhana termasuk makanan berbahan tepung-tepungan, garam, serta lemak jenuh perlu dibatasi. Sebaliknya, lansia dianjurkan mengonsumsi makanan sumber kalsium dan vitamin D, seperti ikan dan susu. Paparan sinar matahari yang cukup juga dapat membantu proses pembentukan vitamin D dalam tubuh.
Lansia juga perlu mengonsumsi beragam jenis sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan susu sebagai sumber berbagai vitamin dan mineral. Kebutuhan gizi sebaiknya dipenuhi melalui konsumsi makanan sehari-hari yang beragam dan bergizi seimbang. Apabila diperlukan, makanan fortifikasi maupun suplemen dapat menjadi tambahan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Pemenuhan kebutuhan cairan juga tidak boleh diabaikan. Lansia dianjurkan mengonsumsi air putih sekitar 1.500–1.600 mililiter atau kurang lebih enam gelas sehari, maupun menyesuaikannya dengan kebutuhan 25–30 mililiter per kilogram berat badan. Namun, bagi lansia dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan fungsi ginjal atau jantung, jumlah cairan yang dikonsumsi harus mengikuti anjuran dokter.
Selain memperhatikan kandungan gizi, penerapan prinsip keamanan pangan juga menjadi hal penting. Makanan yang dikonsumsi lansia harus dipersiapkan secara higienis melalui kebiasaan membersihkan bahan dan peralatan makanan, memisahkan bahan mentah dengan makanan matang, memasak hingga matang, serta menyimpan makanan pada suhu yang tepat. Konsumsi makanan berserat dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik secara rutin juga perlu diterapkan untuk mendukung kesehatan pencernaan dan menjaga kebugaran tubuh.
Dalam kesempatan tersebut, Ia juga memberikan edukasi mengenai cara menyajikan makanan yang tepat bagi lansia. Salah satu prinsip yang dianjurkan adalah memberikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Cara ini dapat membantu lansia yang mengalami penurunan nafsu makan atau kesulitan menghabiskan makanan dalam porsi besar.
Kandungan gizi makanan juga dapat diperkaya dengan menambahkan bahan pangan bernutrisi, seperti telur, susu, atau sedikit minyak sesuai kebutuhan. Tekstur makanan perlu disesuaikan dengan kemampuan mengunyah dan menelan serta daya terima lansia. Apabila lansia mengalami gangguan mengunyah atau menelan, penyesuaian tekstur makanan perlu dilakukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah membiasakan lansia makan bersama keluarga. Suasana makan yang menyenangkan dan dukungan dari anggota keluarga dapat membantu meningkatkan selera makan serta memberikan kenyamanan secara psikologis. “Keluarga juga diingatkan agar tidak menerapkan pantangan makanan secara berlebihan tanpa alasan medis yang jelas, karena hal tersebut berpotensi membatasi asupan zat gizi yang dibutuhkan tubuh,” tukasnya. ***