Cegah Risiko Patah Tulang pada Lansia RSO Soeharso Ajak Keluarga Kenali Osteoporosis Sejak Dini
Sukoharjo - RSO Soeharso Surakarta melalui Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) menyelenggarakan edukasi kesehatan bertajuk “Edukasi Serentak 69 Aksi untuk Indonesia” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-69 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 6 November 2026, pukul 09.00 WIB, di ruang tunggu rawat inap RSO Soeharso Surakarta, dengan sasaran keluarga pasien rawat inap. Mengangkat tema “Osteoporosis pada Lansia: Kenali, Cegah, Lindungi Tulang Anda”, edukasi menghadirkan dr. Niluh Tantri F., Sp.PD., Subsp. (K) Ger., FINASIM sebagai narasumber dan Irfiana Dramayanti, S.Kep., Ns., MPH. sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa osteoporosis merupakan kondisi penurunan kepadatan dan kekuatan tulang yang membuat tulang rapuh dan mudah patah. Penyakit ini dikenal sebagai silent disease karena sering tidak menunjukkan gejala hingga terjadi patah tulang. Faktor risikonya meliputi usia lanjut, menopause, kurang asupan kalsium dan vitamin D, kurang aktivitas fisik, serta penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai tanda-tanda yang perlu diwaspadai, seperti penurunan tinggi badan, postur tubuh membungkuk, nyeri punggung, dan patah tulang akibat benturan ringan. Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan kepadatan tulang (Bone Mineral Density/BMD) dan kadar vitamin D yang tersedia di RSO Soeharso Surakarta.
Upaya pencegahan osteoporosis dilakukan melalui pemenuhan kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik teratur, serta pencegahan risiko jatuh. Sejalan dengan semangat “69 Aksi untuk Indonesia”, RSO Soeharso Surakarta mengajak masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia dan individu berisiko, untuk tidak menunggu hingga terjadi patah tulang, tetapi melakukan pemeriksaan kepadatan tulang (BMD), kadar vitamin D, serta konsultasi dengan dokter sebagai langkah deteksi dini dan penanganan yang tepat. Melalui edukasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat dan keterlibatan keluarga semakin meningkat dalam menjaga kesehatan tulang, kemandirian, dan kualitas hidup lansia. ***