Kamis, 06 Agustus 2026 09:53 WIB

Memahami HIV dari Cara Penularan hingga Pengobatan Jangka Panjang

Responsive image
15
Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV dapat menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh. Ketika jumlah sel CD4 semakin berkurang, daya tahan tubuh akan melemah sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.

HIV dan AIDS merupakan dua kondisi yang berbeda. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan sekumpulan kondisi atau gejala yang dapat terjadi ketika infeksi HIV telah menyebabkan sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan yang berat. Apabila infeksi HIV tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, virus dapat terus berkembang dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh hingga mencapai kondisi AIDS.

HIV merupakan penyakit jangka panjang yang hingga saat ini belum dapat dihilangkan sepenuhnya dari tubuh. Namun, perkembangan virus dapat dikendalikan dengan terapi Antiretroviral (ARV). Pengobatan ARV dapat membantu menurunkan jumlah virus HIV dalam tubuh dan menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap berfungsi. Dengan menjalani pengobatan secara rutin dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, orang dengan HIV dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.

Bagaimana Cara Penularan HIV?

HIV dapat menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu dari orang yang telah terinfeksi. Cairan tubuh yang dapat menjadi media penularan HIV antara lain darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI. Penularan HIV dapat terjadi melalui :

1.      Hubungan seksual yang tidak aman.

2.      Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi dan digunakan secara bersama-sama.

3.      Penggunaan alat yang tidak steril dan terkontaminasi darah, seperti alat tato atau alat tertentu lainnya.

4.      Transfusi darah yang mengandung virus HIV dan tidak melalui proses skrining yang sesuai.

5.      Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi selama kehamilan, proses persalinan, atau menyusui.

Risiko penularan dapat berbeda-beda tergantung pada kondisi dan jenis paparan. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pemeriksaan HIV perlu dilakukan terutama pada orang yang memiliki faktor risiko.

HIV Tidak Menular Melalui

Masih banyak anggapan yang keliru mengenai cara penularan HIV. HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari dan kontak sosial biasa. HIV tidak menular melalui :

  1. Berjabat tangan atau bersentuhan.
  2. Berpelukan
  3. Makan menggunakan piring atau alat makan bersama.
  4. Berbagi makanan dan minuman.
  5. Menggunakan toilet bersama.

Dengan demikian, orang dengan HIV tidak perlu dijauhi atau dikucilkan. Interaksi sosial sehari-hari dengan orang yang hidup dengan HIV tidak menyebabkan seseorang tertular HIV.

Tanda dan Gejala HIV

Infeksi HIV pada tahap awal dapat tidak menimbulkan gejala yang khas. Seseorang yang telah terinfeksi dapat terlihat sehat dan tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Oleh karena itu, penampilan fisik seseorang tidak dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Pada beberapa orang, tanda dan gejala yang dapat muncul antara lain :

1.   Demam yang berlangsung lama.

2.   Diare kronis atau diare yang berlangsung terus-menerus.

3.   Penurunan berat badan.

4.   Batuk yang berlangsung lama.

5.   Sariawan atau infeksi pada mulut dan tenggorokan yang sulit sembuh.

Gejala-gejala tersebut tidak secara khusus menunjukkan bahwa seseorang pasti terinfeksi HIV karena dapat ditemukan pada berbagai penyakit lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan HIV diperlukan untuk mengetahui status HIV seseorang secara pasti.

Pengobatan HIV dengan Terapi ARV

HIV merupakan infeksi jangka panjang yang dapat dikelola dengan terapi Antiretroviral atau ARV. Obat ARV bekerja dengan menghambat perkembangan virus HIV di dalam tubuh. Pengobatan ARV memiliki tujuan penting, antara lain :

  1. Mengurangi jumlah virus HIV dalam tubuh.
  2. Membantu menjaga sistem kekebalan tubuh.
  3. Mengurangi perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS.
  4. Mengurangi risiko munculnya komplikasi akibat penurunan daya tahan tubuh.
  5. Membantu meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV.
  6. Mengurangi risiko penularan HIV.

Terapi ARV perlu dilakukan secara rutin sesuai dengan petunjuk dokter. Pengobatan HIV merupakan pengobatan jangka panjang dan pada umumnya perlu dijalani seumur hidup.

Bagaimana Cara Mencegah HIV?

Upaya pencegahan HIV dapat dilakukan dengan menghindari perilaku yang berisiko menularkan HIV dan melakukan pemeriksaan apabila memiliki risiko terpapar. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain :

  1. Menghindari hubungan seksual yang berisiko.
  2. Menggunakan kondom secara benar untuk mengurangi risiko penularan HIV.
  3. Tidak menggunakan jarum suntik secara bersama-sama.
  4. Menggunakan alat tato dan alat lainnya yang steril.
  5. Melakukan pemeriksaan HIV apabila memiliki faktor risiko.
  6. Ibu hamil melakukan pemeriksaan HIV untuk mendeteksi infeksi sedini mungkin.
  7. Mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak.
  8. Bagi orang yang telah terdiagnosis HIV, menjalani terapi ARV secara rutin sesuai anjuran dokter.

 

Referensi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

World Health Organization (WHO). 2025. HIV and AIDS. Digunakan sebagai Referensi Tambahan Mengenai Pengertian HIV/AIDS, Penularan, Pengobatan, dan Pencegahan HIV.